Di balik keterpurukan Sepakbola Kota Semarang karena terdegradasinya PSIS Semarang ke Divisi Utama Tahun ini. Ternyata di balik itu semua Tim Pengcab PSSI Kota Semarang U-12 yang sebenarnya tidak diunggulkan di Piala Nasional Danone, membuktikan diri menjadi yang terbaik di Tingkat Nasional. Pasukan Taufan Setiaji ini merebut gelar kampiun setelah mengalahkan SSB Patriot Aceh Utara, 1-0 di Pertandingan final. Dan yang lebih membanggakan lagi adalah Kami Komunitas supporter PSIS Jabodetabek menjadi saksi dan mendukung langsung Perjuangan “Mahesa Jenar-Mahesa Jenar Cilik” itu terbang jauh ke Sau paulo Brazil.

Begitu wasit yang memimpin partai puncak kemarin meniup peluit panjang, pelatih Taufan serta manajer tim Iwan Anggoro dan kami Supporter PSIS jabodetabek yang hadir dengan sekitar 25 Personel langsung menghambur ke tengah lapangan di Sumantri Brodjonegoro, Jakarta. Kami meluapkan kegembiraan dengan saling berpelukan. Bagaimana tidak terharu DNC 2009 adalah festival sepak bola internasional tahunan yang diadakan oleh Danone Aqua. Kompetisi ini diikuti tak kurang dari 25.000 anak dari 1.700 sekolah dasar dan klub di 12 propinsi. Tidak percuma rasanya Siang hingga sore kemarin tenggorokan kami rasanya seperti mau putus karena tak henti-hentinya memompa semangat pahlawan-pahlawan muda Kota Semarang ini.

Stadion Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro yang berada di daerah Kuningan kemarin menjadi saksi kejayaan SSB Pengcab Semarang. Selain menjadi juara Danone Cup, “Cah-Cah Ndeso” itu menyempurnakan keberhasilan mereka dengan menyabet gelar pencetak gol terbanyak yang direbut kapten tim, Dwi Candra Rukmana dengan sembilan gol. Sesuai dengan informasi yang kami dapatkan dari para Penonton asal Semarang yang hadir langsung di Sumantri Brojonegoro kemarin mereka menceritakan bahwa Perjalanan anak-anak Semarang menuju tangga juara nasional tak semulus yang dibayangkan. Tim ini bahkan nyaris tak mendapat tiket ke putaran nasional. Di final region Jawa Tengah, Dwi Chandra dkk dikalahkan SSB Tugu Muda lewat drama adu penalti. Tim asuhan Unggul Virgollo itulah yang semula ditunjuk mewakili Jateng di tingkat nasional. Dalam perkembangannya, salah satu personel Tugu Muda dicurigai mencuri umur. Tim Pengcab kemudian melayangkan protes kepada Pengda PSSI Jateng. Setelah melakukan investigasi dan menemukan bukti-bukti kuat tentang pemalsuan umur, Komisi Disiplin (Komdis) mengeluarkan putusan yang isinya mendiskualifikasi SSB Tugu Muda dari keikutsertaannya di Piala Nasional Danone. Dengan keputusan tersebut, tim Pengcab otomatis menggantikan posisi SSB Tugu Muda di putaran nasional. Sebetulnya, persiapan pasukan Pengcab Semarang menghadapi putaran nasional hanya dua pekan. Namun, para pemain tak menemui kesulitan dan kembali beradaptasi.

Atas kemenangan ini Semarang mewakili Indonesia ke final Dunia Danone Nations Cup di Sao Paolo, Brasil pada Oktober untuk bertanding dengan 40 tim nasional lainnya sekaligus berhak bertemu maestro sepak bola asal Prancis, Zinedine Zidane. Yang menjadi pertanyaan kita bersama adalah, Apakah yang akan terjadi selanjutnya pada anak-anak ini?
yang jelas permasalahan ekonomi masih menjadi faktor utama susahnya perkembangan persepakbolaan di Indonesia,,,
baik dari bibit2 yg unggul yg tidak bisa menyalurkan kemampuannya karena faktor biaya maupun dari tempat penyalurannya ( SSB, Red. ) dan masih kurangnya fasilitas yg mumpuni,,,
Tapi semoga semua itu bisa teratasi dengan kemauan dari pemerintah dan kita semua sebagai pecinta sepakbola di Indonesia untuk terus berdoa dan berusaha memajukan sepakbola itu sendiri dengan segenap kemampuan yg di miliki,,,
BRAVO persepakbolaan Indonesia,,,,

Selamat berjuang adik-adikku,,,Talenta-talenta sepakbola Semarang
Suatu saat kami berharap kalian bisa mengharumkan Nama Semarang kembali dengan membawa PSIS Juara Superliga
[ad#kumpulblogger]

Ditulis Oleh Helmi Atmaja