Zen Rachmat Sugito – detiksport

Budi sudarsono

Budi sudarsono

Kualifikasi Piala Asia U-19 usai sudah. Tim nasional Indonesia yang sepenuhnya diisi para pemain yang berlatih di Uruguay selama dua tahun hanya bisa menempati peringkat ketiga dan gagal lolos ke putaran final. Tak lama sesudah itu, tim nasional senior gagal menaklukkan Kuwait di kandang sendiri. Ini kegagalan bernilai ganda: selain peluang lolos ke Piala Asia nyaris tertutup, kegagalan ini juga diimbuhi permainan buruk dan sarat tackling-tackling kasar yang kadang memalukan.

Reaksi terhadap dua kegagalan tim nasional itu beragam. Untuk tim nasional senior, umumnya publik merasa itu sebagai sesuatu yang wajar. Permainan yang minim kreativitas, stamina yang tak ajeg, dan emosi yang tak terkendali menjadi faktor minus yang banyak membuat sebal. Berkali-kali pemain Indonesia melakukan tackling yang bukan hanya kasar, tapi juga tak penting. Menggemaskan, memang, menyaksikan pemain sekelas Ismed Sofyan atau Ponaryo Astaman melakukan tackling kasar di areal yang justru tak berbahaya.

Puncaknya adalah saat Ismed menerima kartu kuning kedua di menit-menit awal babak kedua. Sungguh tackling tidak penting. Tapi publik yang cukup sering mengikuti tim nasional pasti tak merasa aneh dengan ulah “urakan” Ismed. Pada 12 Oktober 2004, saat menghadapi Arab Saudi di laga Pra Piala Dunia 2006, Ismed juga diganjar kartu merah, yang membuat Indonesia kalah 1-3. Pada laga Piala Asia 2007, juga saat melawan Arab Saudi, Ismed lagi-lagi melakukan pelanggaran tak penting hanya beberapa saat setelah ia masuk sebagai pemain pengganti. Hasilnya: Indonesia harus kebobolan gara-gara tendangan bebas itu.

Simaklah bagaimana Ismed, salah satu pemain paling senior di tim nasional, merefleksikan pelanggaran yang dibuatnya pada Piala Asia itu. Pada 28 November 2008, menjelang Piala AFF, kepada sebuah situs berita Ismed mengucapkan kalimat ini: “Yang saya lakukan di Piala Asia sebenarnya tidak terlalu fatal.”

Lihatlah bagaimana seorang Ismed bahkan tak tahu betapa fatalnya pelanggaran yang pernah dia lakukan. Jika pelanggaran seperti itu pun dengan mudahnya dianggap enteng, tak perlu diherankan juga jika Ismed (lagi-lagi) melakukan kesalahan fatal yang merugikan tim.

Ismed, bagi saya, adalah cermin paling sempurna dari ketidakmampuan manajemen sepakbola Indonesia belajar dari masa lalu dan dari kesalahan-kesalahan yang pernah dibikin. Di situ, Ismed adalah simbol paling kontemporer betapa sepakbola Indonesia memang mengidap rabun dekat dan rabun jauh sekaligus: kesalahan terbaru dan kesalahan yang sudah jauh sama-sama tak pernah diingat dan digunakan sebagai bahan introspeksi.

Di level itu pulalah, barangkali, penyikapan terhadap tim nasional U-19, yang juga gagal lolos ke Piala Asia U-19, sebaiknya diposisikan.

Berbeda dengan penyikapan terhadap kegagalan tim nasional senior saat menghadapi Kuwait, Syamsir Alam, dkk., dianggap oleh banyak kalangan sudah memberi penampilan yang tidak mengecewakan.

Kekalahan telak oleh Jepang dan kekalahan tipis oleh Singapura tampaknya agak “dilupakan” berkat kemenangan atas Taiwan dan Hong Kong serta hasil seri saat berhadapan dengan tim kuat Australia. Penampilan elegan Syamsir Alam, kelincahan Alan Martha, kecepatan Abdul Rahman Lestaluhu, atau dribling Yericho Kristiantoko dianggap cukup menjanjikan.

Saya bisa memahami komentar-komentar positif macam itu, terlebih melihat permainan tim abal-abal tim nasional senior, atau performa tim nasional U-23 yang dipersiapkan menghadapi SEA Games di Laos pekan lalu juga kalah dari Malaysia dalam laga uji coba yang keras dan ricuh.

Tiga penampilan terakhir Syamsir Alam, dkk., dirasa sebagai sehembus angin segar di tengah berita-berita tak enak mengenai penampilan tim nasional senior. Harapan, tentu saja, amat penting. Tapi, saya khawatir, kita terlalu permisif dan longar dalam menyikapi perkembangan sepakbola Indonesia.

Dari masa ke masa, kita terlalu mudah berharap, terlalu gampang berbangga hati. Masih saja beredar “kebanggaan kecil” bisa menahan Uni Soviet 0-0 di laga pertama Olimpiade 1956, padahal di laga berikutnya Indonesia keok 0-4. Juga pretasi menahan seri Korea Selatan pada final grup II Asia di Senayan pada Pra-Olimpade 1976 kendati kemudian kalah di adu penalti.

