anton sanjoyo

anton sanjoyo

Tim nasional sepak bola Indonesia akhirnya harus menerima kenyataan pahit, untuk pertama kalinya sejak 1996, absen di kontes Piala Asia. Kegagalan pasukan ”Merah Putih” sudah bisa ditebak sejak lama. Sejak PSSI tak pernah serius meningkatkan mutu kompetisi, mengabaikan pembinaan usia muda, dan menjadikan tim nasional, baik yunior U-19 dan U-23 maupun senior, sekadar crash program, bukan patokan sebuah proses pembinaan yang berkelanjutan.

Kegagalan tim nasional (timnas) Indonesia ke Piala Asia 2011 jelas tanggung jawab PSSI meski organisasi olahraga paling tua, tetapi paling tidak berprestasi, itu selalu berusaha mengelak. Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes bahkan melempar tanggung jawab dengan mengatakan, kegagalan itu tanggung jawab pelatih dan pemain. Nugraha juga menuding sumber daya pemain serta fasilitas yang minim sebagai penyebab kegagalan. Sementara pengurus PSSI yang lain membisu seribu bahasa atas jebloknya prestasi timnas.

Memang, sulit mengharapkan timnas berprestasi dengan persiapan yang minim. Dan, ini, harap dicatat, adalah tanggung jawab PSSI. Coba simak. Uji coba dengan tim-tim yang sekelas atau dua kelas lebih baik praktis tidak ada sehingga level permainan Ponaryo Astaman dan kawan-kawan tak pernah berkembang. Level permainan Ponaryo cs bahkan cenderung terus menukik setelah mereka tampil cukup memukau di Piala Asia 2007.

Pelatih timnas Benny Dollo, meski bukan pelatih terbaik di negeri ini, bukan pelatih yang buruk. Namun, karena tak pernah diberi keleluasaan finansial untuk memantau pemain-pemain terbaik ke pelosok negeri, pengamatannya menjadi amat terbatas. Ditambah gaji yang sering terlambat, konsentrasi pria bertubuh subur ini pasti terganggu. Ditambah lagi, kinerja pemain seangkatan Ponaryo di timnas memang sudah sulit ditingkatkan meski Benny diberi kondisi paling mendekati sempurna sekalipun.

Secara umum, penampilan puncak generasi Ponaryo terjadi pada Piala Asia 2007 saat ditangani Ivan Kolev meski saat itu pun grafiknya sudah menurun sejak tampil di Piala Tiger 2004 saat dilatih Peter Withe. Maka, saat Benny Dollo tetap mengandalkan Ponaryo, Bambang Pamungkas, Maman Abdurachman, Ismed Sofyan, atau Syamsul Bachri sebagai pilar, tentu ada yang salah dari pembinaan PSSI. Ini karena kompetisi yang dibangun PSSI tak mampu melahirkan pemain muda potensial. Jangankan menjadi pilar pengganti, menjadi pelapis saja belum mumpuni.

Sejak menjabat Ketua Umum PSSI tahun 2003, Nurdin Halid praktis cuma melahirkan retorika tentang pembinaan pemain usia muda. Justru di tingkat pembinaan yang paling kritis dan perlu perhatian paling serius ini, PSSI cenderung abai dan tidak pernah sungguh-sungguh menggulirkan kompetisi untuk mendapatkan sumber pemain yang matang secara alami. Maka, saat Sekjen PSSI berkeluh kesah timnas senior tak punya cukup sumber daya pemain muda, pernyataan itu jelas sebuah ironi. Bagaimana mungkin PSSI justru mengeluhkan kinerjanya sendiri? Menuding ranah tugas dan tanggung jawabnya sendiri? Absurd!

Rahim Soekasah, Ketua Badan Tim Nasional PSSI, pun tak mau kalah dalam soal mencari kambing hitam. Seperti dikutip Detik.com, Rahim menunjuk format satu wilayah Liga Super Indonesia sebagai penyebab jebloknya prestasi timnas. Bukannya introspeksi diri terutama soal minimnya kompetisi yunior dan kegagalan proyek instan berlatih ke luar negeri, Rahim menunjuk hidung sebuah sistem yang seharusnya ideal. Ini juga sama absurdnya dengan pernyataan Nugraha.

Alih-alih berkeringat dan bekerja keras membangun kompetisi yunior, PSSI lebih suka mengambil jalan pintas: mengirim sekelompok pemain muda berlatih ke luar negeri. Entah mengapa, proyek instan yang selalu gagal ini terus-menerus diulang dan diulang lagi. Kita ingat awal dekade 1990-an, PSSI juga mengirim tim Primavera dan Baretti ke Italia yang hasilnya praktis nol besar. PSSI memang tak pernah belajar dari kesalahan masa lalunya dan kembali mengirim pemain-pemain muda ke Uruguay. Kita tahu sendiri hasilnya, gagal total di SEA Games lalu, bahkan kalah pula dari Laos, negara yang ”anak bawang” saja belum

Maka, daripada terus bermanis mulut soal pembinaan usia muda, Nurdin dan kawan-kawan ada baiknya mulai bekerja serius meningkatkan mutu kompetisi, membangun fondasi kompetisi yunior, dan melupakan proyek-proyek mercusuar semacam bidding Piala Dunia 2022. Daripada bangsa ini semakin menjadi bahan tertawaan dalam pergaulan internasional karena melawan Laos pun kalah, tetapi berambisi menjadi tuan rumah Piala Dunia, lebih baik PSSI bebenah agar timnasnya tidak perlu lagi ”dibantu” penonton heroik seperti Hendri Mulyadi.

Siapa pun yang nanti menggantikan Benny Dollo, diharapkan seorang pelatih yang punya pengetahuan sangat baik terhadap karakter pemain-pemain Indonesia, terutama pemain mudanya. Mendatangkan pelatih sekaliber Jose Mourinho atau Pep Guardiola sekalipun tak akan berguna karena mereka tidak paham karakter pemain Indonesia. Pelatih seperti Rahmad Darmawan atau Jacksen Tiago jauh lebih baik mengarsiteki timnas karena paham betul karakter pemain sehingga bakal lebih mampu mengoptimalkan kemampuan mereka.

Siapa pun yang nanti menggantikan Benny Dollo juga harus diberi kebebasan penuh menakhodai timnas. Ia harus bebas dari intervensi pengurus dan tentu saja diberi kemerdekaan finansial untuk memantau sebanyak mungkin pemain muda. Ia juga harus lebih banyak diberi kesempatan uji tanding dengan tim-tim kelas dunia agar level permainannya meningkat….
[ad#twitter]