Oleh Bambang Haryanto

Hanya bermimpi? “Cahaya itu telah musnah dari kehidupan kita,” demikian sebagian pidato radio Jawaharlal Nehru (1889–1964), 30 Januari 1948. Perdana Menteri India itu tampil di depan corong radio untuk mengumumkan kabar mengenai terbunuhnya Bapak India, Mahatma Gandhi. Lanjutnya, “kini yang ada adalah kegelapan di mana-mana.”

Itulah potongan buku dari karya Richard J. Walsh, Nehru on Gandhi (1948). Nehru sendiri adalah juga seorang pengarang buku. Karyanya yang berjudul Glimpses of World History ia tulis ketika harus mendekam beberapa kali di penjara. Totalnya selama 10 tahun, dari tahun 1921 sampai 1945, sebagai resiko sebagai pejuang kemerdekaan melawan kolonial Inggris.

Tokoh terkenal lain, seperti dipajang dalam The Book of Lists (1972), yang mampu menulis ketika berada di balik jeruji adalah novelis Spanyol, Miguel de Cervantes Saavedra (1547–1616). Ia melahirkan karya terkenalnya, Don Quixote.

Karl (Friederich) May (1842-1912), penulis Jerman, merampungkan novelnya tentang kepala suku Indian Winnetou dan kehidupan west frontier Amerika yang tidak pernah ia kunjungi, juga di penjara antara tahun 1865-1874. Adolf Hitler (1889–1945), diktator Jerman itu, merampungkan karya Mein Kampf, saat ia meringkuk di penjara benteng Landsberg tahun 1923.

Cerita-cerita itu mengingatkan ujaran dari Bung Hatta bahwa jeruji penjara tidak akan mampu membelenggu pengembaraan sesuatu ide atau pikiran seseorang. Bung Hatta yang waktu mudanya suka sepakbola, tergabung dalam klub sepak bola Young Fellow. Pemainnya terdiri anak-anak Belanda dan pribumi. Klub ini pernah menjadi juara Sumatera selama tiga tahun berturut-turut semasa Hatta menjadi anggotanya.Bung Hatta, yang dilahirkan tanggal 14 Agustus 1902 di desa Aur Tajungkang, kini jadi bagian pusat kota Bukit Tinggi, adalah gelandang tengah, sesekali dia menjadi bek, yang tangguh. Orang-orang Belanda memberinya julukan onpas seerbar, sukar diterobos begitu saja.

Kondisi di sebalik jeruji penjara sebagai wahana untuk berkontemplasi dan mengembarakan gagasan rupanya juga mengilhami salah satu tokoh PSSI kita masa kini. Ia dijebloskan sekitar 2,5 tahun di penjara karena melakukan korupsi, tetapi begitu keluar ia langsung mencanangkan cita-cita besar : Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Sosialisasi impian itu antara lain pernah berwujud banner di yang terpajang di pinggir stadion Senayan. Bertuliskan : http://www.wcindonesia2022.com.

Bagi awam, alamat situs seperti itu mudah memancing kesalahfahaman berskala internasional. Ketika saya cek di Oxford Reference Shelf (CD-ROM), huruf “wc” itu dimaknai sebagai : watch committee, water closet, water cock, without charge. Sedang huruf “WC” selain disebut sebagai nomor polisi di Inggris untuk kota Chelmsford, juga berarti war cabinet, war council, water closet.

Bagi kita yang awam, situs itu mudah dikonotasikan sedang memromosikan Indonesia sebagai water closet-nya Piala Dunia di tahun itu pula. Tempat kencing dan beraknya para pemain sepakbola kelas dunia ? Atau, bila saja Piala Dunia 2022 itu bisa berlangsung di Indonesia, maka boleh jadi prestasi tim sepakbola kita juga hanya sekelas derajat keberadaan fasilitas sekelas water closet juga.

Tanda-tanda ke arah itu, bukankah bau water closet tersebut, apalagi yang ada di gedung-gedung kantor pemerintah dan fasilitas umum di Indonesia, kini sedang kita nikmati aromanya bersama-sama ?

