Oleh: Samuel Bukti

GBK

GBK

DISL (Djarum Indonesia Super League) 2009/2010 sudah di depan mata. Jika tak ada aral melintang, ajang sepakbola paling bergengsi di Tanah Air itu bakal dimulai pekan pertama Oktober mendatang. Sebanyak 18 tim tiap bertarung, menggapai posisi terbaik. Djarum, selaku sponsor utama, dikabarkan siap menggelontorkan dana Rp 35 miliar. Musim lalu, Persipura Jayapura sukses mengukuhkan diri sebagai kampiun disusul Persiwa Wamena diperingkat kedua dan Persib Bandung diperingkat ketiga.

Oktober tinggal hitungan minggu, namun masih banyak tim yang belum memenuhi standar yang ditetapkan PT Liga Indonesia (LI) selaku penyelanggara kompetisi. PT LI menerapkan lima syarat dan syarat ini berkiblat kepada persyaratan yang ditetapkan oleh badan sepakbola dunia, FIFA. Kelima syarat tersebut adalah legalitas, supporting team (pembinaan usia muda), administrasi, infrastruktur (stadion), dan finansial.

Dari kelima syarat, saya menitik beratkan ihwal infrastruktur. Boleh dikata, stadion merupakan titik gumul krusial bagi kebanyakan tim peserta DISL. CEO PT LI Djoko Driyono dalam suatu percakapan dengan djarumsuper di Jakarta mengatakan,”Salah satu syarat sebagai tim peserta Liga Super Indonesia adalah stadion harus memenuhi standar internasional”.

Mengacu kepada standar internasional, Djoko mengurai, semua tim harus memenuhi kategori legal dan fisik. Dikatakan legal karena  menyangkut dokumen pengelolaan stadion selama satu musim. Ini untuk menghindari agar tak ada lagi tim yang menjadi tim musafir seperti musim lalu.
Adapaun soal fisik stadion menyangkut soal kerataan, kekerasan, rumput dan drainase. Tim juga harus memperhatikan kenyamaman penonton serta kepentingan siaran langsung televisi. “Lampu minimal 1200 lux,” tandas Djoko.

Usai mendengar keterangan Djoko, saya langsung teringat Stadion Mandala Papua (Persipura), Stadion Siliwangi Bandung (Persib), Stadion Lebak Bulus Jakarta (Persija), Stadion Tugu Jakarta Utara (Persitara Jakarta Utara), Stadion Balikpapan (Persiba), Stadion Pendidikan Wamena (Persiwa), dan lain-lain. Dalam catatan saya, hanya ada beberapa stadion yang sudah memenuhi standar PT LI. Di antaranya adalah Stadion Si Jalak Harupat Soreang Kabupaten Bandung (Persib
sudah memutuskan untuk berhombase di sini), Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, Sumatera Selatan (Sriwijaya FC), Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah, Stadion Mulawarma Bontang, Kalimantan Timur (Bontang FC), serta Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur.

Jika kita berpatokan kepada syarat PT LI, jelaslah banyak tim yang bakal jadi korban alias tak lolos verifikasi untuk bertanding di super liga. Tapi kita juga jangan menutup mata, sejak digulirkan super liga digelar pertama kali tahun lalu, jelaslah masih banyak tim yang belum sempat membenahi stadionnya. Dengan kata lain, renovasi stadion tak
semudah membalikkan telapan tangan. Buktinya, semua pemerintah provinsi (pemprov) tengah berjibaku mencari dana guna merenovasi
stadionya masing-masing.

Menyedihkan, memang. Toh DISL harus tetap bergulir, karena sepakbola adalah bagian yang sudah melekat dengan kita dari generasi ke generasi. Seiring dengan bergulirnya waktu, kita benahi stadion-stadion di seluruh Indonesia.

[ad#twitter]