(tulisan ini gw bikin beberapa tahun lalu, dimuat di sebuah media….dan semoga tetap relevan dengan kejadian di Palembang tempo hari, saat kita menyalahkan orang lain, terutama beberapa hari ke depan, saat salah satu kandidat mulai meninggalkan lawannya)

“Kau mengkhianati Bapakmu?” Tanya Yesus dari Nazareth sambil tersenyum bijak pada Judas, salah seorang muridnya yang baru saja menciumnya. Judas tertegun dan inilah awal dari segala rasa bersalah yang kemudian menghantuinya. Sampai akhirnya ia mati gantung diri.

Judas mengkhianati Yesus demi sekantung emas yang dibayarkan oleh tentara Romawi yang memang menginginkan Yesus. Tanpa rasa, ia memberikan jiwa Yesus yang juga menyayanginya pada siksa dan penyaliban. Sementara Yesus dengan jiwa besar hanya memandang Judas dengan senyuman dan kemudian menjalani hukumannya dengan penuh iman kebenaran.

“Permainan sepakbola telah dikhianati!” teriak Sergio Cragnotti, pemilik klub Lazio ketika gol Fabio Cannavaro (saat itu bermain untuk Parma) ke gawang Juventus dibatalkan wasit. Bahkan dengan mata telanjang, siapapun tahu bahwa sundulan kepala itu dilakukan bersih dari pelanggaran apapun. Tapi wasit memang berkehendak lain.Seminggu kemudian Juventus pun resmi menjadi kampiun Serie A. Jika saja gol Cannavaro dianggap sah sehingga partai tadi menjadi seri, hasil akhir liga masih bisa berbeda. Selisih nilai memungkinkan Lazio untuk mengejar ketertinggalan angkanya. Kemenangan atas Parma memupuskan sekaligus mematahkan harapan Sergio Cragnotti.
[ad#kumpulblogger]
Sergio Cragnotti berteriak dan memprotes hasil tersebut. Ia bahkan sempat nyaris membawa kasus ini ke pengadilan. Pendapat bahwa keputusan wasit mutlak dan mereka adalah juga manusia biasalah yang kemudian mampu meredakan amarah Cragnotti. Ia mencoba untuk sabar, dan hasilnya terlihat setahun kemudian. Ketika biru langit miliknya ini mampu “menikam” Juventus di akhir kompetisi untuk kemudian menjuarai Serie A.

Ketika Teixeira Vitienes menunjuk titik putih hari minggu lalu, meledaklah stadion Mestalla dalam kemarahan. Canizares dengan wajah penuh kemurkaan menghampiri Vitienes dan coba memprotes keputusan tersebut. Pemain lainnya, Amedeo Carboni, Roberto Ayala, Curro Torres sampai David Albelda pun turut mengejar dan coba membuat wasit membatalkan keputusannya.

“Saya yakin menyentuh bola terlebih dulu, jika ia terjatuh tentu saja karena geraknya terhenti oleh tackle bersih tadi,” tukas Ayala setelah pertandingan. Siapapun yang menyaksikan pertandingan ini lewat layar televisi tentu akan setuju pada pembelaan bek asal Argentina tersebut. Namun, wasit punya pandangan lain dan pandangan tersebut bersifat absolut. “Wasit telah mengkhianati keadilan,” sergah Canizares. Suara senada pun dilontarkan oleh pemain lainnya.

Tapi hanya sampai situ. Tak satupun pemain Valencia berlaku berlebihan pada malam itu. Mereka memang mengejar wasit dan mempertanyakan keputusan ajaib tadi. Tapi titik penalti telah ditunjuk, pertandingan harus terus berjalan dan Valery Karpin telah diputuskan untuk mewakili Real Sociedad mengambil tendangan dua belas pas tersebut.

Jika Yesus dikhianati dengan sengaja oleh Judas, maka mungkin saja Valencia telah dikhianati tanpa sengaja. Namun keduanya memiliki persamaan yang hampir sama. Mereka sama-sama tegar menghadapi sesuatu yang dianggap sebagai kecurangan.
El Che menjawab pengkhianatan itu dengan aksi menggila di lapangan. Vicente Rodriguez bermain bagai mata pisau yang terus menyayat sisi kanan pertahanan lawan, Ruben Baraja dan Albelda bahu membahu menyeimbangkan lapangan tengah dan Mista Ferrer atau Miguel Angel Angulo bersatu menjadi dua tombak yang tanpa henti menghunjam ke dada lawan. Hasilnya, Valencia tetap berada di puncak klasemen dengan hasil seri 2-2 malam itu.
“Saya puas terhadap reaksi para pemain. Mengagumkan!” komentar Rafael Benitez pelatih tim dengan julukan kelelawar tersebut. Tentu saja ia membayangkan jika saja para pemainnya bereaksi berlebihan, memprotes, mengejar-ngejar wasit, mencekik atau bahkan memukulinya tentu saja hasil akhir pertandingan tersebut akan berbeda. “Sama saja dengan membiarkan Real Madrid menggantikan posisi kami,” tegasnya.

Tapi Mestalla memang bukan Stadion Benteng, Tangerang. Anak-anak asuhan Rahmad Dharmawan bagai tak sadar bahwa emosi adalah sesuatu yang sangat penting untuk dikendalikan dalam tekanan atau situasi seberat kompetisi liga sepakbola. Keputusan apapun yang diberikan oleh wasit—terlepas dari benar atau tidak—jika dianggap merugikan tidak harus direpon kekerasan.

Sikap tegas wasit hanya dianggap sebagai penegasan sebuah kecurangan. Hampir semua media massa nasional menangkap tangan kapten tim Bayi Ajaib sedang mencekik wasit Jimmy Napitupulu. Belum lagi rekaman adegan-adegan kekerasan lainnya yang lebih mirip adu kungfu ketimbang pertandingan sepakbola.

Emosi yang berlebihan ini yang kemudian menambah siksa bagi anak-anak Persikota. Dua kartu merah bagi dua pemain kunci adalah dua buah kerugian besar, terlepas dari apapun penyebabnya. Lihat David Beckham yang ibunya dihina sedemikian rupa oleh bek Turki, Alpay Ozalan. Lihat dampak kontrol emosinya bagi tim Inggris—setidaknya—malam itu. Bandingkan dengan yang diterima oleh si penghina di tanah Inggris.

Tak perlu menjadi Yesus atau Muhammad SAW atau Siddharta Gautama sekalipun untuk bisa memahami kontrol diri, menghargai lawan sekeras apapun prilakunya sekaligus menghargai kecurangan yang dialami.

Lazio telah membuktikannya, Beckham dan Inggris telah menunjukkan hasilnya. Bisa jadi akhir Mei nanti Valencia memberi pembuktiannya. Sebuah tim besar bukan cuma tim yang mampu menaklukkan setiap lawan dengan skor besar. Tapi juga adalah tim yang memiliki jiwa-jiwa yang besar dalam diri pemain atau ofisialnya.

Andi Bachtiar Yusuf
[ad#kumpulblogger]