Di SEA Games Laos 2009, kita kalah dari tuan rumah. Lalu dicukur oleh Birma. Dalam penyisihan Piala Asia 2011, kita pun tersingkir. Bermain di kandang, Ponaryo Astaman dan kawan-kawan nampak ibarat pemain anak bawang yang kehilangan akal, hanya frustrasi, ketika benar-benar kesulitan merebut bola dari lawan sepanjang permainan.

Bahkan akhirnya, seorang suporter idiot menambah keruh konstelasi pertandingan. Ia nyerobot masuk lapangan,menggiring bola, tetapi juga tetap gagal menceploskan gawang ke kubu Oman. Media-media massa kita yang juga ketularan wabah idiot justru mengglorifikasikan ulah bodoh semacam itu sebagai perbuatan hero.Katanya, ulah itu sebagai koreksi bagi PSSI dalam pengelolaan sepakbola Indonesia.

Seribu suporter idiot semacam dia pun bukan solusi yang dibutuhkan untuk kebangkitan sepakbola Indonesia. Malahan, kuat kecurigaan bahwa ulah suporter bebal tersebut hanyalah trik, yang selama ini laku keras di Indonesia sejak era Orde Baru.

Ulah murahan darinya itu semata sebagai misdirection, pengalih isu, atas kegagalan Bambang Pamungkas, Boaz Solossa dan kawan-kawan itu. Plus, tentu saja, kegagalan besar Benny Dolo, Chandra Solekan, Andidarusalam Tabusala sampai Nurdin Halid pula.

Itu nampak dari fokus media massa kita yang mencaplok mentah-mentah aksi sebiji suporter yang berulah itu. Bila kita mendapat sanksi dari FIFA, maka kegagalan demi kegagalan dari Nurdin Halid dan rezimnya selama ini segera mampu tak terlihat menonjol di balik kabut ulah bebal suporter bersangkutan.

Demo ke KPK ! Suporter Indonesia, gunakan harta berharga titipan Tuhan yang demokratis itu, yang ada di antara kedua telinga Anda. Cari dan temukan solusi yang lebih cerdas bila Anda ingin secara serius dan tulus dalam memajukan dunia sepakbola Indonesia.

Saya ingin memberikan satu iuran gagasan : silakan beramai-ramai berdemo ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kuningan itu.

Desak agar Pak Bibit Samad Rianto, Pak Chandra Hamzah dan koleganya, untuk segera melakukan aksi penyadapan massal terhadap para pelaku industri sepakbola Indonesia. Termasuk para juru propagandanya yang suka menulis dan tampil di layar kaca dengan sering menghambur-hamburkan kata-kata hiperbola dalam memoles citra pertandingan sepakbola kita.

Lalu, tayangkan di televisi.
Dan terutama pada beragam media sosial di Internet.

Lalu desak pula Depkumham untuk membangun fasilitas penjara-penjara baru khusus untuk insan-insan pelaku industri sepakbola itu.

Dari hasil rekaman itu kita berpeluang mengetahui kebobrokan paling dalam dan paling masif dalam dunia sepakbola kita.

Walau saya yakin dan bercampur kuatir, wartawan sepakbola Indonesia tak akan ada yang mampu menuliskannya, siapa tahu momen dahsyat itu akan menggugah penulisan banyak buku.

Misalnya berjudul : Membongkar Gurita, Cephalopod, Nautilus, Oktopus Sampai Ubur-Ubur Bisnis Hitam dan Korupsi Tujuh Generasi di Tubuh Sepakbola Indonesia.

Siapa tahu pula, meminjam kembali kata-kata Nehru, saat itu cahaya yang telah lama musnah dari kehidupan sepakbola kita akan kembali. Suporter sepakbola Indonesia, never give up the dreams. Jangan berhenti bermimpi dalam ikut terus memajukan sepakbola Indonesia.

Wonogiri, 10 Januari 2010

[ad#twitter]