Oleh Andi Bachtiar Yusuf
Shane membanting kaleng birnya ke lantai, ia nyaris juga menendang meja di depannya untuk kemudian membatalkan aksinya dan memaki televisi di depannya tanpa henti. Teman-temannya pun nyaris serupa, memaki televisi dan aksi tidak sportif Thierry Henry yang “direstui” oleh wasit. Saat dimana Irlandia terpaksa gagal melaju ke putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan tahun depan.

“Wasit bodoh harusnya mimpin tarkam saja!” umpat Shane yang besoknya sepakat dengan Brian Cowen, Perdana Menteri Republik Irlandia yang meminta tanding ulang partai akhir melawan Perancis. Mencoba simpatik dan diplomatis, pejabat serupa asal Perancis bernama Nicolas Sarkozy merespon “Kami menghargai keinginan Irlandia, tapi kita juga harus menghargai apa yang telah diputuskan oleh wasit, karena ini adalah otoritas FIFA,”

Pendapat yang kemudian mendapat tentangan dari kedua belah pihak, bahkan dari dalam negeri sendiri. Apalagi kemudian Thierry Henry mengakui “dosanya” dalam sebuah pernyataan pers resmi. Tapi “Sepakbola adalah permainan manusia, jika ada kesalahan yang dilakukan oleh manusia maka adalah kewajiban kita untuk mereduksinya di kemudian hari, bukan menganulir hasil buatan manusia tersebut,” ujar Sepp Blatter jauh sebelum kejadian tersebut.

Isu pun bergerak tak tentu arah, pejabat masing-masing negara saling tuding dan merasa dirugikan. Sepakbola kemudian bergerak menjadi isu politis yang sangat penting. Ribuan kilometer dari kedua negara, kejadian lebih radikal terjadi di tanah Afrika. Kemenangan Mesir di Kairo 2-0 atas Aljazair berbalas skor serupa yang kali ini menjadi milik Aljazair di Algier. Lebih dari sekedar kemenangan, pendukung Aljazair memberi bonus korban luka-luka di rentetan aksi kekerasan di sepanjang jalan kota Algier. Perkelahian hebat kedua pendukung yang diikuti oleh pembakaran bendera Mesir di kota tersebut.

Babak play off pun kemudian digelar di Khartoum, Sudan. Sebuah negeri netral yang menganggap bahwa pertandingan ini hanyalah sekedar pertandingan internasional biasa. “5000 personil keamanan cukup untuk sebuah pertandingan berskala 50.000 penonton,” ujar Menteri Luar Negeri Sudan menyikapi keinginan kedua negara tamu untuk turut berkontribusi keamanan.

Satu hari menjelang hari pertandingan dan jalanan kota Khartoum dipenuhi pendukung Mesir dan Aljazair yang melebihi kapasitas stadion nantinya, lengkap dengan tendensi kekerasan yang terus meningkat. Pemerintah Sudan baru tersadar, bahwa sepakbola bukanlah urusan biasa. Datanglah sekitar 3000 personil keamanan gabungan dari kedua negara.

Berjalan happy kah pertandingan? Nyatanya tidak, partai keras di dalam lapangan berujung perkelahian hebat di luar lapangan. Penonton yang tidak bisa masuk stadion saling baku hantam dengan hebatnya. Keamanan yang kemudian terpojok pada keadaan patriotisme pada negaranya justru “terjebak” pada aksi yang berlebihan. Saat bendera dibakar oleh bangsa lain, lengkaplah hinaan pada negara lengkap dengan terinjaknya lambang negara.

Malam itu juga, Presiden Hosni Mobarak menelpon koleganya Abdelaziz Bouteflika yang justru disambut sinis. Esok paginya, secara emosionil Bapak Presiden Mesir itu memanggil Duta Besarnya di Algier untuk segera pulang. Aksi serupa dilakukan pula oleh Algier terhadap Duta Besarnya di Kairo. Keadaan semakin memanas, kedua negara saling tuding. Hari itu angkat senjata seolah tinggal menunggu waktu, kitapun seperti diingatkan oleh kejadian masuknya pasukan Honduras ke perbatasan El Salvador 38 tahun lampau.

“Sepakbola adalah agama baru umat manusia,” demikian banyak orang berpendapat. Kalimat yang selalu menjadi perdebatan setiap kali saya mengucapkannya di negeri ini. Padahal, pada faktanya sepakbola memiliki hipnotis akut yang bisa mengubah manusia di saat itu juga.

