Let’s Kick Racism Out of Football

Let’s Kick Racism Out of Football

Oleh Hedi Novianto,

Salah satu musuh sepakbola yang paling abadi adalah rasisme. Bahkan pengelola kompetisi harus menggalang banyak aksi dan aturan untuk menghapusnya. Slogan Let’s Kick Racism Out of Football paling populer dan mudah terlihat di seantero lapangan hijau.

Tapi makin jauh program itu berjalan, semakin panjang pula daftar pelecehan atas nama ras yang terjadi. Italia, Serbia, Spanyol dan Prancis adalah tempat di mana rasisme masih sangat subur. Sasarannya adalah mereka yang berkulit hitam.

Tapi konon modus operandi belakangan ini bukan lagi atas dasar rasisme semata. Suporter melakukan pelecehan ras atas dasar kebencian pada pemain lawan dan juga untuk mengganggu fokusnya bermain. Kebetulan mereka yang dilecehkan adalah pilar penting tim.

Musim lalu, suporter Madrid rajin menghina pemain berkulit hitam yang mengunjungi Santiago Bernabeu. Anehnya, El Real juga punya pemain berkulit hitam.

Musim ini, pendukung Juventus sudah dua kali menghina striker Italia dan Inter Milan, Mario Balotelli, walau tidak sedang menghadapi Inter. Slogan nyanyian mereka memang bernada rasis; “Tak ada orang Italia berkulit hitam.” Sebuah perlawanan terhadap status Balotelli yang lahir di Palermo dari pasangan imigran asal Ghana.

Uniknya, di Juventus pun ada pemain berkulit hitam yang kebetulan bukan orang Italia — Momo Sissoko.

Tiga musim lalu, pendukung Inter juga melakukan hal tak terpuji. Mereka melecehkan bintang Messina asal Pantai Gading, Marc Zoro. Bahkan Zoro nyaris akan meninggalkan lapangan dengan cucuran air mata. Tragis sekali karena di kubu Inter masih ada sosok pemain berkulit hitam asal Brasil, Adriano.

Italia memang salah satu negeri dengan tingkat rasisme tertinggi di dunia. Perlakuan berbeda bukan cuma dialami oleh mereka yang berkulit gelap. Gelandang Juventus Mauro Camoranesi yang kelahiran Argentina pun kerap menjadi korban rasis meski tidak di atas lapangan. Padahal Camoranesi merupakan keturunan Italia (lihat nama marganya!) dan pemain nasional Italia (dari proses naturalisasi).

Dari berbagai kasus itu, maka pengamat semakin yakin bahwa pelecehan di dalam stadion hanya bermotifkan kebencian terhadap pemain lawan dan sekaligus menganggu permainannya. Bagaimana mungkin mereka menghina pemain berkulit hitam di kubu lawan sementara di tim sendiri juga ada pemain berwarna kulit yang sama.

Motif ini pula yang pernah dipakai oleh kapten Persik Kediri, Haryanto, ketika menghina pemain asing yang menjadi lawannya. Kepada komisi disiplin, Haryanto membantah telah melakukan pelecehan rasialis. Tapi kepada wartawan yang menunggunya di depan kantor PSSI, dia mengakui tindakannya bukan serta merta rasis.

“Aku mangkel, mas. Susah banget jaganya, ya sudah sekalian aku hina. Tapi itu cuma kekesalan biasa, bukan rasis. Wong di timku juga ada pemain hitam kok,” katanya dalam bahasa Jawa yang medok.

Sepakbola hanyalah satu panggung dari fragmen kehidupan lainnya. Lapangan sepakbola juga bisa menjadi sebuah transformasi kehidupan. Seperti yang terjadi di Italia. Apa yang ada di luar lapangan, bisa juga terjadi di dalam lapangan.

FIFA, UEFA dan berbagai pengelola sepakbola terus menerus melakukan tindakan preventif. Yang paling keras adalah menghentikan pertandingan atau mencoret klub (yang pendukungnya melakukan pelecehan rasis) dari kompetisi.

Tapi ini belum pernah terjadi. Meski suara pelecehan suporter menggema di dalam stadion, wasit bergeming. Mungkin saja wasit mendengar, mungkin juga tidak. Wasit juga mungkin menghadapi dilema yang sama; apakah itu rasis atau hanya kebencian semata? Ini yang belum diatur secara gamblang di dalam aturan permainan.
[ad#twitter]