Oleh Aji Wibowo

Calon Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Calon Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Sungguh tak dinyana, ternyata blog Bangun Suporter ini mengalami pakum dan rumpang selama lebih dari setengah tahun. Ada banyak sebab dan alibi yang melatari terjadinya kekosongan kontribusi ini. Yang pertama, keprihatinan teramat dalam yang nyaris menuju pada sikap ignoransi seorang suporter akibat bertaburnya harum-scarum di ranah sepak bola nasional. Prestasi membanggakan belum kunjung tiba sedang permasalahan demi permasalahan justru silih berganti datang menyambangi tiada henti. Perubahan dan revolusi PSSI menjadi sekadar utopia, setiap kritik dan bahkan himbauan dari figur kuat seperti wakil presiden, menteri pemuda dan olahraga, ketua umum KONI pun hanya menjadi angin lalu. Perubahan telah menjadi sebuah tulisan kosong dan hening tak terdengar seperti pada posting Revolusia PSSI. Yang kedua, bergabung dengan BIGREDS (Bold Indonesian Group of Reds Supporters), wadah resmi penggemar klub Liverpool FC di Indonesia, sebagai membernya. Selain sebagai partisipasi untuk menyumbang sesuatu yang lebih nyata, membuka lebih luas cakrawala, menggali ilmunya, mereguk pengalamannya, dan menyerap inspirasinya. Juga sebagai katup pengaman akan potensi mentoknya sumbangsih sebagai suporter sepak bola nasional.

[ad#468]
Hingga akhirnya, di sebuah siang yang mendung, kabar sensasional Indonesia (baca PSSI) yang resmi melayangkan proposal mengikuti proses bidding untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 ke FIFA seperti menjadi petirnya. Kabar yang dilansir di berbagai media baik cetak maupun elektronik nasional ini segera menjadi kembang berita diantara berita-berita sepak bola dan olah raga nasional lainnya. Tanggapan yang diberikan pun relatif beragam, ada yang mengapresiasi dengan baik dan mendukung namun tak sedikit yang memandang skeptis.

Melihat tim nasional kita tampil dan bertanding di ajang paling prestisius sepak bola dunia adalah mimpi yang luar biasa indah dan cita-cita terbesar bagi sebagian rakyat negeri ini. Ada dua jalur yang mungkin ditempuh oleh suatu negara untuk sampai di panggung termegah sepak bola dunia. Pertama, jalur kualifikasi yaitu sebagai salah satu tim yang lolos kualifikasi dari suatu zona tertentu. Untuk mendapatkan tiket dengan jalur kualifikasi ini diperlukan tim yang kompetitif dan berpenampilan konsisten agar sanggup meraup poin sebanyak-banyaknya baik saat kandang maupun tandang. Faktanya, Indonesia yang berada di zona kualifikasi Asia belum memiliki tim yang berkemampuan mumpuni sehingga sulit untuk bersaing dengan tim-tim negara lain di benua Asia. Kekuatan mapan seperti Korea Selatan, Arab Saudi dan Jepang yang menjadi langganan tetap Piala Dunia dari Asia ditambah dengan tim kuat lainnya macam Iran, China, Qatar, dan juara Piala Asia termutakhir, Irak, sudah susah untuk dilawan. Dan masih disesaki dengan bermunculannya kekuatan-kekuatan baru nan hebat akibat pecahnya Uni Sovyet seperti Uzbekistan dan mergernya tim dari zona kualifikasi Oceania, Australia. Bahkan di kawasan Asia Tenggara, tim nasional kita lebih sering tercecer dibelakang kompetitor lainnya yaitu Thailand, Singapura dan Vietnam. Sehingga (setidaknya sampai jelang Piala Dunia 2010) data yang terpapar adalah deretan kegagalan tim nasional kita di ajang Pra-Piala Dunia (PPD).

Sedangkan jalur kedua adalah dengan menjadi tuan rumah alias penyelenggara. Dengan menjadi tuan rumah selain stadion-stadionnya dijadikan venue pertandingan maka privilege lainnya berupa lolos otomatis bagi tim nasionalnya. Sedangkan proses yang harus ditempuh untuk menjadi host kurang lebih berupa tahapan-tahapan seperti ini: pengajuan proposal ke FIFA, lolos verifikasi, kampanye dan bersaing meyakinkan anggota-anggota FIFA dengan negara-negara kandidat lain dan pengumuman.

Bisa jadi bagi sebagian orang, untuk konteks Indonesia, jalur menjadi tuan rumah tampak terlihat lebih masuk akal dari pada mengadu tim nasional kita di jalur kualifikasi. Namun hakekatnya justru terdapat lebih banyak kerumitan dan membutuhkan dana yang lebih besar. Kerumitannya bisa berupa dukungan yang tidak bulat dari seluruh masyarakat sepak bola nasional. Tidak sedikit masyarakat sepak bola nasional yang merasa bahwa ide menjadi tuan rumah Piala Dunia ini kurang tulus dan penuh kepentingan. Kerumitan lainnya berupa alur birokrasi yang bakal berliku untuk mendapat restu dan dukungan dari pemerintah. Mulai dari jenjang Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga, berlanjut pada pembahasan proposal di sidang kabinet, kemudian Keputusan Presiden dan masih harus di paparkan lagi di DPR. Dengan syarat infrastruktur yang harus memenuhi standar penyelenggaraan pertandingan tingkat dunia maka proyek ini memerlukan dana yang sangat besar mencermati belum dipunyainya stadion yang layak. Belum lagi sarana dan prasarana pendukung lainnya yang masih minim.

Namun terlepas dari segala kompleksitas jalan menjadi penyelenggara Piala Dunia, negara ini pun sebenarnya tidak memiliki “skuad” federasi sepak bola yang kompeten. Tak aneh apabila banyak yang menganggap langkah PSSI ini sebagai sesuatu yang absurdus. Sungguh tak terlintas dalam bayangan bahwa tuan rumah Piala Dunia 2022 akan diorganisasi oleh federasi sepak bola yang tidak konsisten dengan aturan yang diputuskannya sendiri, yang gagal menyelenggarakan liga domestiknya sesuai jadwalnya, yang gemar tawar-menawar sanksi, yang mengabaikan pembinaan usia dini, dan yang ketua umumnya tidak diakui oleh FIFA karena pasal kriminal.

Dan seandainya benar bahwa niat bersaing untuk menjadi penyelenggara itu di pilih atas pertimbangan agar tim nasional kita mendapat gratis tampil di Piala Dunia maka akan semakin mengkonfirmasi dan mengafirmasi budaya instan insan sepak bola kita. Sebagai wujud dari pikiran sempit pentolan PSSI Alih-alih menjadi magnum opus alias sebuah karya puncak atau prestasi terbesar yang dicapai seorang Nurdin Halid dan pengurus PSSI lainnya malah menjadi sebuah absurditas.

Alangkah lebih baiknya apabila PSSI (baca: pengurusnya) terlebih dahulu meluruskan kembali niat dan komitmennya untuk memajukan sepak bola nasional, memberesi organisasinya dan sistemnya, memikirkan klub-klub yang hendak bangkrut akibat memaksakan ikut liga berbiaya tinggi itu. Memberi perhatian dan penghargaan yang layak bagi kelompok-kelompok suporter yang setia mengkampanyekan suporter yang tertib, kreatif dan simpatik serta membina dengan sanksi yang mendidik bagi suporter yang masih gemar berbuat onar.
[ad#kumpulblogger]

[ad#twitter]