“Kata kakek saya, sepakbola itu tidak menjanjikan, apalagi sepakbola Indonesia. Maka saya akan membuktikannya kalau itu salah.” Demikian ujar bayu kepada pak johan sebagai pelatih SSB. Itu adalah salah satu adegan dalam film garuda didadaku yang diputar di bioskop beberapa hari yang lalu. Film yang berkisah tentang bayu yang senang sekali dengan sepakbola akan tetapi gaya pendidikan ortodok kakek nya yang membuat ia memendam keinginan nya untuk menjadi pemain nasional.

Film garapan sutradara muda Ifa Isfansyah ini cukup cerdas. Tersaji dengan alur tentang dunia anak kecil tetapi diselipkan berbagai macam kritisi buat kita para pecinta olahraga sepakbola. Scenario cerdas seorang salman aristo membuat film ini terasa apik. Berbagai macam kritik yang bias aku catat antara lain, sepakbola Indonesia identik dengan tawuran dan tidak menjanjikan, lapangan yang semakin susah dicari (mungkin salman terinspirasi lagu “mereka ada di jalan-nya iwan fals”, kemudian dari system perekrutan U-13 yang masih menggunakan unsure KKN. Tapi terlepas dari itu semua, niat tulus sang sutradara untuk “menggairahkan” sepakbola usia dini perlu kita dukung.[ad#ijo]
Sebelum menonton film tsb aku sempat melakukan sparing futsal dengan teman – teman dari kandank jurank – nya dik doank plus mencoba melawan SSB dik doank yang rencananya tanggal 20 juli nanti diberi kesempatan berlatih bersama rio Ferdinand. Dan hasilnya ….. luar biasa kami “diajari”bermain bola dengan benar dan baik oleh mereka yang rata – rata usianya baru 13-15 tahun. Kami kalah telak.
Melihat begitu antusias dan berbakatnya generasi muda ini, secercah harapan muncul dalam diriku. Kalau memang 2020 kita tidak menjadi tuan rumah piala dunia, kita pasti tetap berlaga di piala dunia dengan kemampuan diri kita sendiri lewat generasi muda ini. Di piala Danone (danone national cup) pada tahun 2006 kita bias masuk 4 besar. Sesuatu yang seharusnya jadi modal berharga buat persepakbolaan kita. Tapi, lagi lagi kita bukanlah bangsa yang bersyukur, potensi yang luar biasa ini tidak dimanfaatkan dengan baik, pemerintah yang tidak tegas, PSSI yang korup membuat semuanya jadi tidak maksimal.
Sebentar lagi pemilu, adakah presiden yang semangat untuk membenahi sepakbola kita, satu nama sempat terbersit di benak ku, Jusuf Kalla atau JK (sorri ini bukan sebuah kampanye dan pengesahan kalau aku mendukung nya) selama ini JK menjadikan sepakbola sebagai “materi kampanye” dalam sebuah dialog di salah satu televise yang bertajuk “ JK bicara olahraga” capres dari Makassar itu menyebutkan berbagai macam hal tentang pembenahan olahraga terutama sepakbola. Yang sempat aku kutip antara lain, fanatisme yang kurang disiplin membuat bentrokan, olahraga tidak harus bertentangan dengan politik, demikian ketika menjawab tentang pertanyaan soal kerusuhan dan ditundanya pertandingan ketika pemilu, Jk juga mengatakan, olahraga akan berhasil jika dilakukan dengan latihan yang baik dan berkesinambungan. Jk juga mengenang tahun 1938 ketika kita bias lolos ke Piala dunia, walaupun masih bernama hindia belanda. Disambungkan dengan menjadi tuan rumah piala dunia 2022 jk berkata “ jangan ukur sekarang tapi lihat 13 tahun kedepan”
Selain itu jk juga mengatakan, saya sudah lama berkecimpung di sepakbola, ketika dulu di makasar utama, sebelum dilebur menjadi PSM. Seingat saya JK juga pernah bilang kepada media, “putihkan GBK” sehari sebelum Indonesia melawan korea selatan pada piala usia kemarin.
Memang JK baru membahas luar dari bagian yang bernama sepakbola dia tidak membahasnya dengan detail, tapi patut disimak konsen dia terhadap sepakbola kita, tapi yang menyinggung hati penulis untuk ditanyakan pada beliau, “bagaimana sikap beliau tentang Nurdin Halid ya???”

26 juni nanti wiranto akan melakukan nonton bareng bersama rekan rekan di http://www.sahabatmuda.com, semoga pak win terinspirasi dari film tersebut untuk memajukan sepakbola indonesia

[ad#kumpulblogger]