Penyatuan antara intelegensi, penguasaan emosi, dan agresifitas dinamiknya gerak dipercayai mampu merangkum multi dimensi dan talenta anak serta penumbuhan prinsip nilai-nilai di dalamnya, maka dari proses itu diharapkan tercipta individu yang cerdas, kreatif, sportif, berani bertindak serta tidak minder. Tentunya banyak formula yang bisa diciptakan untuk mengolah tiga hal di atas dalam sebuah wadah yang menyenangkan.

Di Indonesia kita mengenal sosok pendidik yang telah lama memasuki wilayah ini dengan konsep “Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. (Di depan mengusung teladan, di tengah membangun/mengakomodir keinginan, di belakang memantau dengan dukungan konstruktif) Ada tiga hal besar yang bisa digaris bawahi, yakni ; teladan, membangun keinginan, dukungan.

Dalam kegiatan yang dinamakan “Turnamen Sepakbola antar SD Piala Letto”, mencoba mengapresiasi konsep pendidikan. Tentunya ini menjadi penting mengingat perkembangan pendidikan Indonesia yang kurang lebih berkutat hanya pada satu atau dua wilayah pola didik. Bukan juga ingin mengatakan bahwa kegiatan ini adalah sebuah solusi jitu satu-satunya. Apalagi bila tidak mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait, tentunya harapan besar di atas hanya nihil. Kegiatan ini merupakan satu dari sekian banyak kegiatan yang bisa dihasilkan. Sedang keberhasilannya tidak di ukur dari terlaksana atau tidaknya kegiatan ini melainkan dari sejauh mana semua elemen mampu bersinergi meningkatkan kualitas manusia dan melahirkan konsep sportifitas, solidaritas, interaksi, dan kepercayaan diri.
[ad#kumpulblogger]
Berbicara tentang sepakbola saja sebenarnya sudah cukup memberikan gambaran akan sportifitas dan kepercayaan diri. Padahal apabila mau digali lebih jauh, akan juga didapati bahwa cara bersahaja melalui turnamen ini juga akan melahirkan terapi sosial yang sangat bermutu. Misalnya saja bahwa sepakbola tidak akan berjalan baik tanpa menyatunya konsep kompetisi, sejauh mana penyikapan kompetisi dilakukan. Dalam sepakbola juga memerlukan kepercayaan diri. Melahirkan solidaritas intra dan intern, menumbuhkan lingkup interaksi sebagai pengasah wilayah afektif, dan kognitif. Dalam olah-raga apapun tentunya membutuhkan strategi termasuk sepakbola. Strategi juga merupakan kelahiran sistem primer dalam penyikapan kepada persoalan. Juga yang tidak bisa dilupakan ialah terlatihnya koordinasi tubuh yang tidak hanya berimbas pada perspektif fisik semata, namun juga terlahirnya cara berpikir positif, cara memandang persoalan, sekaligus cara menyikapinya hanya bermula dari senang-senang dan modal kondisi kesehatan tubuh dari berolah-raga.

Bahkan sebenarnya tujuan kesehatan di sini menjadi disfungsi bila dilakukan dengan niat menonjolkan diri yang menjadi bibit tidak sehat dalam perkembangan interaksi, solidaritas, dan produksi strategi diri positif lain. Strategi positif di dalamnya ada kesadaran akan kompetisi untuk berjalannya dinamika hidup, juga kepercayaan diri untuk menjadikan wilayah plural masyarakat menjadi memiliki arti. Artinya kegiatan ini menginginkan kesehatan menyeluruh yang meningkatkan fungsi potensi kemanusiaan.

Ki Hajar Dewantara dan sepakbola

Adalah Ki Hajar Dawantara yang pada hari kelahirannya ditetapkan sabagai hari pendidikan. KontribusiKi Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan dengan Taman Siswa-nya kini mau tidak mau diakui bahwa sudah demikian terdistorsi hingga bahkan mengikis semangat pendidikan yang diharapkan Ki Hajar Dewantara sendiri. Pola adopsi cara mendidik dari barat dianggap lebih relevan, sementara dalam perkembangannya ternyata kembali juga dengan pola didikan komperehensif tiga faktor dasar yang sudah dikenalkan Ki Hajar.

Keterkaitan dengan kegiatan ini ialah, bahwa segala hal sesederhana apapun menjadi memiliki nilai edukasi bila senantiasa didasari dengan konsep mencetak kepribadian unggul. Kepribadian unggul terlahir dari pola pendidikan yang menyeluruh. Sepakbola adalah simbol dari kerjasama, sportifitas, dan beberapa hal lain yang disinggung di atas. Atas dasar itu sepakbola dipilih untuk mewakili semangat pendidikan Ki Hajar, sepakbola diharap menjadi terapi aplikatif yang mengusung konsep pendidikan dan kesenangan, pembelajaran akan kerjasama, strategi, sportifitas atau kompetisi sehat, kepercayaan diri, solidaritas, interaksi, dan keteladanan lain yang bisa sama-sama dipetik. Kepribadian unggul juga bukan konsep yang semata ditimpakan kepada peserta yang notebene adalah Sekolah Dasar, namun juga kepada semua pihak yang kurang menaruh kepedulian akan betapa pentingnya memandang harapan luhur tokoh pendidikan bangsa sebagai titik tolak perubahan.[ad#kumpulblogger]