Yan Tuheryanto Paling kiri bersama yuli sumpil aremania, bapuk jakmania dan arif pasoepati

Yan Tuheryanto Paling kiri bersama yuli sumpil aremania, bapuk jakmania dan arif pasoepati

Berhasil Sambangi Kalimantan dan Sulawesi

Yan Tuheryanto kembali ke Bogor. Setelah meninggalkan Kota Hujan akhir Mei tahun lalu, Yan, panggilan akrabnya, meneruskan penjelajahannya keliling Indonesia sambil berjalan kaki. Tekadnya hanya satu, mendamaikan suporter Indonesia. Bagaimana pengalamannya selama mengunjungi ratusan kota di Kalimantan dan Sulawesi?

Setelah singgah di Bogor tahun lalu, Yan meneruskan perjalanan keliling Indonesia dengan mengunjungi Jakarta melalui Tangerang. Dengan berjalan kaki, Yan menerobos kawasan Parung, kemudian ke Serpong dan sampai di Ibukota untuk menyaksikan partai Persija vs Persib. “Masa Allah, pertandingan itu ricuh. Batu sempat mengenai Eka Ramdhani. Saya dengar bus Persib pecah dilempati The Jack,” katanya.

Merasa puas di Jakarta, Yan menyeberang ke Kalimantan. Balikpapan merupakan kota pertama yang ia tapaki di pulau terbesar di Indonesia itu. Ia menuturkan, medan jalan di Kalimantan sangat sulit dibandingkan pulau-pulau yang lainnya.”Kalau bertemu dengan hutan, saya takut juga kalau malam hari, akhirnya saya tidur di masjid setempat,” ujar bapak dari Margareta dan Yuliana.

Ia mengaku, suporter pulau seberang sangat ramah dalam menyambutnya. Bahkan ia memberi ancungan jempol untuk sikap suporter-suporter di sana. Ia menceritakan, saat Derby Kalimantan berlangsung antara PKT Bontang melawan Persiba, saat itu seluruh suporter Kalimantan Timur bersatu untuk mendukung PKT , diantaranya MIT Man,(mitra kukar), Pusam Mania(samanrinda) dan Mandau Mania(PKT). .”Bayangkan mas, tiga suporter bergabung dalam pertandingan itu. Jarang sekali itu terjadi di pulau Jawa,” jelasnya.

Tidak jauh berbeda saat dia mendarat di Pulau Sulawesi, suporter kawasan itu sangat kompak, jarang sekali adanya tawuran antar suporter. “Saat Persma Manado bertanding melawan Arema Malang, suporter dari Persibom Bola’an Mogondow, Persmin Minahasa bersatu dengan suporter tuan rumah, sangat meriah sekali saat itu,” kenangnya.

Sampai di Makasar, Yan bertemu dengan The Maks Man (supporter, PSM Makasar). ia sangat senang bisa bertemu dengan pionir suporter Indonesia timur itu. ”Maks Man salah satu suporter hebat di Indonesia, mereka yang pertama di Indonesia timur,” ungkapnya.

Yan sempat melewati beberapa kota rawan konflik di Sulawesi, termasuk Poso. Pria ini sempat keder ketika harus berjalan kaki di kawasan itu. Namun dengan semangatnya, dia terus berjalan meneruskan misinya itu.

Sebenarnya, Yan berniat singgah ke Papua untuk mengunjungi tiga tim di kawasan itu. Namun niat itu terpaksa ditunda karena kondisi alam tidak memungkinkan. “Ombaknya sedang tinggi, kapalnya tidak bisa berangkat,” tandasnya.

demo revolusi PSSI

demo revolusi PSSI

Andalkan Gula Merah, Berencana Kunjungi Papua

Setelah kembali ke Pulau Jawa untuk menyaksikan semifinal dan partai final liga jarum, Yan berencana kembali menuntaskan perjalanannya yang sempat tertunda. Pria yang berprofesikan petani ini masih penasaran bila kakinya belum menginjakan tanah Ternate dan Papua. Apa saja rencananya setelah menuntaskan misinya?

Terpukau dengan sambutan dari berbagai suporter di Pulau Kalimantan dan Sulawesi, Yan berencana melanjutkan perjalanannya ke Ternate dan Papua. Perjalanan ke bagian timur Indonesia itu sekaligus menuntaskan ekspedisi ribuan kilometer yang telah ia lalui. “Setelah melihat semifinal dan final disini, saya akan berangkat lagi, misi saya belum selesai,” ucap pria yang sangat mengidolakan Narwal Iskandar itu.

Setiap perjalanannya, Yan selalu membawa suplemen khusus agar tidak mudah lelah. “Saya hanya membutuhkan gula merah saja, saya selalu membeli gula merah disetiap daerah yang saya lewati,” Ungkap Pak Yan. Ia mengaku telah menghabiskan 11 kilogula merah dalam perjalanannya ini. Terlepas dari suplemen rahasianya itu, Pak Yan sudah tidak sabar bertemu dengan Superman (Suporter Persiter) dan the Comments (Suporter Persipura). “Saya penasaran dengan atmosfir sepak bola disana,” Terangnya.

Saat ia ke Papua, ia ingin berbagi pengalaman bersama suporter disana. Ia masih memendam kekecewa saat menyaksikan kerusuhan suporter yang terjadi pada babak “delapan besar” sampai final kompetisi tahun ini. Ia pun ingin mensosialisasikan idenya, yakni jangan mabuk saat masuk ke stadion. ”Kebanyakan yang menjadi biang kerusuhan adalah orang yang mabuk, saya mengharapkan segala pihak terkait bisa sadar dalam mengatasi hal ini,” ungkapnya.

Walaupun ia bisa berbusung dada karena tim yang ia dukung selama ini dapat meraih Double Winner, Yan mengaku masih kecewa dengan perpecahan yang terjadi pada suporter Sriwijaya FC. Ada dua suporter di Palembang yang mendukung Sriwijaya FC, yakni Singa Mania dan Sumsel Mania. Menurut pria berumur 48 tahun ini, perpecahan suporter didaerahnya itu memalukan. “Saya sudah bilang ke rekan-rekan saat di Jakarta, apa gak malu dengan The Jak dan Laskar Wong Kito melihat ada satu warna tapi tidak bersama,” bebernya. Yan juga menambahkan, hal tersebut akan menjadi PR untuknya saat kembali ke Sumatra nanti. ”Saya ingin menyatukan mereka, karena dari segi apa pun, bersatu lebih baik,” tambahnya.

Tidak hanya untuk daerahnya sendiri, Pak Yan punya pesan untuk seluruh suporter di Indonesia, pesannya itu adalah agar suporter tidak terlalu ikut campur dengan komposisi tim dikesebelasannya masing-masing, “Suporter adalah nafas tim, saya tahu rekan-rekan suporter sangat menginginkan timnya berjaya, untuk berjaya suporter bukan lantas ikut mencampuri urusan tim, saya yakin suporter sudah banyak yang dewasa,’ ucapnya. Pesan perdamaian dari Yan Tuheriyanto sebentar lagi akan menuju Indonesia Timur, Selamat berjuang Pak Yan, sadarkan suporter-suporter di seluruh Indonesia dengan harumnya pesan damaimu.(*)
(Tegar Bagja Anugrah)
[ad#twitter]