Oleh Ongston Bhearto

Foto From KDRI

Foto From KDRI

“I think he wants us to win the world cup” ujar Francois Pienaar, kapten tim nasional rugby Afrika Selatan seusai pertemuan dengan Nelson Mandela pada tahun 1994, yang pada tahun itu pula menjabat sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan setelah lebih dari 300 tahun dikuasai oleh bangsa kulit putih. Dan setahun setelah pertemuan antara dua pemimpin itu, Afrika Selatan yang juga berlaku sebagai tuan rumah berhasil meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya dengan mengalahkan Selandia Baru dengan skor tipis 15-12 di stadion Ellis Park, Johannesburg.

Perihal memenangkan piala dunia bukanlah tujuan utama Mandela yang juga pemenang Nobel Perdamaian, mantan tahanan yang pernah mendekam di penjara selama 27 tahun karena aksi anti-apartheidnya sadar bahwa olahraga adalah sebuah alat penyatu bangsa yang sangat kuat dan di tengah perpecahan saudara yang terjadi di dalam negerinya sendiri, ajang 4 tahunan ini tidak mungkin hadir di lain kesempatan yang lebih tepat.

Hal yang sama juga disadari oleh Sekjen PBB Kofi Annan dan mantan presiden AS Bill Clinton saat mendukung Shimon Peres, eks PM Israel untuk mengundang manajer Chelsea FC saat itu, Jose Mourinho untuk menjadi duta damai antara Palestina dan Israel dengan kuliah sepakbolanya. Begitu pula seperti Josef Stalin dengan klub sepakbola Dynamo-nya untuk meningkatkan kepercayaan diri bangsanya setelah menderita kekalahan dalam Perang Dunia II.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Rasisme bukanlah satu-satunya polemik yang dihadapi bangsa kita; agama, suku dan status sosial pun menjadi faktor besar pemecah bangsa. Tapi semua itu menghilang saat atlet Indonesia berlaga, semua menjadi merah putih, semua memegang garuda di dadanya dan memberi hormat saat Indonesia Raya dikumandangkan.

Namun negara yang pernah dipimpin oleh Soekarno, pelopor GANEFO, ajang olahraga yang pernah disebut-sebut sebagai alat perjuangan yang paling mumpuni di saat awal-awal kemerdekaan tanah air itu justru malah mendegradasikan olahraga, satu simbol kuat yang berperan besar dalam pembentukan ekonomi, politik, budaya dan bahkan peradaban dunia kini hanya dipandang sebelah mata, bahkan dijadikan sebagai kambing hitam. Bukti bahwa ajang olahraga menjadi satu dari sedikit tempat eksistensi patriotisme dan nasionalisme pun tetap tidak diindahkan oleh pemerintah. Pelantikkan Andi Malarangeng sebagai Menpora yang notabene hanya terbukti ahli dalam ajang olahraga mulut menjadi satu bukti ketidakseriusan pemerintah untuk masa depan olahraga Indonesia. Sangatlah tidak masuk akal bahwa olahraga yang lebih mengutamakan aksi dan perbuatan dipimpin oleh seseorang yang lebih banyak berkata-kata.

Lamaran Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 beberapa waktu lalu yang sempat disambut oleh berbagai macam respons merupakan satu langkah positif pemerintah walaupun keseriusan dan dedikasinya masih patut dipertanyakan. Memang mengharapkan Indonesia untuk mengangkat piala tersebut lalu diikuti oleh langsung bersatunya seluruh bangsa Indonesia dengan damai bagaikan sebuah mimpi di siang bolong, tetapi setidaknya jika lamaran tersebut diterima, saya yakin sekilas pemandangan persatuan bangsa akan terlihat, sama seperti pemandangan indah di tahun 2007 waktu itu, dan bukan tidak mungkin bahwa di masa depan hal itu akan menjadi pemicu awal perdamaian dan persatuan di Indonesia.

Beberapa waktu lalu sempat terdengar kabar bahwa Malaysia tertarik untuk menjadi pasangan Indonesia sebagai tuan rumah bersama. Sebuah keputusan yang sangat berani dan kontroversial di tengah tuduhan pencurian budaya Indonesia yang dilakukan oleh negara tetangga tersebut. Namun menilik sejarah, perseteruan panas antara Korea Selatan dan Jepang dapat diredam saat mereka dengan sukses menghelat Piala Dunia 2002. Dan sudah seharusnya pula pemerintah melihat kembali sejarah dunia tentang peranan olahraga dalam pembentukan suatu negara untuk bisa lebih menghargainya.

Mungkinkah sepakbola, sesuatu yang selalu dicap sebagai biang kerusuhan, sesuatu yang menjadi pemecah belah antara Jakarta-Bandung dan Malang-Surabaya, dengan ironis dapat menjadi penyatu bangsa Indonesia? Atau mungkin lebih baik lagi, menjadi penyatu rumpun Indonesia dan Malaysia.

“Sport has the power to change the world. It has the power to unite in a way that little else does. It speaks to youth in a language they understand. Sport can create hope where once there was only despair. It is more powerful than governments in breaking down racial barriers. It laughs in the face of all types of discrimination.” -Nelson Mandela

[ad#twitter]