Sea games laos

Sea games laos

Dua pertandingan terakhir penyisihan Grup B kontes sepakbola SEA Games XXV antara tuan tumah Laos dengan Singapura dan Indonesia vs Myanmar tetap akan digelar di Stadion Chao Anouvong, Vientiane, Kamis (10/12).

Dalam jadwal yang sudah disusun jauh-jauh hari, yang akan lebih dulu dipertandingkan adalah laga antara Indonesia vs Myanmar mulai pukul 15.00 WIB, disusul duel tuan rumah Laos dengan Singapura pukul 17.45 WIB.

Dua pertandingan pamungkas penyisihan grup ini sangat berpengaruh terhadap peluang keempat tim dalam menerjang babak semifinal. Untuk penentuan dua tim yang berhak masuk ke babak empat besar ini, sistem yang dipergunakan adalah head to head dan kemudian selisih gol.

Berdasarkan sistem head to head itu, maka tuan rumah Laos tetap berhak lolos ke babak semifinal seandainya pada pertandingan terakhirnya gagal meraih kemenangan atas Singapura yang lebih diunggulkan. Dengan demikian, kemenangan Indonesia atas Myanmar sudah tidak berpengaruh lagi, karena Indonesia sebelumnya dikalahkan oleh Laos.

Akan berbeda situasinya jika Laos yang memenangkan pertandingan melawan Singapura, sehingga berhak untuk memimpin klasemen dengan nilai tujuh. Dengan demikian, Indonesia seandainya pun menang atas Myanmar dan mengumpulkan nilai empat, harus berhitung selisih gol dengan Singapura yang sama-sama mengoleksi nilai empat.

Diantara empat tim di penyisihan Grup B ini, Singapura sementara memimpin dengan perolehan nilai empat dan selisih gol 4-2, dari hasil seri 2-2 dengan Indonesia dan menang 2-1 atas Myanmar. Tuan rumah Laos membayangi di posisi kedua dengan nilai empat namun selisih golnya 3-2, dari seri 1-1 dengan Myanmar dan unggul 2-0 atas Indonesia. Myanmar di posisi ketiga dengan nilai satu dan selisih gol 2-3, disusul Indonesia dengan nilai satu dan selisih gol 2-4.

Dari kalkulasi apa pun, peluang Singapura dan Laos untuk menapak ke babak semifinal jauh lebih besar dibanding kans Indonesia dan Myanmar. Perhitungan yang paling realistis adalah Singapura dan Laos bermain safe untuk kemungkinan besar saling berbagi satu angka. Jika kedua tim “bermain mata”, maka apa pun hasil pertandingan antara Indonesia dengan Myanmar sudah tidak berarti lagi.

Kemungkinan “main-matanya” Singapura dengan Laos ini dicermati juga oleh Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dan manajer tim Indonesia Andi Darussalam Tabusalla.

“Sebenarnya akan lebih baik jika pertandingan kedua tim digelar bersamaan sehingga akan sama-sama menegangkan,” ungkap Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang akan menghadiri upacara pembukaan SEA Games XXV Rabu (9/12) sore besok dan kemudian menyaksikan pertandingan antara Indonesia dengan Myanmar, Kamis.

“Kita semua berharap agar Singapura dan Laos sama-sama tampil dengan fighting-spirit tinggi dan tidak mencederai sportivitas sepakbola,” tegas Nurdin Halid, merujuk pada kemungkinan Singapura dan Laos akan “main-mata”.

Tanpa bermaksud mencari alasan atas kekalahan timnas Indonesia atas Laos, Nurdin Halid menyebutkan tentang kondisi Stadion Chao Anou-vong yang sangat menyulitkan tim tamu mana pun untuk meraih kemenangan atas tim tuan rumah. Dia kemudian mengulangi penegasan para pelatih timnas Indonesia tentang tekanan luar biasa dari penonton, dan kondisi stadion Chao Anouvong yang tidak menguntungkan bagi pemain lawan.

“Saya sudah mendengarkan laporan dari manajer tim dan pelatih, kondisi Stadion Chao Anouvong dan tekanan yang hebat dari penonton sangat menyulitkan untuk tim mana pun. Masyarakat Laos baru kali ini menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola yang membawa nama bangsa melalui SEA Games ini, jadi tidak mengherankan bila entusiasme sangat dashyat,” tegas Nurdin Halid.

Manajer tim Andi Darusallam Tabusalla menyatakan, secara umum kemampuan teknis para pemain Laos tidak di atas pemain Indonesia. “Pemain kita saja yang tidak bisa mengeluarkan kemampuannya secara optimal karena mental mereka terpengaruh oleh tekanan luar biasa dari penonton,” jelas Salam, sapaan akrabnya.

Kendati demikian, tambah Salam, di sisi lain harus diakui juga bahwa kekuatan Laos sekarang ini mengalami peningkatan luar biasa, apalagi setelah ditangani oleh pelatih Alfred Riedl yang “dipinjamkan” oleh Vietnam. “Laos yang sekarang ini bukan lagi Laos yang dulunya menjadi tim anak bawang di ASEAN,” jelas Salam.

Dalam catatan sejarah, Laos hampir tak pernah memenangkan pertandingannya dengan timnas Indonesia, baik di zaman saat timnas dihubi para pemain legendaris seperti Ramang Paduai, Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris dan Ronny Pattinasarany, atau di era timnas 1980-an hingga 2000-an.

Dulu, timnas Indonesia seringkali meraih kemenangan dengan skor besar. Bahkan, pada penyisihan grup SEA Games 2005, timnas Indonesia masih mampu “menelan” Laos dengan skor 4-0.
[ad#twitter]