Arif adalah kawan baik saya, lelaki yang sangat dekat dengan kehidupan rohani dan hidup teratur seperti banyak orang Indonesia lainnya. Ia selalu meledek saya “Gue males nonton bola ama lo, bawaannya berantem mlulu,” ledek lelaki berusia 43 tahun yang sebenarnya tidak pernah menyaksikan sepakbola di Stadion….sampai hari itu.

18 November 2009, saya dan Arif menyaksikan pertandingan Indonesia melawan Kuwait di Stadion Bung Karno. Kawan saya ini meminta saya untuk mau menemaninya untuk duduk di tribun VIP, karena ia mendapat undangan VIP dari PSSI. “Nonton bola yang bener tu ya rame-rame bareng orang-orang yang terus berteriak dan bernyanyi di sudut sana,” ujar saya pada Arif tentang tribun sebaliknya yang menyimpan gelora luar biasa pada sepakbola.

Tentu sebagai rookie di Stadion, dengan halus ia menolak “Gak enak, gue udah dikasih undangan ini ama Besoes,” maka duduklah kami di tribun yang bagi saya sebenarnya menyebalkan. Penonton sangat santun seperti penonton musik klasik di auditorum Vienna Conservatorium. Rasa apriori saya bertambah saat sepanjang stadion tak jauh di belakang saya pendukung Kuwait praktis dibiarkan “merajalela” dengan nyanyian dan gendangnya.

Saya pun terus menjelaskan pada Arif “Nomer 13 tu Budi Sudarsono, maen di Persib….jago!” atau “Yang namanya Bambang Pamungkas nomer 20, suka males padahal sebenernya otaknya pinter,” ia pun terus bertanya setiap ada pelanggaran yang ia tak mengerti. Atau mengapa Ismed Sofyan harus menginjak lawan padahal areal pertahanannya sama sekali tidak terancam.

Arif yang tenang dan saya yang terus berteriak mendukung Merah Putih menjadi sama saat terjadi insiden di tengah lapangan yang membuat darah siapapun orang Indonesia di Stadion Bung Karno malam itu mendidih. Seorang pemain Kuwait mengejar Maman Abdurrachman seolah ingin memukulnya. Dilanjutkan dengan aksi tidak simpatik yang dilakukan oleh official tim Kuwait yang memaksa masuk ke tribun VIP.

Saat itulah tribun VIP yang menyebalkan itu mendadak berubah! Pendukung Kuwait yang terus bernyanyi itu dipaksa diam oleh bentakan demi bentakan….bahkan Arif yang terus mengupdate statusnya di Facebook kini ikut berteriak penuh emosi pada official Kuwait yang terus beradu mulut—bahkan sampai saling dorong—dengan petugas keamanan.

“Resek banget di kampung orang!” umpat Arif yang—saya yakin—untuk pertama kali dalam hidupnya memahami mengapa saya selalu emosional jika harus berbicara tentang sepakbola. Ia pun berbalik melihat ke gerombolan Kuwait 4 baris darinya dan memandang mereka dengan tajam saat mereka berpindah sector.

“Sepakbola bisa mengubah manusia,” desah Shane, kawan saya asal Irlandia itu yang sehari-hari adalah lelaki santun yang bekerja sebagai analis ekonomi di sebuah lembaga internasional. Shane yang jika bicara selalu memilih dan memilah kata-kata pilihannya itu, berubah menjadi pemberang saat negerinya mendapatkan “ketidak adilan” di dini hari waktu Indonesia itu.

“Di era modern, olahraga adalah tempat dimana rasa patriotisme kita diuji,” tambah lelaki kelahiran Dublin ini. Pendapat yang kemudian mengingatkan saya pada bangsa saya yang terus menjadikan “kebencian” terhadap Belanda sebagai modal mempersatukan bangsa. Pengalaman terjajah yang terakhir terjadi 64 tahun lalu itu adalah alat terbaik untuk menyatukan bangsa ini. Serangan teroris dan aksi kekerasan lain adalah pemicu rasa patriotisme pada bangsa.

Slogan “Merdeka atau Mati”, “Ayo Bersatu!’, “Indonesia Unite” dan lain sebagainya seolah adalah slogan yang akan terus kita bawa hingga akhir jaman. Ketika bangsa lain bersatu “melawan” bangsa lain lewat olahraga, kita belum berhenti bahwa pertempuran bersenjata adalah media pemersatu.

Sepakbola adalah permainan terindah, aksi terbesar yang dianugerahkan Tuhan pada umat manusia. Saya percaya, inilah medium terbaik menyatukan bangsa ini.
[ad#twitter]