Oleh Ongston Bhearto

Tulisan besar ini terpampang jelas saat saya mengakses http://www.jakmania.org pagi tadi.
Breaking News !!!

Pertandingan Persija vs PSMS Batal Dilaksanakan Akibat Tidak Mendapatkan Ijin dari Kepolisian Metro Jaya

“Bangsat!!” kata pertama yang muncul di pikiran saya saat membaca headline website tim oranye kebanggaan ibukota ini.

Selama ini saya selalu berpikir bahwa seberapa pentingkah peranan sebuah olahraga bernama sepakbola itu di Indonesia selain memberi contoh kalau seorang koruptor sekaligus narapidana pun bisa memimpin sebuah lembaga?
Menurut saya jawaban yang tersedia untuk pemerintah dan para partai politik cuma ada satu: Tidak Penting.

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009, begitu motto pesta demokrasi(democrazy?) terbesar tahun ini. Namun kenyataannya berapa banyak yang meninggal dan luka-luka hanya dalam jangka waktu sebulan kampanye? Berapa banyak kerusuhan dan bentrokan antara partai yang terjadi di daerah? Di Sumatera Utara sendiri sudah memakan 30 korban jiwa, belum ditambah daerah-daerah lainnya.

Gelora Bung Karno, sebuah tempat suci bagi persepakbolaan Indonesia. Yang selama hampir satu musim kompetisi ini dipakai sebagai lapangan utama bagi Persija Jakarta hanya butuh sedikit renovasi rutin disana-sini, tapi setelah dipakai oleh partai-partai untuk kampanye HANYA dalam waktu beberapa hari kerugian miliaran rupiah harus ditanggung oleh pengelola stadion.

Jika jumlah itu dikalikan 9, seperti lamanya satu musim kompetisi Liga Super Indonesia, bayangkan berapa banyak kerugian material dan jiwa yang harus ditanggung? Dan coba anda bandingkan dengan korban jiwa dan kerusakan selama satu musim kompetisi liga yang tidak mungkin mencapai separuh kerugian selama sebulan masa kampanye.

Namun anehnya larangan yang muncul dari Polda Metro Jaya adalah larangan menyelenggarakan pertandingan bukan hanya selama masa kampanye, tetapi bahkan jauh sebelum dan sesudah masa cari muka dan obral janji omong kosong itu mulai dan berakhir.

Memang persepsi yang sudah ditanam di otak kita dan mereka adalah bahwa sepakbola pasti rusuh. Namun kenyataanya adalah bahwa sebuah pertandingan sepakbola KEMUNGKINAN rusuh, tapi kampanye pemilu PASTI rusuh, mungkin karena ini terjadi hanya tiap 5 tahun sekali maka kita tidak menyadarinya sedangkan liga bergulir secara reguler tiap tahun.

Selama ini memang belum ada partai yang menganggap bahwa sepakbola dan olahraga itu adalah sebuah bagian penting dari sebuah bangsa. Jika memang mereka ingin mengucilkan olahraga dari kepentingan-kepentingan politik mereka, harusnya kucilkan pula sarana-sarana olahraga dari keegoisan politik mereka. Bahkan seharusnya partai-partai yang membela rakyat kecil itu sadar bahwa sepakbola adalah satu dari sedikit hiburan untuk masyarakat kelas bawah.

Begitu pula dengan aparat kepolisian keparat itu, cobalah sekali-kali berpikir yang mana yang harusnya dilarang?
Memang belakangan ini sedang trend pembunuhan dimana-mana, tapi jika kalian ingin membunuh, bunuhlah itu para perusuh dan teroris, tapi tolong jangan kalian bunuh sepakbola Indonesia!!

Bagi Pak Presiden SBY, yang katanya mendukung Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 mungkin beliau harus kembali ke awal dan bertanya pada diri sendiri “Sepakbola itu ada di prioritas saya yang nomor berapa?”. Karena jangankan mencoba memajukan sepakbola indonesia, tapi untuk menghargai rumput lapangan dan menjaga keutuhan bangku kayu dan pagar besi stadion saja tidak bisa.
[ad#twitter]