Oleh Bayu Bergas

Timnas Brazil

Timnas Brazil

SEBUTLAH lelaki berambut gondrong dan kurus itu Arif Papi. Sepakbola adalah hidupnya. Bukan, ia bukan seorang striker haus gol. Papi juga bukan bek handal, apalagi penjaga gawang. Ia bukan siapa-siapa, melainkan hanya seorang ‘playmaker’.

Tapi tunggu. Bukan di lapangan ia tampil. Tak pernah ia berlatih. Tak pernah ia mendapatkan bayaran dari klub. Papi hanya sesekali meraih bayaran, karena tak seluruh taruhan ia menangkan. Taruhan? Ya.

Sayangnya, bukan soal taruhan yang akan kita bahas. Ada yang lebih menarik darinya, yakni seorang pecandu yang benci sepakbola Indonesia.

Bertanyalah kepada Arif Papi semua hal tentang sepakbola Indonesia. Tak ragu, ia hanya akan menjawab acuh tak acuh, masa bodoh dan delapan puluh persen caci-makilah yang terlontar. Hufff, betapa bencinya ia akan sepakbola tanah air. Tanyalah semuanya pada Papi, tapi satu hal: jangan tanyakan soal PSSI padanya. Meludah adalah jawaban paling ringan.

Merasa penasaran, seorang kawan pernah menanyakan, apa yang membuat Papi benci bukan kepalang. Dan, baiklah, ini jawaban Papi.

Langkah pertama menurutnya adalah membandingkan. Kenapa? Ya karena pada hakekatnya menilai adalah membandingkan. Lantas dibandingkannya sepakbola kita dengan Brazil. “Aduh! Apa tak terlalu tinggi tuh?” protes kawan tadi. Papi hanya tertawa menunjukkan giginya yang kuning.

Apa bedanya kultur sepakbola kita dengan Brazil, ia balik bertanya. Masih bengong kawan tadi, Papi langsung meneruskan. Tak ada bedanya kita dengan Brazil. Lihatlah, dari hitungan ekonomi kita dan Brazil sama dalam status negara dunia ketiga. Regio Asia dan Amerika Latin tak ada beda. Secara geografis, bermain bola di daerah pasir pantai untuk melatih fisik, misalnya, sama bisa dilakukan.

Di Brazil, anak-anak kecil bermain di sudut-sudut jalan, atau di petak lapang kecil. Indonesia? Lihatlah tiap sore, anak-anak tak lagi berpusing hujan atau tidak, mereka asyik menendang.

Bahkan, sebenarnya soal populasi penghuninya, Indonesia lebih banyak. Paling tidak 206 juta manusia Indonesia pada tahun 2000. Pada tahun yang sama, Samba hanya 169 juta. Perkiraan si pintar Wikipedia, pada 2006, Negeri Si Tonggos Ronaldinho itu mencapai 188 juta orang sedangkan kita sudah masuk 222 juta. Nah, populasi ini berguna untuk membuat statistik kemungkinan (probabilitas) anak-anak bangsa menjadi pemain bola handal.

Soal fanatisme publik secara umum, jangan tanya. Ambillah contoh yang paling ganas. Toh, Papi yakin, hooligans bukan tandingan suporter Indonesia. “Hooligans itu harus mabuk dulu, baru rusuh. Padahal kalau sedang mabuk kan ndak takut apapun. Lha, kalau suporter Indonesia tak perlulah sampai mabuk,” katanya mantap.

Tentu bukan soal bikin rusuh atau mabuknya yang kita ambil. Melainkan harapan, asa, fanatisme dan keinginan mereka untuk melihat sepakbola kita maju. Arif Papi tak asal omong, karena banyak orang sudah lama berpikir sepertinya. Brazil dan Indonesia tak ada beda, apalagi kalau menengok sejarah sepakbola kita.

Berhenti? Belum. Nah, sekarang tanyakan padanya, di mana letak kesalahan sepakbola kita. Tapi satu hal, jangan bilang PSSI tak bersalah dalam hal ini. Asbak atau benda terdekat bisa melayang ke muka kita.

Arif Papi benci, sepabola Indonesia tak maju-maju.*
[ad#twitter]
[ad#kumpulblogger]