Masih jelas juga ingatan bagaimana kita dengan mudah berbesar hati saat tim nasional U-19 yang berlatih di Italia (PSSI Primavera) “hanya” kalah 1-2 dan 0-1 oleh Korea Selatan pada ajang pra-Olimpiade 1996. Mengalahkan Bahrain dan hanya kalah tipis dari Korea Selatan dan Arab Saudi pada Piala Asia 2007 silam pun sudah membanggakan, padahal Indonesia gagal lolos ke putaran berikutnya dengan status sebagai tuan rumah.

Memang betul, Korea Selatan, Jepang atau Australia levelnya masih ada di atas Indonesia. Tak salah juga menyebut Syamsir Alam, dkk., masih punya masa depan, seperti halnya publik juga dulu pernah berkata demikian pada pemain tim nasional “Primavera” macam Kurniawan, Bima Sakti, Aples Tecuari sampai Kurnia Sandi.

Media massa juga kadang ikut-ikutan latah. Kurniawan “cuma” bermain di Lucerne B saja sudah diliput besar-besaran. Kurnia Sandi “hanya” berlatih di Sampdoria pun ditulis banyak, sampai-sampai pernah sebuah tabloid olahraga terbesar di Indonesia merasa perlu meliput momen di mana Kurnia Sandi kemungkinan –baru kemungkinan– masuk ke daftar pemain cadangan Sampdoria gara-gara kiper kedua dan ketiga Sampdoria didera cedera.

Yang terbaru, komentator televisi saat laga terakhir Syamsir Alam, dkk., berkali-kali mengutip ucapan pelatih tim nasional U-19 dari Uruguay, Cesar Paylovich, yang mengabarkan beberapa klub Uruguay tertarik dengan bakat Yericho yang katanya mirip Roberto Carlos. Dimirip-miripkan ini juga kelatahan yang dulu amat sering diucapkan presenter siaran langsung Liga Indonesia atau Tim Nasional. Firmansyah disebut sebagai “Rio Ferdinand-nya Indonesia” atau Elli Aiboy pernah saya dengar dari komentator televisi sebagai “Thiery Henry-nya Indonesia”.

Saya tidak sedang mengabaikan apa yang disebut sebagai “proses” dan serta merta menuntut hasil gemilang secara instan. Justru karena mementingkan proses itulah maka berharap datangnya prestasi secara instan dengan mengirimkan anak-anak muda berbakat untuk berlaga di kompetisi yunior di luar negeri harus terus menerus dikritisi.

Sejak era kepemimpinan Ali Sadikin, Kardono, Azwar Anas hingga sekarang dipimpin “bos besar” Nurdin Halid, PSSI tak pernah bosan mengirimkan tim nasional untuk berlatih di luar negeri. Dari mulai PSSI Garuda, Pratama, Binatama, Primavera, Baretti sampai yang terakhir PSSI SAD di Uruguay. Semua proyek itu hasilnya sama: serba nyaris.

Terus berbesar dan berbangga hati karena deretan prestasi yang hanya serba “nyaris”: nyaris lolos ke Olimpiade, nyaris menang atas Australia atau Korea Selatan dll membuat PSSI kehilangan momentum untuk menyadari kesalahan dan kegagalan.

Saya sangat menghormati perjuangan Syamsir Alam atau Alan Martha, seperti juga saya menghormati kerja keras Bima Sakti, Aples Tecuari atau Kurniawan Dwi Julianto yang bisa mengimbangi dan (hanya) kalah tipis dari Korea Selatan pada 1994. Justru karena kita menghormati jerih payah merekalah kita selayaknya tidak terlalu berharap, berbesar hati atau berbangga hati.

Carut marut dan beban sejarah sepakbola Indonesia terlampau berat untuk dipikul oleh remaja-remaja berbakat seperti mereka. Kadang, saya merasa, “kita” terlalu memberi beban yang tak semestinya pada tulang mereka yang masih ringkih itu.

Oya, kata “kita” di atas sebaiknya diganti dengan kata PSSI. Boleh kok diucapkan dengan keras-keras. Itu malah dianjurkan, kendati saya tak yakin teriakan keras dengan toa sekali pun masih bisa didengar “bos besar” Nurdin Halid, yang pada 17 November kemarin merayakan ulang tahunnya yang ke-51.

Penampilan tim nasional senior menghadapi Kuwait adalah kado  yang mau tak mau harus diterima oleh Nurdin. Entahlah apa itu kado yang manis atau pahit. Mungkin Nurdin juga tak bisa membedakan, toh ia juga tak tahu bedanya kegagalan dan keberhasilan.

=
bannekcr
*) Penulis adalah penggemar sepakbola, editor di Indonesia Boekoe Jakarta. Tulisan ini bersifat opini pribadi dan tidak mencerminkan sikap redaksi. ( a2s / a2s )
[ad#twitter]