Oleh Ongston Bhearto

Sehelai kain merah membalut tubuhnya, Ketat.
Tampak bulir peluh keringat mengalir mengikuti alur wajahnya,
Menuruni lekuk lehernya,
Menyerap membasahi, terlihat jelas bentuk sempurna dadanya

Terengah-engah dia,
Naik turun tubuhnya mengikuti desah nafasnya yang mulai tak beraturan,
Namun ekpresi kenikmatan itu tetap terlihat,
Mengikuti ritme indah permainan yang semakin cepat

“Kenapa tak datang juga”, tanyanya dalam hati, terlalu lelah untuk berbicara.

….Sesuatu terasa mendekati

Seketika ototnya mengencang,
Tubuhnya terlekuk bagai sebuah busur,
Terdongak kepalanya

Layaknya seorang Arjuna yang melepaskan anak panahnya
Layaknya seekor garuda yang tergambar jelas di dada kanannya,
Ia meloncat, menjadi yang paling tinggi
Tandukkan kepalanya menyambut bundaran hitam putih itu.
Menghujam sudut kanan gawang, Jitu. Tajam.

Semua diam…..
hanya suara mesra bola menyentuh jaring putih dengan lembutnya,
Dan dentuman indah saat ia memantul dengan tenang ke rumput hijau yang masih basah oleh embun.

“GOL!” teriaknya dalam hati.
Tampak merah putih berkibar dan bersorak…

Sayup-sayup ditelan gemuruh Gelora Bung Karno
Dengan senyum lebar dan tangan terbentang,
Menyambut sepatah wahyu Tuhan dari surga.
“Nomor 20. Bambaaangg……”
“PAMUNGKASSSS..!!!!!!”

Akhirnya ia pun diam terbaring, menutup matanya dan bernafas lega..

[ad#twitter]