Oleh Yuslan Kisra

Reuters

Reuters

Teror bom yang meledak pada Jumat (17/7) pagi tadi di Hotel JW Marriot dan The-Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, dipastikan meninggalkan duka yang dalam bagi para korban.

Maklum saja karena ledakan bom tersebut membuat puluhan korban jiwa berjatuhan. Kesedihan pun kembali mengguncang tanah air, setelah sekian lama tidak mendapat aksi serupa dari teroris.

Tidak hanya para korban dari ledakan bom tersebut tentunya yang saat ini diliputi kekecewaan dan duka mendalam. Jutaan penggemar berat Manchester United (MU) di tanah air dipastikan merasakan hal yang sama.

Sebab, hanya beberapa saat setelah teror bom itu, pihak ‘Setan Merah’ yang saat ini sudah berada di Kuala Lumpur, Malaysia, langsung menggelar jumpa pers. Hasilnya, mereka menolak melanjutkan perjalanan ke Indonesia.
[ad#kumpulblogger]
Padahal, Wayne Rooney dkk sudah cukup lama ditunggu jutaan fans beratnya di tanah air. Sesuai rencana semula, skuad tim besutan pelatih Sir Alex Ferguson ini akan menghadapi Indonesia All Star, dalam laga bertajuk ujicoba di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 20 Juli mendatang.

Tapi dengan adanya teror bom yang terjadi di hotel tempat para pemain MU akan menginap selama berada di Jakarta, publik sepakbola nasional pun gigit jari. Maklum, kesempatan untuk melihat secara langsung aksi para pemain sepakbola kelas dunia itu sirna seketika.

Sekilas, batalnya kedatangan MU itu memang menjadi musibah bagi fans berat tim elit asal Inggris tersebut di tanah air. Tidak hanya itu, hal ini pun dipastikan berimbas pada ambisi PSSI untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Tapi jika kita menilik lebih dalam, penyebab batalnya MU mengunjungi Indonesia adalah sebuah teguran bagi otoritas sepakbola nasional. Khususnya kepada panitia lokal kedatangan tim juara Liga Primer musim ini, dalam menggelar sebuah event. Terutama dalam hal mengeruk keuntungan.

Kok bisa! Ya, sekiranya teror bom itu tidak ada, bisa dipastikan berapa besar keuntungan yang akan mengalir ke kocek mereka. Bagaimana tidak, setelah menetapkan harga tiket laga ujicoba MU tersebut dengan sesuka hati, mereka seolah tidak puas untuk terus mengeruk rupiah.

Harga tiket yang sudah selangit masih harus ditambah dengan embel-embel berupa kaos MU. Tentunya, dengan membayarkan sejumlah uang tambahan yang sudah pasti jauh dari harga marchedise tersebut.

Parahnya, tambahan pembayaran itu adalah suatu keharusan. Jika tidak, bisa dipastikan calon pembeli tiket kategori tertentu itu tidak akan dilayani. Hal ini membuat banyak calon penonton berteriak karena keberatan untuk mengeluarkan tambahan dana agar bisa mendapatkan tiket.

Terlebih, bagi mereka yang memiliki dana terbatas. Tapi tetap saja panitia lokal tidak bergeming. Meski dalam setiap kesempatan mereka menegaskan pembelian marchendise itu tidak diharuskan, tapi pada pelaksananya tidak demikian.

Ingat! Yang Maha Kuasa sangat benci bagi mereka yang serakah. Sekarang, panitia lokal dirundung bencana. Aling-aling menghitung keuntungan, mereka justru harus merugi karena MU batal ke tanah air. Tidak tanggung-tanggung, kerugian yang dialami ditaksir hingga sekitar Rp50 milyar.

Akankah PSSI dan panitia lakol menyadari hal ini sebagai sebuah teguran? Itu tergantung dari sudut pandang mereka melihat musibah ini. Yang pasti, banyak fakta yang telah membuktikan, jika keserakahan itu selalu berakhir tragis.[ad#kumpulblogger]