2104026pArgentina merupakan salah satu gudang sepak bola. Namun, pekan-pekan ini, gegap-gempita sepak bola yang nyaris seperti agama itu, bakal menghilang dari tanah Argentina. Persoalannya, federasi sepak bola Argentina (AFA) tidak memberi izin bergulirnya kompetisi sampai utang klub-klub teratasi.

Padahal, sepak bola merupakan gairah utama rakyat Argentina. Entah, sampai kapan kompetisi sepak bola akan bergulir lagi, tak ada yang bisa menjawabnya. Semaikin lama tertunda, maka akan semakin menjadi malapetaka buat rakyat Argentina.

Utang menggunung menjadi penyebabnya. Diperkirakan, 20 klub utama di Argentina terlibat utang sampai 700 juta peso (sekitar Rp 1,8 triliun). Sudah lebih seminggu AFA mencoba mencari solusi, tapi belum ketemu juga. Sehingga, AFA membatalkan bergulirnya kompetisi yang sedianya dimulai 14 Agustus nanti.

“Satu-satunya solusi adalah uang. Klub-klub mengeluarkan belanja lebih besar daripada pendapatan,” kata Presiden AFA, Julio Grondona.

Beberapa pemegang hak siar televisi menolak tuntutan untuk membayar lebih. Sementara pemerintah Argentina melarang praktik judi lewat internet. Tak ada yang bisa mengajukan solusi logis untuk masalah ini.

“Jika tak ada sepak bola, saya akan mati. Saya sudah tak sabar menunggu setiap akhir pekan untuk menyaksikan sepak bola, menyaksikan tim kesayangan saya, Boca Juniors,” kata Ruben Tuci, seorang penggemar sepak bola.

Kesalahan utama lebih terletak kepada para direktur klub. Mereka terlalu boros, kurang kreatif berbisnis, buruk dalam akuntansi. Selain itu, beberapa pejabat AFA juga menyumbang kekacauan ini.

“Saya kesal dengan ketidakmampuan para direktur dalam mengelola klub. Merekalah yang harus dipersalahkan,” keluh seorang suporter, Delia Rosales.

Pelatih timnas Argentina dan legenda negeri itu, Diego Armando Maradona juga mengeluhkan keadaan tersebut. Menurutnya, Argentina tanpa sepak bola sebuah malapetaka.

“Saya benar-benar khawatir atas keadaan ini. Argentina tanpa sepak bola merupakan masa yang amat dramatis,” kata Maradona.

AFA mencoba melakukan negosiasi dengan TyC, pemegang hak siar televisi untuk sepak bola. AFA menginginkan agar hak siar itu dialihkan ke televisi negara, Canal 7. Namun, TyC menolak, karena sudah terikat kontrak sampai 2014. Namun, TyC sendiri tak mampu memberi hak bayaran kepada klub lebih dari ketentuan semula. Padahal, hak siar diharapkan menjadi sumber keuangan klub untuk mengatasi utang.

“Apa yang diminta AFA tak bisa kami penuhi. Apalagi, kami memiliki kontrak sampai 2014. Ini seperti halnya seseorang menyewakan apartemen sebesar 2000 peso, kemudian setelah kami sewa, minta bayaran 4000 peso,” jelas Presiden TyC, Marcelo Bombau. (AP)[ad#kumpulblogger]