Bunda pasaoepati / Kris Pujiatni

Bunda pasoepati / Kris Pujiatni

Raut wajahnya sumringah dan menyejukkan. Gaya bicaranya lembut. Untaian kata yang terucap dari bibirnya sederhana namun sarat makna. Kepribadian Kris Pujiatni yang terbuka menjadikan siapa pun nyaman dan betah berbagi kisah serta keluh kesah dengannya. Tak terkecuali rekan-rekan sekomunitasnya, para suporter setia Persis Solo yang menyebut dirinya Pasoepati.

Meskipun ia menjadi satu-satunya kaum hawa yang tergabung dalam Pasoepati kala awal berdiri, kenyataan itu tak menyurutkan semangat dan loyalitasnya bergelut disana. Pantaslah jika kemudian, sosok psikolog yang sehari-harinya mengajar di Fakultas psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini lantas didapuk sebagai sosok Bunda Pasoepati.

Dengan julukan itu, peran Kris dan Pasoepati menjadi berkelindan. Layaknya peran bunda yang menjadi pembimbing dan pengayom dalam rumah tangga, peran itu pula yang dicurahkannya pada dunia suporter Solo yang penuh sorak sorai dan sedikit kurang lazim di sebagian kalangan ibu-ibu. Tetapi, perempuan yang lahir 57 tahun silam ini tetap enjoy memaknai peran di dunia itu. “Karena saya dan anggota keluarga pencinta olahraga, saya pun menikmati peran ini,” ujar ibunda dua anak ini saat ditemui di rumahnya.

Anak pesepakbola

Tak berlebihan. Saat ia tinggal di Jakarta, ayah Kris Pujiatni adalah pesepakbola sepantaran pemain legendaris Solo, R Maladi. Karena kerap diajak berlatih oleh ayahandanya itu, anak keempat dari delapan bersaudara pasangan H Soetedjo dan Hj Soeratni ini telah akrab dengan aroma lapangan sepakbola sejak masih bocah.

Kendati pengalaman hidup itu tak lantas membuatnya tertarik untuk menjadi pesepakbola wanita, Kris tetap penikmat pertandingan cabang olahraga itu. Maklum, Kris kecil lebih bergairah menekuni bola voli, bola basket dan tenis meja. Demikian pula dengan kakak dan adiknya yang juga menekuni beberapa olahraga sesuai intuisinya.

Itulah sebabnya, di bangku SMP, Kris menjadi juara pertama turnamen tenis meja tingkat SMP se-Surabaya. Prestasi gemilangnya di bidang olahraga merangkak naik sampai di bangku kuliah. Satu diantaranya, Kris pernah menjadi bagian dari tim yang mewakili perguruan tingginya bertanding dalam turnamen bola voli antar perguruan tinggi tingkat nasional. “Selain olahraga, saat di perguruan tinggi saya juga pernah aktif di marching band. Dan disanalah kali pertama ketemu bapak,” kenang Kris yang saat itu tampak anggun dalam balutan jilbab warna merah hati.

Setelah berkeluarga dan terjun dalam dunia pendidikan, keinginan yang lebih melecut dalam dirinya justru menjadi penikmat pertandingan sepak bola. Terlebih lagi, sejak menetap di Solo, setelah 14 kali pindah-pindah kota, baik karena mengikuti ayahandanya maupun suami tercinta yang bekerja di perkebunan.

Ia pun kesengsem mengikuti pertandingan-pertandingan Persis pada sore hari selepas menunaikan kewajibannya sebagai dosen di kampus Pabelan. Dengan menumpang bus kota, ia biasanya berangkat menonton pertandingan sendirian.

Bagi Kris, turut bersorak-sorai di kerumunan suporter menyaksikan gegap-gempitanya pertandingan sepak bola adalah kepuasan tersendiri. Kesan garang, bentrokan, bahkan tindakan anarkis yang ada kalanya terjadi antar suporter setelah pertandingan usai, tak membuatnya bergeming. Justru, dari sanalah kemudian ia tertarik mulai mengenal secara personal sebagian pendukung setia Persis yang tak lain adalah Pasoepati.

Ia juga tergerak untuk memberikan sumbangsih kepada komunitas suporter yang memikat hatinya itu. Maka, dua bulan setelah terbentuknya Pasoepati, 9 Februari 2000, Kris pun mantap untuk bergabung menjadi bagian dari komunitas suporter yang selalu memerahkan stadion saat mendukung Persis.

Perempuan pertama

Jadilah kemudian, ia sebagai perempuan pertama yang tergabung dalam Pasoepati. Belakangan, langkah Kris diikuti para pemudi yang juga tertarik menikmati pertandingan Persis dengan label Srikandi Pasoepati.

Sebagai satu-satunya perempuan saat kali pertama bergabung, Kris tak gamang mengikuti rapat-rapat maupun koordinasi pengurus Pasoepati yang terkadang dilakukan sampai dini hari di lesehan kedai wedangan atau hik. Ia pun tak pernah absen menyaksikan pertandingan skuat andalanya bahkan saat tandang ke kandang lawan.

Kris juga turut memberi masukan, baik dalam yel-yel, lagu maupun tambahan atribut lain saat Pasoepati akan mengiringi Persis berlaga. Lewat sentuhan ide dan motivasinya itu, Pasoepati pun dikenal sebagai suporter yang fanatik namun kreatif dan bersahabat.

Seperti tetesan embun di pagi hari yang menyejukkan, saat terjadi silang pendapat diantara anggota dalam tubuh Pasoepati, Bunda-demikian anggota Pasoepati menyapanya-kemudian menjadi tempat peraduan yang mendinginkan suasana.

Meskipun Kris enggan mengurai rinci beberapa permasalahan yang muncul, menurutnya perbedaan pendapat yang terjadi adalah sesuatu hal yang lumrah. Apalagi Pasoepati terdiri dari aneka warna orang dengan beragam latar belakang. “Kalau ide-ide yang muncul pada dasarnya semuanya demi total mendukung Persis dan menjadi suporter yang baik. Hanya, dalam realisasinya tidak bisa semuanya dijalankan berbarengan,” ujarnya.

Solusi solutif yang selalu ditawarkannya membuat sebagian anggota Pasoepati pun lantas tak segan untuk curhat masalah pribadinya dengan sang Bunda. Seiring dengan berbagai perubahan yang terjadi, menurut perempuan yang tiga periode menjabat sebagai psikolog Persis ini, menilai Pasoepati kini semakin tumbuh dewasa. Itu sebabnya, menurut Kris kurun waktu dua tahun terakhir ini kiprahnya tak begitu kentara.

Menurutnya, lewat pendekatan-pendekatan yang kondusif, ke depan Pasoepati tentu akan lebih banyak lagi yang peduli. “Dengan kreatifitas dan kerukunan yang selalu terjaga, bukan tidak mungkin Pasoepati dapat menjadi suporter terbaik di Indonesia,” pungkasnya.

DATA DIRI

Nama: Kris Pujiatni, SPsi

Lahir: Medan, 26 September 1952

Alamat: Jl Elang Emas I, Perum Citra Alam Mandiri I/12, Gonilan Sukoharjo

Suami: Drs H Roeswanto

Anak: Zulfikar Ari Wicaksono, Aulia Kirana (FP/BS/Pasoepati.net)
[ad#twitter]