Oleh: Sigit Nugroho

Banyak bom meledak dalam sebulan terakhir. Di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, bom mengakibatkan batalnya laga paling akbar buat kita: Indonesia All Star vs Manchester United. Bangsa Indonesia, terutama masyarakat sepakbola, amat terpukul.

Bom lain buat publik sepakbola “diledakkan” Badan Tim Nasional (BTN) dan PT Liga Indonesia (nama baru BLI). Kedua lembaga di bawah naungan PSSI itu melempar bom masalah buat klub-klub yang justru banyak memasok pemainnya untuk tim Merah Putih.

Di sisi lain klub dan pemain merasa bangga dipanggil timnas, tapi pada saat bersamaan mereka kecewa karena dibelenggu aturan. Ya, para pemain tidak bisa membela klub di pentas DISL selama mereka masuk pelatnas.

Ini yang membuat pelatih Sriwijaya FC, Rahmad Darmawan, berang. Maklum, enam pemainnya masuk dalam pelatnas jangka panjang. Jika ngotot mendaftarkan mereka ke DISL, otoritas liga siap tidak meloloskan mereka dalam sesi verifikasi. Ironis? Tentu.

Ada Antidote

Di belahan dunia lain, kita tidak akan pernah membaca berita Wayne Rooney atau Frank Lampard tidak boleh merumput di English Premiere League (EPL) hanya gara-gara masuk skuad Three Lions. Soalnya, jadwal klub dan timnas telah sinkron. Mereka juga sudah terbiasa dalam pelatnas jangka pendek.

Konon, sistem ini belum bisa diaplikasikan di tanah air. Alasannya, pelatih timnas sulit mengontrol stamina pemain serta kinerja mereka dalam teamwork. Padahal, ada antidotenya. Pelatih timnas bisa berbagi tugas dengan pelatih klub dalam mengawasi pemain pilihan. Sejauh mana efektivitasnya? Itu tantangan yang jauh lebih sehat daripada TC jangka panjang.

Dalam TC berdurasi lama, klub sulit mengeksploitasi nilai jual pemain bintang yang mereka kontrak dengan nilai tinggi. Misal, berinteraksi dengan sponsor maupun fans. Dalam kasus Sriwijaya FC, tentu klub akan sulit bertanggung jawab kepada sponsor. Padahal, sponsor mau berpromosi ke klub karena nilai promotifnya tinggi. Tanpa nama-nama top, mana sudi sponsor masuk?

Dari aspek komersial saja, kompensasi yang ditawarkan BTN kepada pemain berupa gaji Rp 20 juta per bulan jelas tidak match dengan kepentingan klub, pemain, apalagi seirama dengan nafas profesionalisme yang tengah diembuskan PSSI.

Klub tak perlu panik. Pengusasapun tak perlu bersikap adi kuasa. Toh DISL masih dua bulan lagi. Masih ada ruang waktu untuk dialog atau brain storming. Ingat, kesuksesan kerap lahir dari sebuah rahim bernama “saling pengertian”.
[ad#twitter]