“kita ternyata memang bukan suporter, kita hanya sekelompok gerombolan.”
demikian curhat saya dalam status facebook saya senin kemarin. sebenarnya kutipan tadi adalah sebuah potongan dari tulisan Korupsi, Sepakbola dan Suporter Indonesia yang ditulis oleh pak Bambang Haryanto berikut kalimat nya

Bila benar, lalu kira-kira apa peranserta para suporter dalam menyelamatkan sepakbola kita? Suporter Indonesia sebenarnya mampu melakukan sesuatu yang berguna bagi sepakbola Indonesia, hanya apabila mereka bersedia mengasah diri mereka sendiri.

Tetapi ini bukan proses yang instan. Mengubah pola pikir sampai perilaku, semisal mengeliminasi tindakan irasional yang membahayakan diri mereka sendiri seperti naik di atas bis kota atau kereta api, memerlukan proses pendewasaan diri yang tidak bisa seketika. Suporter sepakbola kita bermental sebagai mob, gerombolan, dan dalam gerombolan itu tidak ada otaknya.

Dalam gerombolan yang berlaku adalah kompromi. Dan kompromi menyangkut hal-hal yang dangkal dan jangan berharap dari sana muncul perubahan. Masa depan sepakbola Indonesia bertumpu kepada satu-dua, sedikit dari suporter yang mau berpikir, berlaku sebagai evangelis, yang tak henti menawarkan gagasan demi gagasan untuk memicu tuas kecil perubahan.


sebuah proses pencerminan buat kita sebagai suporter, ketika tahun yang lalu mayor dan pak Bambang membuat sebuah happening art dalam demo bisu di solo. membuat kritik juga buat kita para suporter yaitu
[ad#kumpulblogger]

Kami akan membentangkan poster. Antara lain berbunyi, “Suporter Indonesia = Useful Idiots ?” sampai “Suporter Indonesia, Suporter Myopia.” Katakanlah itu gugatan kami, kepada diri kami sendiri. Karena kami selama ini menderita myopia, cadok, rabun dekat. Kita hanya mampu melihat hal-hal yang dekat, misalnya fanatisme terhadap klub berdasarkan primodialisme yang berlebihan, bahkan rela dibela dengan nyawa.

Lalu merasa dengan kecadokan semacam itu kita merasa cukup. Merasa sehat. Merasa dunia sepakbola kita sudah beres-beres saja. Kita tidak menyadari terancam hanya menjadi useful idiot, orang-orang yang bagai kerbau dicocok hidung, karena tidak berani memiliki fikiran atau pendirian yang mandiri. Konflik-konflik antarsuporter itu mungkin sengaja “dipelihara,” seperti halnya pelbagai konflik di tanah air, sehingga dapat memberikan keuntungan kepada sekelompok aktor intelektual tertentu.

Misalnya, konflik antarsuporter itu dapat “dibisniskan” dalam bentuk ajang pertemuan antarsuporter, membuat deklarasi ini dan itu, dan ketika waktu berjalan semua hal itu mudah terlupakan. Ingat, bangsa kita adalah bangsa yang pelupa. Lalu ketika muncul konflik antarsuporter lagi, terlebih lagi dengan munculnya korban jiwa, maka siklus bisnis itu berjalan kembali. Kecadokan kita yang dipelihara untuk meraih keuntungan.

Ritus dari siklus-siklus semacam sudah membuat kita kebal, sehingga mungkin sudah kita tidurkan apa itu yang namanya hati nurani. Akibatnya kemudian, kita menjadi tak hirau dengan apa yang terjadi di Senayan. Di kantor PSSI selama ini.

dan kemarin kita suporter berulang tahun kembali, dan euforia, gegap gempita dan suka cita apapun tidak terasa terlihat, praktis hanya 4 web yang memposting soal hari suporter ini (suporter.blogspot.com, ongisnade.net, supporter.web.id dan suporter.info)

jangankan kita, pihak pertama yang menjadi saksi sejarah dimana ASSI di deklarasikan saja tidak membuat laporannya pada edisi ke 1.947 nya. entah di edisi sebelumnya sudah membuat reportase soal itu atau belum.  ada kesan seolah tidak peduli atau enggan untuk memperingati hari yang sakral itu, kita memang mungkin tertalu myopia dan tidak bisa melihat kedalam diri kita sendiri soal ini.

[ad#kumpulblogger]
kita mungkin memang sebagian lupa atau tidak peduli terhadap hari tersebut, akan tetapi mewujudkan suporter yang lebih dari sekedar hanya sebagai gerombolan tetap merupakan tugas kita sebagai suporter.

n1000707401_30239999_6883Suporter blogger, demikian saya menyebutkan diri saya ketika pesta blogger 2008 kemarin. di gedung Bppt tersebut saya lebih bangga memamerkan kaos pasoepati saya dan syal indonesia di tengah hidu pikuk orang yang sibuk dengan laptop masing masing, bahkan ketika foto di wall PB08 saya memaksakan berpose engan syal tersebut agar di photo oleh si ahmad badung (yang mengenalku gara gara kaos yang aku pakai sama dengan picture profil di FB) maka ketika sesepuh suporterasal wonogiri tersebut mengatakan Rekan-rekan suporter, jadilah kalian sebagai blogger. Gunakan otak Anda, karunia demokratis dari Yang Maha Esa. Kemudian jadilah kita sebagai bagian dari solusi bagi masa depan sepakbola Indonesia. banggalah hati ini.

pada 14 november 2007 sebuah posting juga sempat aku tulis SUPORTER DIGITAL VS SUPORTER RADIKAL posting yang sempat di muat di tabliod olahraga GO ini bercerita tentang suporter cyber yang saya anggap “lebih” cerdas, dewasa, bijak dari sekedar suporter yang hanya kerjaannya berteriak dan melempar di stadion. maka harapan sebuah perubahan paradigma suporter saya harap bisa muncul dari dunia cyber. bisa dihitung jari memang para suporter yang melakukan aktifitasnya di dunia maya. tapi perubahan bukan dari banyak atau sedikitnya orang yang melakukantapi dari niat tulus masing masing pelaku. sujiwo tejdo dalam dialog di TV one menyatakan, jaman Yesus hanya ada 12 pengikut, jaman Muhammad hanya ada 4 sahabat, jaman prokalamasi hanya ada sekelompok pemuda yang menculik sukarno. Perubahan bukan dilihat dari jumlah tapi dinilai dari kekuatan individunya.
[ad#kumpulblogger]

pasoepati.net memberi contoh, ketika publik solo kurang antusias mendukung persis rekan rekan cyber dari solo membuat trobosan trobosan inovatif yang membuat publik solo bergairah lagi untuk datang kestadion, bahkan selain itu rekan rekan.net juga membantu penggalangan dana untuk pemain persis yang telat gajinya bahkan sumbangan bahan makanan juga pernah dilakukan oleh rekan rekan suporter cyber tersebut.

[ad#kumpulblogger]
bersambung
cara pandang orang  terhadap suporter