From Goal.com

Robert Enke

Robert Enke

Dari satu titik tertentu, sepakbola dekat dengan kematian. Jika istilah tersebut dipakai untuk merujuk ke sepakbola Indonesia, banyak contoh yang membuatnya tak terbantahkan.

Ketika terbetik kabar meninggalnya Robert Enke, Selasa (10/11) malam, pecinta sepakbola dunia terhenyak. Bukan hanya karena status Enke sebagai calon kiper utama timnas Jerman untuk Piala Dunia tahun depan, tetap juga motif kematiannya yang diduga bunuh diri.

Enke dikenal sebagai pribadi introvert yang lebih menyenangi membaca buku di waktu senggang ketimbang menikmati hingar-bingar dunia malam. Enke juga bukan sosok yang gemar memicu insiden-insiden kontroversial seperti halnya Oliver Kahn atau Jens Lehman. Karir Enke seperti selalu tenang di atas permukaan, nyaris tanpa gejolak.[ad#468]

Gejolak yang dirasakan Enke muncul tiga tahu lalu. Anak perempuannya, Lara, baru berusia dua tahun dan meninggal akibat kelainan jantung sejak lahir. Sejak saat itu, Enke diliputi kesedihan mendalam. Tak disangka, rasa nestapa itu pula yang menggiringnya untuk “membiarkan diri ditabrak kereta di kawasan Neustadt am Ruebenburge”.

Sebelum menjadi andalan Hannover 96, Enke sempat tampil untuk Barcelona. Entah kebetulan atau tidak, beberapa pemain Barcelona pernah melakukan bunuh diri.

Pendiri sekaligus presiden Barcelona pada awal 1900-an, Joan Gamper, bunuh diri pada 1930 ketika diusir dari Spanyol karena terlalu aktif menyokong nasionalisme Katalan.
[ad#kumpulblogger]
Pemain legendaris Barcelona dan Hungaria 1950-an, Sandor Kocsis, juga diduga melakukan hal yang sama pada 1979. Di usia senjanya, Kocsis menderita kanker perut dan leukemia. Kocsis, 52 tahun, didapati terjatuh dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat. Mungkin kejadian tersebut sebuah kecelakaan, tapi beberapa menganggap Kocsis melakukan bunuh diri.

Sergio Lopez Segu, pemain Barcelona yang pernah menjuarai Piala Winners 1989, menabrakkan diri ke kereta yang tengah berjalan untuk mengakhiri deritanya. Kakak pemain Barcelona lain, Gerard, itu pensiun dini akibat cedera lutut. Depresi menderanya, termasuk kegagalan pernikahan, hingga akhirnya Sergio dibawa ke klinik psikiatris. Saat berusia 39 tahun, 2006 silam, Sergio memutuskan mengakhiri hidup.

Contoh legenda lain yang kematiannya diliputi misteri adalah Matthias Sindelar. Pemain andalan Austria 1930-an itu tewas bersama kekasihnya di sebuah apartemen di Wina, 1939. Kematiannya diduga akibat keracunan karbon monoksida dari pemanas yang bocor. Selain diduga bunuh diri, Nazi juga dianggap terlibat karena semasa rezim pendudukan Sindelar menolak bermain mewakili bendera Jerman. Apalagi, beberapa hari sebelum tewas, Sindelar bertanding untuk tim Austria dan merayakan gol dengan penuh emosional di depan para petinggi Nazi.

Kejadian tragis lain juga menimpa Paul Vaessen, pemain Arsenal yang bunuh diri, 2001 silam. Pencetak gol kemenangan ke gawang Juventus pada semifinal Piala Winners 1980 saat masih berusia 18 tahun itu lebih banyak menghabiskan karir dengan deraan cedera. Kewalahan mengatasi tekanan, Vaessen melarikan diri ke pelukan narkoba. Dia ditemukan tewas di dalam bak mandi akibat overdosis heroin.

Kematian legenda AS Roma, Agostino di Bartolomei, juga dilanda ketidakjelasan. Pemain kebanggaan Roma sebelum era Francesco Totti dan Giuseppe Giannini itu menjalani 15 tahun karir dan memainkan lebih dari 300 partai. Di Bartolomei sukses membawa Roma meraih scudetto 1983 dan hanya kalah adu penalti dari Liverpool setahun kemudian. Tepat sepuluh tahun setelah final melawan Liverpool, Di Bartolomei menembak dirinya sendiri tepat di jantung, karena terdesak masalah finansial.

Kematian Justin Fashanu juga hangat diperbincangkan. Fashanu terkenal sebagai pesepakbola pertama yang mengaku diri sebagai gay. Fashanu juga terkenal sebagai pemain berkulit hitam pertama yang dinilai 1 juta saat ditransfer ke Nottingham Forest, 1981. Karirnya mulai jatuh setelah manajer Brian Clough menuduh dirinya homoseksual. Pada 1998, Fashanu tersangkut tuduhan mencabuli anak berusia 17 tahun. Pemain yang berusia 37 tahun saat itu gantung diri dengan meninggalkan catatan bahwa dirinya sudah dianggap bersalah sebelum dibuktikan pengadilan.

Masih panjang daftar pemain terkenal lain yang mengakhiri hidupnya sendiri. Beberapa yang pernah berpartisipasi dalam Piala Dunia, seperti kiper Kosta Rika Lester Morgan (tampil di Korea Selatan/Jepang 2002), gelandang Bolivia Ramiro Castillo (Amerika Serikat 1994), Eric Schaedler dari Skotlandia (Jerman 1974), serta kiper Brasil Carlos Jose Castilho yang tampil di Piala Dunia 1950 hingga 1962.

Kematian Enke, serta para pemain yang telah diceritakan tersebut, akan terus dikenang. Mudah-mudahan ketika Piala Dunia 2010 digelar Juni tahun depan, segenap pecinta sepakbola di setiap penjuru dunia mau menundukkan kepala sejenak dan mengenang karir serta kehidupan yang pernah dijalani seorang Robert Enke.
[ad#twitter]
[ad#468]