Oleh Ongston Bhearto

Kaget. Itulah reaksi pertama saya ketika membaca bahwa Indonesia mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

“Ah, gak mungkin..”. Inti beberapa komen pertama pembaca artikel tersebut, yang sesekali ditambah ketawa-ketawa miris.

Tidak sedikit pula orang-orang yang meragukan kemampuan Indonesia berdasarkan kemampuan timnas garuda kita bersaing di kancah dunia, ataupun berdasarkan kesiapan ekonomi, negara dan pemerintah kita untuk menyelenggarakan event 4 tahunan terbesar di dunia ini.

Tapi kalau kita lihat ke belakang, dimana Amerika Serikat yang dulu tidak menganggap sepakbola sebagai sebuah olahraga(‘sport’) melainkan hanya sebuah ‘game’ yang mayoritas dimainkan oleh perempuan, pada tahun 1994 berhasil menjadi tuan rumah.

Coba kita lihat Cina yang sedari awal terpilih terus dicemooh, dan selalu lekat dengan kontroversi tentang kebijakan komunis dan pengekangan kebebasan berbicara, dan lalu yang pada akhirnya berhasil menyuguhkan sebuah turnamen yang meriah dalam Olimpiade tahun lalu.

Mungkin uang bisa dijadikan alasan mengapa 2 negara adidaya diatas bisa dengan sukses memikul beban sebagai tuan rumah. Sebaiknya kita tidak usah berpikir muluk-muluk lah ingin menyelenggarakan sendiri dan sekarang bukanlah sebuah hal yang salah dan menurunkan gengsi, melainkan suatu yang lumrah jika kita memikat negara-negara tetangga untuk membantu menyelenggarakan event bergengsi ini, sebuah pembuktian kemampuan diplomasi yang tinggi bahkan.

Bagi yang mempersoalkan masalah keamanan dan ketertiban, saya sendiri pernah tinggal di Beijing selama setahun dan jujur, soal ketertiban, kebersihan dan bahkan kesopanan masyarakat kita jauh kebih beradab dibanding mereka-mereka di negeri bambu sana. Tapi pemerintah bisa menggunakan event tersebut sebagai kesempatan untuk mengajarkan disiplin kepada rakyatnya, juga sebagai ajang untuk mempraktekkan kemampuan berbahasa Inggris. Mungkin kita bisa juga mengambil kesempatan ini untuk memperbaiki mental masyarakat kita. Untuk keamanan dalam negeri sudah kita buktikan dengan menyelenggarakan Piala Asia 2007 tanpa adanya tindakan anarkis, yang menjadi pertimbangan sebenarnya adalah menjaga ancaman-ancaman dari luar negeri seperti hooligan inggris, dkk.

Masalah kemampuan timnas kita? Setelah menonton Piala Asia 2007 dan pertandingan melawan pemain-pemain terbaik Australia di A-League tadi malam, saya yakin dengan kemampuan pemain-pemain seperti Firman Utina, Budi Sudarsono, Elie Aiboy, dkk yang saya anggap mampu bermain di liga luar negeri yang kelasnya lebih tinggi, kita masih bisa bersaing paling tidak dalam grup kualifikasi, dan bukan tidak mungkin dengan dukungan tuan rumah bisa melaju sedikit lebih jauh menyusul jejak Korea Selatan dan Jepang pada PD 2002 lalu. Jadi bukan kemampuan teknis yang dipermasalahkan disini, melainkan cara untuk menghilangkan perasaan inferior dan kemampuan seorang pelatih untuk menanamkan mental ingin menang, seperti yang ditunjukkan oleh Ivan Kolev, Hariono, Syamsul Chaeruddin, dkk.

Nah, sekarang bisakah kita yang sering dianggap sebagai negara dunia ketiga, sarang teroris dan korupsi memikul mimpi yang besar ini sampai ke puncak. Bisakah kita membangun kembali Indonesia dengan pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2022 ini sebagai pemicu dan motivasinya? baik dalam hal mentalitas, moneter (coba bayangkan, berapa banyak devisa yang akan kita dapat dari ini?) dan juga citra tanah air tercinta kita ini di mata dunia.

Amerika Serikat membuat sejarah sebagai negara pertama diluar benua Eropa dan Amerika Selatan yang menyelenggarakan Piala Dunia

Jepang dan Korea membuat sejarah sebagai penyelenggara Piala Dunia pertama di Asia

Bisakah kita menambah satu nama Indonesia dalam list sejarah tersebut? Semoga sebagai penyelenggara Piala Dunia pertama di Asia Tenggara, bukan sebagai korupsi terbesar dalam penyelenggaraan Piala Dunia.

Jujur saya sangat merindukan kembali atmosfir juga perasaan sedih, bahagia dan mendebarkan pada saat Piala Asia 2007 lalu. Dimana 88000 bangsa Indonesia dari segala golongan bersatu mengumandangkan Indonesia Raya dengan lantang, khidmat dan dengan perasaan bangga sebagai orang Indonesia. Dimana saat Stadion Gelora Bung Karno bergemuruh saat gol Bambang Pamungkas mengantarkan Indonesia mengungguli Bahrain 2-1. Dimana saat para laskar pembela merah-putih meneteskan air mata, tapi masih dengan kepala tegak masih menyemangati Pasukan Garuda kita sambil menahan sakitnya hati saat sebuah gol Arab Saudi bersarang di gawang yang dikawal Jandri Pitoy pada menit ke-94. Sebuah atmosfir dan pengalaman sepakbola terbaik seumur hidup bagi saya.

-“Ini Kandang Kita, Bung!”-

[ad#twitter]