Semarak sepakbola Indonesia terus menunjukkan eskalasi signifikan dari musim ke musim. Sejak Liga Indonesia kali pertama bergulir pada 1994/1995 hingga pentas Superliga , fenomena berdirinya kelompok-kelompok supporter semakin memberi warna kebangkitan kembali era profesionalisme sepakbola Indonesia setelah kejayaan Galatama di awal 1980-an tenggelam karena tercoreng skandal suap dan gelegar kompetisi perserikatan juga ternoda aib sepakbola gajah.

Sayang, di tengah semangat tinggi para kelompok supporter ini -yang ditandai dengan penghargaan pendukung klub terbaik dari musim ke musim- aroma tak sedap muncul dari fans club yang terang-terangan menyatakan kebenciannya kepada kelompok pendukung klub lain dengan cara tak bersahabat.
[ad#ijo]
Tak terkecuali dari Aremania, kelompok supporter yang beberapa tahun lalu mendapat penghargaan pendukung terbaik versi Panitia Copa Indonesia dan sampai saat ini dianggap sebagai “master”-nya fans club sepakbola Indonesia. Dalam setiap pertandingan di Stadion Kanjuruhan yang kerap ditayangkan televisi, Aremania membuat lagu atau chants khusus yang ditujukan kepada rivalnya, Bonekmania pendukung Persebaya. Dalam lagu yang nadanya terinspirasi dari Mars Slankers itu, Aremania bernyanyi keras, “Di sini bukan bonek-bonek janc**k….”

Kurang etisnya nyanyian yang mencaci pendukung lain rupanya juga ditiru Persikmania, yang sejak kehadirannya di kasta Divisi Utama memasang status sebagai oposisi utama Aremania, pendukung kota tetangga yang kalau dilihat dari sejarah kedua tim sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai saudara tua.

Dalam laga yang ditayangkan langsung ANTV dari Stadion Brawijaya Kediri sehari menjelang peringatan Sumpah Pemuda ke-79 antara Persik menjamu PSS Sleman, Persikmania menitipkan pesan kepada Aremania lewat yel-yel yang ironisnya mereka cuplik dari chants ciptaan “kakak”-nya itu. “Arema…. dibunuh saja…” begitu teriak Persikmania, layaknya lagu serupa dinyanyikan Aremania untuk menjatuhkan mental lawan-lawan Arema di kandang singa.

Sudah saatnya, lagu-lagu yang mengejek, mencaci bahkan menjatuhkan martabat kelompok supporter lawan diganti. Yel-yel yang menggunakan kata “bunuh”, “anjing”, maupun umpatan-umpatan lokal seharusnya diubah dengan kata-kata atau lagu-lagu kreatif yang dampaknya akan membuat supporter Indonesia mendapatkan citra positif di mata internasional, layaknya kenangan indah perhelatan Piala Asia di Jakarta pada tahun 2007 lalu.

Maju terus sepakbola Indonesia, bravo kelompok supporter Indonesia!
Hentikan Yel-yel Memaki Kelompok Supporter Lain

–jojo raharjo–

Perhatikan kata-kata “COK” sebuah kata makian yang biasa di lontarkan warga Jatim,khususnya yang biasa menggunakan kata AREK seperti Malang dan Surabaya
[ad#link_unit]

[ad#kumpulblogger]
di copi dari sini http://supporter.web.id/yel-yel-supporter-yang-tak-etis.html