Oleh: LATIRKA TOAR.

sdddxa41HASIL akhir grand final COPA Indonesia 2008/2009 antara Sriwijaya FC vs Persipura Jayapura, Minggu (28/6) malam adalah wajah persepakbolaan Indonesia yang carut-marut. Itu artinya, organisasi semacam PSSI, BLI selaku penyelenggara kompetisi sepak bola, dan perangkat lainnya seperti komite perwasitan, hendaknya segera melakukan evaluasi mendalam tentang kebijakan-kebijakan pengembangan persepakbolaan nasional yang dinilai banyak pihak penuh borok, intrik dan kepentingan, di luar dari urusan persepakbolaan nasional.

Coba kita cermati persoalan di tengah lapangan malam itu. Mulai dari babak pertama menit terakhir, ketika Persipura mendapat peluang sepak pojok, wasit sekonyong-konyong menghentikan pertandingan, kendati bola tengah melambung ke arah Bhio Paulin yang berdiri tak jauh dari gawang Ferry Rontinsulu. Tampak jelas, Bhio Paulin kecewa. Lazimnya sebuah pertandingan sepak bola, sekalipun di menit-menit injury time, wasit akan memberi kesempatan hingga bola mati, sebelum pluit akhir dibunyikan. Masih banyak catatan kritis, sepanjang babak pertama yang (seolah) dibiarkan, kendati pemain kedua tim terlibat pelanggaran yang cukup keras, satu dengan lainnya. Salah satunya adalah ketika Imanuel Wanggai dilanggar dengan keras, hingga cedera, dan keluar lapangan.

Begitu juga di awal babak kedua, tepatnya di menit ke-59, ketika Ian Kabes – dalam keadaan tidak membahayakan, dan agak membelakangi gawang lawan – dilanggar Ferry Rotinsulu di dalam kotak 16, wasit tidak membunyikan pluit sebagai pelanggaran. Ini mungkin saja, karena pandangan wasit, (posisi yang dilanggar, dan melanggar) adalah sama. Namun, ketika bola yang tak sanggup ditangkap penjaga gawang Sriwijaya FC itu, ditendang Ian Kabes ke arah gawang, dan menyentuh tangan kanan pemain belakang Jacques Joel Tsimi – dengan mata telanjang sangat jelas terlihat tangannya bergerak menepis bola – lalu keluar lapangan, lagi-lagi wasit tak meniupkan pluit pelanggaran.
[ad#kumpulblogger]
Akibatnya, sejumlah pemain Persipura melakukan protes, dan karena sikap wasit yang kurang tegas, beberapa saat terkesan mendua, dan (seolah) tak menggubrisnya, malah memberikan kartu merah kepada Ernest Jeremiah yang bergerak seolah menanduknya karena emosi, maka sejumlah ofisial dan pemain Persipura yang sudah terlanjur tertekan sejak awal, lalu melakukan walk out, dan menolak menyelesaikan pertandingan, serta lebih memilih ‘menyerahkan’ gelar juara COPA indonesia 2008/2009 (kembali) kepada Sriwijaya FC, tentu dengan berbagai risiko.

Persipura Tak Profesional
Sikap Persipura Jayapura, tentu tak bisa ditolerir. Selaku tim Juara ISL – kasta tertinggi dalam kompetisi persepakbolaan Indonesia – tahun 2008/2009, yang didapatnya bulan lalu, mestinya Persipura menunjukkan sikap yang dewasa, matang, bermental juara, dan jadi panutan bagi tim lainnya di negeri ini. Apalagi, pemain-pemain Persipura saat ini, sudah tergolong sebagai pemain-pemain profesional kelas satu di negeri ini. Mereka telah disejajarkan dengan kaum selebritas negeri ini di bidang olahraga. Dengan kontrak rata-rata di atas Rp. 500 ratus juta per tahun, secara sosial ekonomis mereka bukan lagi ’pemain-pemain tujuhbelasan’. Tetapi mereka telah menjadi pemain-pemain profesional Indonesia, tatkala sepakbola kian menjadi industri di negeri ini. Sungguh sikap ini telah mencoreng nama baik Persipura Jayapura, dan persepakbolaan nasional yang dirancangbangun dalam lima belas tahun terakhir ini.

