Oleh Ongston Bhearto

“..You’re not singing anymore..You’re not singing..You’re not singing..You’re not singing anymore!!”

Di liga Inggris, biasanya nyanyian-nyanyian itu terdengar dinyanyikan oleh suporter tim yang menang kepada suporter tim yang kalah. Namun di liga Singapura, lagu itu lebih pantas dinyanyikan untuk kedua belah suporter.

Saya bersama Ferry T Indrasjarief yang biasa dipanggil Bung Ferry selaku Asisten Manajer Persija Jakarta saat di Singapura kemarin menyempatkan diri untuk menonton Singapore Armed Forces FC (SAFFC) vs Geylang United dimana bermain Baihakki Khaizan yang pada hari itu juga telah menandatangani kontrak untuk Persija Jakarta untuk musim depan. Selama 90 menit di dalam stadion yang hampir kosong tidak sedikitpun antusiasme, fanatisme maupun semangat untuk memotivasi tim dukungannya ditunjukkan oleh kedua belah suporter yang hanya berjumlah beberapa ratus saja. Dimana biasanya sebuah pertandingan sepakbola yang selalu diramaikan oleh aksi-aksi fanatis suporter, Singapura yang terkenal dengan ketat hukum, ketertiban, dan keteraturannya ternyata mengakar juga sampai ke penonton sepakbolanya sehingga tidak tercipta atmosfir keseruan layaknya sebuah pertandingan sepakbola di negara-negara lain, dan bahkan sampai membuat saya untuk pertama kali merasa bosan menonton pertandingan sepakbola secara langsung.

“Saya saat ingin bermain di Indonesia, saya waktu itu datang dan lihat suporter Indonesia di Senayan, saya ingin bermain untuk klub dengan suporter seperti itu dan dengan atmosfir seperti itu” ujar salah satu lagi pemain nasional Singapura incaran Persija Jakarta yang namanya belum bisa saya sebut, sembari menunjuk DVD dokumenter suporter Persija ‘The Jak’ karya Andibachtiar Yusuf yang disodorkan oleh Bung Ferry. Dia pun mengakui bahwa minimnya penonton dan antusiasme sangat mempengaruhi motivasinya untuk bermain setelah menghabiskan 7 tahun kariernya di Singapura. Bayangkan, rata-rata penonton setiap pertandingan liga Singapura hanyalah berkisar sekitar 2000-3000 penonton, dimana di Indonesia jumlah penonton yang mencapai 10x lipatnya merupakan pemandangan biasa dalam setiap pertandingan liga, bahkan sebuah pertandingan tim gurem antara Manggarai Barat vs Maumere di NTT yang saya tonton Juli kemarin dapat menyedot sekitar 10 ribu penonton, hal yang sama diakui hanya bisa dinikmati publik Singapura saat timnas negaranya bertanding.

Atmosfir pertandingan sepakbola Indonesia yang juga menurut saya adalah atmosfir sepakbola terbaik yang pernah saya alami (kata orang sih Amerika Latin, tapi saya belum pernah kesana dan melihat sendiri) yang bahkan dapat membuat seorang ketua suporter sebuah klub di Jepang yang datang menonton Piala Asia 2007 kemarin menyatakan kekagumannya kepada semangat para suporter Merah-Putih dan ingin suporter di negaranya dapat menciptakan atmosfir pertandingan yang sama luar biasanya, sehingga saya bisa mengerti kerinduan para pemain nasional Singapura itu akan ramainya teriakan dan nyanyian para suporter yang dapat memberinya motivasi dan juga sebuah “sense of belonging” bagi setiap pemain.

Satu hal yang membuat saya merasa sangat kasihan dan miris adalah bahwa Pemerintah Singapura telah mengucurkan banyak uang untuk membangun banyak stadion dengan kualitas internasional, rumput lapangan yang berkontur sempurna, hingga naturalisasi pemain berkualitas, namun dengan jumlah dan sikap penonton yang hanya duduk manis tanpa luapan-luapan emosi membuat semua itu menjadi terasa sia-sia, kenyataan yang sungguh berbanding terbalik dengan dunia sepakbola Indonesia yang selalu menjadi anak bawang dan kambing hitam oleh pemerintah.

Setelah peluit tanda pertandingan berakhir dibunyikan, saya merasa sangat beruntung bisa merasakan atmosfir sepakbola Indonesia, walaupun carut-marut kompetisi maupun kebobrokan PSSI terus menjadi kendala, saya sangat bersyukur menjadi suporter sepakbola Indonesia.

Final Score:
SAFFC – 4 vs 1 – Geylang United
[ad#twitter]