_38065450_friedel_save_apBagi penggemar sepakbola pasti sudah familiar dengan istilah Adu Penalty, dulu kita mengenalnya dengan nama tos-tosan. Agak aneh emang, sebab yang namanya to situ biasanya memakai tangan bukan dengan cara menendang bola, tapi kadung udah membudaya ya udah itu tidak harus menjadi persoalan.

Adu Penalty terjadi bila dalam babak normal 2 x 45 menit hasil pertandingan masih imbang kemudian dilanjutkan dengan babak pertambahan waktu 2 x 15 menit masih juga belum ada pemenang maka babak adu penalty harus dilakukan untuk dicari pemenang. Awalnya masing-masing tim menyiapkan 5 algojo penendang plus kiper yang bertugas menjaga gawang. Bila kelima penendang dari masing-masing kesebelasan sudah melaksanakan tugas tetapi hasil masih juga sama, maka dilanjutkan dengan penendangn tambahan hingga terjadi selisih angka.

Adu penalty sebenarnya sangat dihindari oleh setiap tim yang bertanding, sebab disini strategi dan taktik sudah tidak berlaku lagi. Dalam beberapa moment keajaiban atau dewi fortuna lebih banyak menjadi factor penentu kemenangan. Makanya FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia sempat membahas untuk menghapus system ini dari pertandingan sepakbola.[ad#kumpulblogger]

Tapi dalam babak adu penalty ada satu posisi yang akan menjadi obrolan dan perbincangan. Dalam pertandingan normal posisi ini biasanya jarang di jadikan pembahasan tetapi ketika babak adu penalty semua perhatian akan menuju ke sati sisi ini. Yap, itu adalah peran sang penjaga gawang. Bila dalam pertandingan normal penjaga gawang selalu kalah pamornya dari posisi lain seperti striker atau gelandang. Namun saat adu penalty penjaga gawang biasanya sering menjadi factor penentu kemenangan sebuah tim.

Banyak nama yang besar dan terkenal setelah melalui babak adu penalty sebut saja nama penjaga gawang Argentina di Piala Dunia 1990 Sergio Goycochea (moga-moga benar ejaannya, habis udah lama bangat … heheheh) awalanya tidak ada yang mengenal nama ini, dia hanyalah kiper pengganti dari penjaga gawang utama Argentina yang cedera dalam salah satu pertandingan. Namun kehebatannya dalam menghadang tendangan penalty mulai melejitkan namanya.

Dalam moment adu penalty pula Tim Howard kiper nasional AS dan pilar di klub Inggris Everton menjadi bahan perbincangan. Aksinya menahan tendangan-tendangan pemain Manchester United dalam babak semifinal piala FA berhasil meloloskan Everton ke final piala FA.

Begitu juga dengan Jerzy Dudek yang akan selalu diingat oleh fans Liverpool karena aksi gemilangnya dalam drama adu penalty saat mengalahkan AC Milan dalam final liga champion 2005.Bahkan sebelum drama adu penalti, Dudek juga berhasil menggagalkan tendangan Andriy Shevchenko yang bisa menjadi neraka bagi The Reds di perpanjangan waktu.

Lalu siapa yang mengenal nama Hendra Prasetya? Sebelum ini kita memang belum mengenalnya namun dalam pertandingan Playoff Indonesia Super League ketika Persebaya berhadapan dengan PSMS Medan, seluruh penggemar bola mulai mengenalnya. Dia adalah penjaga gawang Persebaya Surabaya yang sukses menggagalkan tendangan dua pilar PSMS, Zada dan oktaviani, hingga akhirnya mengantarkan Persebaya memasuiki kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Saya yakin selama ini public sepakbola Indonesia bila menyebut Persebaya akan selalu tertuju ke nama-nama seperti Anang Ma’ruf, Mat Halil, M. Taufik, Jairon Feliciano atau pemain muda Andik. Jarang kita akan menyebut nama Hendra. Namun aksinya semalam saya yakin akan membuat public sepakbola Indonesia terlebih Bonek ( Fans berat Persebaya) akan lebih mengingatnya. Maka bias jadi ditengah ketidakpercayaan pemain PSMS harus kalah lewat babak adu penalty Hendra akan bersyukur dengan adanya babk tersebut.[ad#kumpulblogger]

oleh ahmad syakib