Secara skill, insting dan talenta, mereka memang patut dipujikan. Namun secara mental, mereka masih sangat lemah, dan memerlukan penempaan yang sungguh-sungguh. Untuk menjadi juara, yang perkasa, dan yang terbaik, tak cukup hanya memiliki kemampuan individu, bakat dan talenta. Penguasaan teknis saja di era sepak bola modern ini dirasa tak cukup, jika hal-hal yang berkait dengan non-teknis tak dapat dipahami dengan sungguh-sungguh. Pemain juara nan perkasa, akan berupaya menguasai keduanya dengan baik dan matang.

Sehingga, ketika berhadapan dengan persoalan yang terjadi di tengah lapangan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring malam kemarin itu, pemain-pemain profesional akan terus melanjutkan pertandingan hingga selesai, memberikan pelayanan prima kepada puluhan ribu penonton yang hadir, sebelum mengajukan protes dan keberatan sebagaimana aturan yang berlaku, di saat pertandingan sudah usai. Ini sikap elegan bagi sebuah tim juara yang didukung pemain-pemain berkelas.

Peluang bagi Persipura Jayapura, untuk keluar sebagai Juara COPA Indonesia 2008/2009, sebetulnya sangat terbuka malam itu. Dengan mencermati kualitas dan tempo permainan yang terus meningkat dan terbuka, kemampuan adaptasi pemain atas suasana stadion yang terus bergemuruh, serta banyaknya peluang yang tercipta, Persipura Jayapura makin menemukan chemistry-nya, dan itu tinggal menunggu waktu saja.

Sayang, Persipura Jayapura terlanjur (lebih memilih) termakan emosi, dan tidak mampu mengelola tekanan menjadi sebuah kekuatan untuk memenangkan pertarungan di kandang lawan secara elegan dan terhormat. Padahal, Persipura Jayapura punya pengalaman elegan yang sangat dihormati tim-tim lawan, berikut pendukungnya, ketika melakukan tandang dan menghempaskan Persela, Persema, Arema, Persija, PSMS atau menahan Persib, Sriwijaya FC, Persitara, Persijap, Deltras dan tim lainnya di ISL maupun COPA Indonesia. Pengalaman ini sebetulnya, bisa jadi kekuatan dan kelebihan Persipura Jayapura, ketika malam kemarin (kembali) menghadapi Sriwijaya FC di markasnya.

Mestinya, Persipura Jayapura belajar kepada Brasil di Piala Konfederasi 2009. Beberapa jam setelah Persipura Jayapura walk out di Stadion Gelosa Sriwijaya Jakabaring, Brasil terkesan seolah ‘mati-akal’ menghadapi AS yang telah unggul 2-0 di sepanjang babak pertama. Memasuki babak kedua, Brasil merubah strategi. Peluang tercipta dari sisi depan kotak 16, dan Luis Fabiano menyarangkan bola datar ke gawang Howard, 2-1. Beberapa menit kemudian, Kaka yang berada di sisi kiri gawang Howard (sebetulnya) telah berhasil menyarangkan bola melalui heading ke gawang AS – dan itu jelas terlihat dari beberapa sudut amatan di layar kaca – namun karena wasit (termasuk penjaga garis) tak melihatnya, kendati sejumlah pemain Brasil telah mengangkat tangan protes, tetapi pertandingan harus terus dilanjutkan. Dan, sebagai tim bermental juara dengan segudang pengalaman pahit dan manisnya persepakbolaan dunia, Brasil akhirnya tampil sebagai kampiun Piala Konfederasi 2009, setelah menghempaskan AS, 2–3. Luar biasa, tiga gol sepanjang babak kedua dengan strategi jitu, dan mental juara.

Belajar dari Brasil di Piala Konfederasi, dan memetik pengalaman berharga dari Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, kemampuan dan penguasaan teknis saja tak cukup, jika tak dimatangkan bersama dengan kemampuan diri menguasai dan mengelola tekanan dan emosi yang berlebihan, menjadi suatu motivasi bersama untuk tampil sebagai yang perkasa dan yang terbaik. Sepak bola adalah kekuatan dan kemampuan bersama untuk memenangkan suatu pertandingan, dan bukan kekuatan dan (semata) kemampuan teknis individu seseorang di dalam maupun di luar lapangan. Siapapun dia: pemain, pelatih ataupun ofisial. Secara teknis, pemain dan pelatih Persipura Jayapura, sudah lebih dari memadai untuk ukuran nasional. Namun secara non-teknis, mulai dari pemain, pelatih, dan (bahkan) ofisial masih memerlukan penanganan secara ekstra dan sungguh-sungguh untuk mencapai kematangan dan kedewasaan sebagai tim besar dan bermental baja. Setidaknya, ini pengamatan dari berbagai pertandingan yang dilakukan Persipura Jayapura dari musim ke musim.

