Virus H1N1 atau disebut flu babi memang sedang mewabah.Hingga kini virus misterius ini belum ada penangkalnya.Hal serupa terjadi pada sepak bola Tanah Air. Hanya, bedanya, virus itu bernama APBD.

YA, virus sepak bola bernama Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) rupanya masih sulit ditemukan penangkalnya. Bertahun- tahun PSSI, sebagai organisasi tertinggi yang berhak untuk menghilangkan virus tersebut, ternyata belum bekerja maksimal untuk menemukan formulanya.

Sebenarnya,sejak 2006 hingga sekarang, PSSI terus melakukan eksperimen untuk membawa sepak bola Indonesia agar bisa profesional. Salah satunya dengan membuat formula kompetisi bernama Liga Super. Untuk mengikuti kompetisi tersebut, semua tim harus bisa melengkapi lima aspek sebagai tim profesional, yaitu sporting, infrastruktur, legal, finansial, dan kualifikasi kepengurusan.Namun, buktinya dari lima aspek tersebut semuanya tidak berjalan maksimal, khususnya masalah dana. Menjelang kompetisi 2009/2010 yang akan digelar Oktober mendatang, ternyata masih banyak klub Liga Super yang seharusnya profesional masih “mengeluh” atau kelabakan mendapatkan dana. Alasannya klise, sulit mendapatkan sponsor ataupun investor yang harus rela merogoh koceknya hingga puluhan miliar rupiah.
[ad#kumpulblogger]
Dampaknya, mereka putus asa. Seperti Ketua Umum Persib Bandung Dada Rosada yang sempat mengatakan timnya akan mundur dari kompetisi karena mengalami krisis finansial. Bahkan, dia mengatakan timnya tidak akan bisa hidup jika tanpa dana APBD. Untungnya, niatan mundur tersebut akhirnya tidak jadi karena mendapat protes keras dari Bobotoh, pendukung setia Persib.

Kondisi serupa dikatakan Ketua Umum Persebaya Saleh Ismail Mukadar. Pria berbadan subur ini akan menunggu keputusan hasil pertemuan antara Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan PSSI, Senin (27/7), agar bisa “mengemis” dana APBD. Tragisnya lagi, tim yang sebelumnya benar-benar profesional seperti Arema Malang justru terancam gulung tikar.

Tim yang seharusnya menjadi contoh bagi tim berpelat merah itu justru mengaku angkat tangan dalam membiayai operasional klub setelah PT Bentoel yang selama ini memberi infus cairan dana kepada mereka hanya mampu mengucurkan Rp7,5 miliar. Padahal, mereka butuh sekitar Rp15 miliar. Terpaksa, sisanya mereka harus banting tulang untuk mencari dana talangan.

Beruntung Wali Kota Batu Eddy Rumpoko datang sebagai penyelamat. Eddy membuka keran dana APBD Kota Batu sebesar Rp7,5 miliar dengan dalih menyelamatkan Arema agar tidak pindah dari Malang Raya. Hal itu juga mendapat restu dari Direktur Badan Liga Indonesia (BLI) Joko Driyono.

Tapi,Pak Joko,bukankah langkah yang diambil Arema kali ini menjadi bukti kemunduran bagi sepak bola di Indonesia? Sebab, kalau memang klub kita harus profesional, seharusnya Arema yang bisa bertahan dan menjadi contoh bagi klub-klub lain yang masih mengemis uang rakyat. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya.

Seharusnya ini yang harus dipikirkan PSSI untuk mencari solusi,bagaimana klub di Indonesia bisa profesional tanpa harus menguras uang rakyat. Awalnya memang susah.Tapi, lama-lama klub akan bisa mandiri untuk mengelola keuangan yang hanya mengandalkan dana dari sponsor.

Kalau memang dana yang diperoleh klub lebih sedikit, itu akan semakin memaksa mereka untuk memanfaatkan uang tersebut semaksimal mungkin. Contohnya, dengan mengoptimalkan putra daerah sebagai pemain yang mungkin nominal gajinya lebih murah dan mungkin lebih loyal sehingga mau bekerja keras.

Sudah waktunya bagi sepak bola Indonesia menjadi profesional dalam arti sebenarnya. BLI atau PSSI juga harus berani menciptakan formula baru untuk menangkal ketergantungan klub terhadap dana APBD. Salah satunya dengan bentuk aturan yang memang tidak bisa dinegosiasi lagi.Dan,itu pun harus dijalankan dengan tegas. Memang bukan tugas yang mudah. Tapi, untuk menuju profesional, bila perlu, memang harus dipaksa.(*)

AMAR HAMSYAH
Wartawan SI   [sindo]

untuk membaca barcode / QR code diatas bisa lihat petunjuknya disini

[ad#kumpulblogger]