Pendukung Persebaya bersedih ketika pujaan mereka, Javier Roca, harus angkat kaki dari Green Force. Sebagai pengganti, Persebaya merekrut Mourad Faris. Pemain asal Maroko itu justru moncer di pertandingan akhir setelah jarang diturunkan.

Mourad Faris masih berbahasa Inggris yang dibumbui bahasa Tarzan ketika baru bergabung dengan Persebaya pada awal putaran kedua lalu. Namun, hal itu sudah tak tampak lagi.

Kali ini komunikasinya lebih lancar. Dia sudah mulai paham bahasa Indonesia, meski terkadang sedikit terbata-bata. Bahkan, mantan pemain El Najma FC -tim Divisi Utama Bahrain- itu sudah akrab dengan karyawan di Pengcab PSSI Persebaya. Tak jarang dia bersenda gurau dengan mereka.

Mourad memang tampak menikmati hidupnya di tim berseragam hijau tersebut. Dia mengakui, hal itu tak lepas dari keberadaan Persebaya sebagai tim besar di kancah sepak bola Indonesia. Mourad pun kerasan dengan hiruk pukuk Surabaya.

Meski udaranya relatif panas dan sering macet, dia menyatakan suka dengan hiburan-hiburan di Surabaya. Namun, teman gelandang PKT Bontang Tarikh El Janabi itu enggan menyebutkan jenis hiburan yang disukainya. ‘Pokoknya saya suka Surabaya. Ini kota besar,’ ujarnya.

Setelah sering tidak masuk starting eleven, penampilan Mourad justru moncer ketika diberi kepercayaan dalam beberapa pertandingan terakhir. Tiga gol dicetaknya. Yaitu, ketika melawan Persitara di ajang 16 besar Copa Indonesia, menghadapi Persibo dalam pertandingan reguler terakhir Divisi Utama, serta melawan Persema Malang dalam babak delapan besar di Samarinda.

Meski jarang diturunkan, Mourad menuturkan tetap betah bergabung dengan Persebaya. Dia sangat ingin bermain lebih lama lagi untuk Persebaya. Selain karena sudah kerasan di Surabaya, keinginan Mourad tersebut tidak lepas dari prinsipnya dalam membangun karir. Dia ingin karirnya terbangun tanpa sering berpindah-pindah klub. ‘Dengan begitu, saya merasa lebih menyatu dengan klub,’ ucapnya.

Dia lantas menceritakan, karirnya dalam sepak bola selama 10 tahun belakangan terbangun dengan tiga tim saja. Yang pertama, pemain kelahiran 1985 itu bergabung dengan Fes Maghribi di Maroko selama tujuh tahun sampai 2005. Selanjutnya, dia mencari peruntungan di salah satu tim Uni Emirat Arab, Banyas, selama dua tahun hingga 2007. Petualangan Mourad berlanjut di El Najma FC, sebuah tim asal Bahrain.

Namun, keinginan Mourad untuk bertahan di Bahrain harus pupus karena terganjal sebuah kasus. ‘Dalam semifinal copa, saya emosi dan memukul wasit. Gol yang saya cetak dianulir. Padahal, itu jelas-jelas gol,’ ungkapnya. Dia pun diganjar hukuman dua tahun tidak boleh merumput di Bahrain.

Meski demikian, secara umum, Mourad tetap mengapresiasi kinerja wasit di Bahrain. ‘Tetap saja wasit di sana lebih bagus daripada di Indonesia,’ jelasnya. [rachmad setiyawan/ko/jawapos]
[ad#kumpulblogger]