Kenapa di Palembang, dan Kenapa Purwanto?
Pertanyaan ini sebetulnya, sudah ’meresahkan’ (terutama) sejak memasuki babak semi final COPA Indonesia 2008/2009. Sejumlah pihak mengkhawatirkan pemilihan tempat oleh BLI ini, dapat memicu konflik. Seandainya, ada tempat yang netral?

Suara paling vokal, datang dari pelatih Deltras Sidoarjo, M. Zein Alhadad, yang mempertanyakan kenetralan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring. Pertimbangannya, karena Sriwijaya FC adalah juara bertahan. Tentu, masih ada tempat lainnya (di luar Palembang) yang dianggap netral, dan tidak terkesan sumir dengan juara bertahan, serta kepentingan BLI selaku penyelenggara. Bagi tim-tim tertentu, tempat yang tidak terlampau jauh, akan mampu menghemat biaya operasi, dan waktu yang tersisa dapat dimanfaatkan untuk melakukan recovery di tengah-tengah jadwal yang padat, dan tak beraturan sepanjang kompetisi musim ini.

Faktor lainnya, adalah soal chemistry antara barat, dan timur. Menurut sebuah sumber, ini lebih disebabkan oleh adanya ’pertarungan’ sejak masa Liga Utama yang membagi dua kutub sepak bola Indonesia antara: barat dan timur. Itu sebabnya, pada masa itu, kebijakan pengembangan sepak bola nasional terkesan tarik-ulur antara kedua kubu tersebut, atau hanya satu kubu saja.

Sepanjang kompetisi Liga Utama, kesan acakadut dalam mengelola persepakbolaan nasional amat terasa: satu musim tertentu ’pertarungan’ dua kutub, dan di musim lainnya model kompetisi disatukan dalam kutub yang semu, dan rentan konflik. Dari sinilah, terbit berbagai catatan kelam sepak bola nasional, dari musim ke musim. Bak sebuah drama tragedi yang hampir tak pernah menyajikan akhir kisah happy ending.

Sadar atau tidak, tetapi dari berbagai kebijakan dan ’pertarungan’ inilah, lahir wajah persepakbolaan nasional yang carut-marut hingga kini. Tidak hanya pada tataran organisasi pengelola dan perangkat-perangkat pelaksananya, tetapi kondisi tersebut merambah hingga ke antartim, dan antarsuporter. Walhasil, stigma sepak bola identik dengan kerusuhan dan kekacauan, sebetulnya bersumber dari sikap dan kesungguhan pengelola sepak bola nasional yang memang tidak murni untuk pertumbuhan dan pengembangan sepak bola sebagai olahraga profesional menuju ke industri sepak bola. Serupa dengan aspek lainnya di negeri ini, sepak bola pun ditunggangi oleh kepentingan politik kekuasaan.

Balik ke COPA Indonesia, ternyata kesan itupun masih kental terasa. Pertanyaan soal tempat yang netral, menjadi pergumulan dan konflik batin antartim. Apalagi jika BLI sampai pada kesimpulan, tidak ada tempat yang memadai, dari segi keamanan dan kualitas sarana dan prasarana pertandingan. Kendati soal ini, masih dapat didebatkan lagi.

Misalnya, soal keamanan dan ijin melaksanakan pertandingan. Mestinya BLI memiliki kemampuan lobi yang (sangat) maksimal dengan (mengajak keterlibatan, melakukan koordinasi aktif, membangun pemahaman, dan berupaya meyakinkan) pihak keamanan, selain pendekatan yang dilakukan panitia penyelenggara lokal.

