Stadion Sriwedari, Solo, membawa nama harum Solo. Selain itu, stadion tersebut pernah menjadi kandang Arseto Solo dan Persis. Kini stadion bersejarah tersebut terancam dibongkar.

Saat ini, Stadion Manahan menjadi sta­dion paling megah di Solo. Tapi, sebelum 1998, Kota Bengawan tersebut me­miliki stadion kebanggaan, yakni Stadion Sriwedari. Letaknya sekitar tiga kilometer ke selatan dari Stadion Manahan.

Di Stadion Sriwedari, untuk kali per­ta­ma Pekan Olahraga Nasional (PON) di­laksanakan pada 1948. Tonggak sejarah tersebut tidak pernah luntur dimakan wak­tu sampai sekarang. Stadion yang berdiri pada Oktober 1933 itu juga kental dengan nuansa budaya setelah didirikan oleh Susuhunan Pa­ku Buwono X.

Perubahan nama menjadi Stadion R. Maladi pada 2008 seakan tak melunturkan kemegahannya. Di tempat itu pula, klub sepak bola Arseto Solo dan Persis Solo berkibar.

Namun, geger perebutan Taman Sriwedari antara ahli waris dan Pemkot Solo membuat insan olahraga kelimpungan. Me­reka khawatir stadion yang menjadi markas tim Persis tersebut dibongkar.
[ad#kumpulblogger]
“Jangan sampai stadion itu dibongkar. Sebab, banyak kenangan di sana. Kultur sejarah dan budaya di sana wajib dija­ga,” ujar mantan pelatih Persis Eduard Tjong kepada Radar Solo (Jawa Pos Group) kemarin (11/10). Dia mengatakan, sejarah panjang ditorehkan oleh Ar­seto dan Persis. Kejayaan tersebut te­tap dikenang hingga sekarang.

Edu -sapaan Eduard Tjong- mengatakan, upaya menjaga stadion itu pen­ting untuk perkembangan olahraga. Sebab, banyak warga Solo dan klub yang sering memakai Stadion Sriwedari. Stadion tersebut juga kerap dilirik orang, termasuk Pemkot Solo, untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan.

Seiring perkembangan zaman, kondisi bangunan tua itu kini sangat memprihatinkan. Selain lapangan yang rusak, fasilitas lain seperti ruang ganti dan kamar mandi pemain terlihat kotor.

“Memang tak seasli dulu. Perubahan wajah ada pada kanopi depan. Sedang­kan lintasan lari, tribun, dan pagar masih asli,” terang pengelola Stadion R. Maladi Heri I.

Tak bisa dimungkiri, masalah finansial menjadi problem bagi pengelola. Ka­rena tak mendapat bantuan APBD, praktis manajemen stadion hanya me­ng­andalkan jasa sewa sebagai penyangga kebutuhan dana rutin. Mulai klub, pen­cinta olahraga, komunitas pedagang mobil (bursa mobil), hingga konser musik. Padahal, biaya perawatan stadion bersejarah itu tak sedikit.

“Konser musik memang bisa menjadi sumber pendapatan. Tapi, tetap saja Stadion Sriwedari ditujukan untuk kepen­tingan olahraga Solo,” bebernya.

Keprihatinan juga ditunjukkan oleh para pemain Persis. Apalagi, me­reka memiliki kenangan manis di stadion tersebut.

Masih segar dalam ingatan ketika Ka­polda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Trihatmodjo turun ke lapangan. Orang nomor satu di jajaran kepolisian Jateng tersebut bahkan memproses pemain Persis Nova Zaenal dan stopper Gr­esik United Bermard Mamadou di pengadilan karena berkelahi.

“Iya, stadion ini sangat bersejarah bagi Persis, termasuk saya,” ujar stri­ker Persis Nova.

Pembongkaran stadion justru membuat pemain Persis cemas. Sebab, pres­­tasi yang mereka ukir di situ bisa hi­lang dalam sekejap. “Di sini, saya bisa mencetak dua gol dan mengantar­kan Persis menang kali pertama di kan­dang musim lalu,” tutur striker Ya­nuar Ruspuspito. [wahyu imam/diq/jawapos]