Dalam arti kata, sebelum BLI menyusun jadwal pertandingan, hal-hal prinsip dengan pihak penguasa, sudah dituntaskan dengan baik dan profesional. Sehingga ketika hendak mengadakan pertandingan penting dan krusial seperti grand final COPA Indonesia kemarin malam itu, BLI telah memiliki sejumlah pilihan obyektif untuk dibahas bersama para tim finalis. Itu sebabnya, Jaksen F. Tiago, Pelatih Persipura Jayapura memberikan opsi, bisa saja Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring jadi salah satu tempat dilaksanakannya acara puncak final COPA Indonesia, asal sistemnya adalah home dan away. Tak ada yang diuntungkan, begitu juga tak ada mesti merasa dirugikan.

Namun, karena opsi (semacam ini) tidak dipikirkan BLI, maka (sebetulnya), tak ada alasan apapun, hambatan dan kendala, partai grand final COPA Indonesia 2008/2009, sebagai puncak kompetisi sepak bola nasional, mestinya (maksimal diupayakan) dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno, sebagai stadion kebanggaan nasional. Selain netral, stadion ini membangun atmosfir persatuan dan kesatuan nasional.

Di sini aroma kecurigaan yang berlebihan dari tim-tim finalis, dapat dikurangi, bahkan ditiadakan sama sekali. Sehingga suasana dan ketegangan yang menekan sejak awal pertandingan sebagaimana yang tergambarkan di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring kemarin malam, dapat dihindari. Itu, jika BLI (juga PSSI), memang benar-benar mau menghadirkan sebuah pertandingan yang bermutu, obyektif dan mengesankan. Tetapi karena BLI tetap ‘ngotot’ menyelenggarakannya di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, maka seperti dugaan sumber tadi, BLI memang tidak sungguh-sungguh ingin menyajikan suatu pertandingan grand final yang menarik, berkualitas, obyektif dan tak memihak.

Indikasi lain, tambah sumber itu, wasit yang ditunjuk memimpin partai grand final COPA Indonesia 2008/2009, adalah wasit yang ‘bermasalah’ bagi sejumlah tim, seperti Persija, PSMS, Arema, dan Persipura. Dalam kepemimpinannya, Purwanto katanya, pernah beberapa kali merugikan Persipura. Sehingga secara chemistry, (sejak itu) Purwanto memang tergolong wasit yang rentan konflik dengan Persipura.

Mestinya BLI sudah mengetahui hal itu, sehingga di dalam menetapkan wasit yang hendak memimpin partai grand final tersebut, benar-benar memilih wasit yang netral dan memiliki kemampuan objektif dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Sudah tempatnya tak netral, wasitnya pun tak objektif dari kacamata salah satu tim finalis. Di sinilah kesalahan BLI. Dan ini fatal. Komdis pun tak bisa bertindak sewenang-wenang demi menegakkan aturan.

Hal yang memberatkan BLI, adalah Purwanto secara fisik tak lagi memadai memimpin partai-partai penting dan krusial semacam itu. Beberapa kali terlihat, Purwanto tertinggal jauh di belakang ketika pemain-pemain salah satu tim melakukan serangan baik cepat. Fisik yang kian menurun, mempengaruhi kecepatan dan kesigapannya di dalam mengamati permainan antartim. Belum lagi, daya pandangnya yang juga ikut menurun, sehingga kejadian-kejadian krusial sejauh lebih dari 15-20 meter di lapangan akan semakin sulit tertangkap matanya dengan jelas.

Banyak pihak menyayangkan sikap BLI menunjuk Purwanto sebagai wasit partai gran final. Purwanto memang salah satu wasit terbaik. Tetapi dari segi usia, mestinya Purwanto tidaklah tepat memimpin partai krusial tersebut. Dan ini adalah kelemahan dan keteledoran BLI.

Apakah faktor-faktor yang dibeberkan di atas, sudah benar-benar dipertimbangkan dengan matang dan objektif oleh BLI (termasuk PSSI)? Karena hakikatnya, peristiwa mogok Persipura dalam partai grand final COPA Indonesia 2008/2009, bersumber dari tekanan demi tekanan atas keputusan BLI ini.

Entah kapan, kita bisa menyaksikan sebuah pertandingan yang indah dan menarik dari anak-anak negeri ini yang bertalenta, berkepribadian luhur, dan bermental baja nan juara….

LATIRKA TOAR
Pengamat masalah sosial dan budaya,
dan tinggal di Jakarta.
[ad#kumpulblogger]