Musim liburan ini anak-anak Indonesia akan dihibur dengan penayangan film Garuda di Dadaku, berkisah tentang seorang anak yang memiliki bakat bermain sepakbola namun harus memendam keinginannya karena ditentang oleh sang kakek. Beruntung ia memiliki seorang teman yang meskipun duduk di kursi roda tapi memiliki semangat dan pengetahuan yang luar biasa di bidang sepakbola. Si teman inilah yang akhirnya bertindak laiknya seorang manager dan mendorong ia untuk masuk ke sekolah bola hingga berhasil lolos pada seleksi U-13 Tim Nasional. Bagaimana sebenarnya cerita menarik dibalik proses pembuatan film yang edukatif ini? Mari kita langsung dengarkan saja penuturan dari sutradara berbakat Ifa Isfansyah dan juga 3 pemain utama Garuda di Dadaku Emir Mahira, Aldo Tansani serta Marsha Aruan yang dijumpai saat konferensi pers film Garuda di Dadaku.[ad#ijo]
Awalnya Emir Mahira memang seorang penggemar sepakbola yang tergabung dengan sekolah sepak bola Arsenal di daerah Ciputat. Menurut pengakuan sang sutradara Ifa Isfansyah, ketika team Garuda di Dadaku datang untuk casting ke sekolah-sekolah bola, mereka melihat bakat Emir dan merasa menemukan sosok bayu dalam dirinya. “Kita mencari di sekolah-sekolah bola, kebetulan waktu melihat Emir dari cara dia mendribble bola, bagaimana cara dia berjalan ke pinggir lapangan mengambil minum, itu aku sudah yakin banget ini Bayu. Dari situ jugalah aku mulai mengembangkan nanti kakeknya siapa, temannya siapa dan juga ibunya siapa.”
Suasana syuting yang sengaja diciptakan seperti lokasi bermain membuat anak-anak ini bebas mengekspresikan diri mereka.  Jika Emir Mahira tidak kesulitan memerankan pemain sepakbola karena ia memang menyenanginya, begitupun dengan lawan mainnya Aldo Tansani (Hery), meskipun harus berada di kursi roda terus-terusan selama sebulan, Hery mengaku asyik-asyik saja. Emir malah menimpali kalau sebenarnya ia merasa iri dengan Aldo yang saat syuting kerjanya santai dan hanya duduk melulu, sementara Emir sampai keseleo akibat keseringan menggocek bola. Satu-satunya pemain kecil perempuan di film ini, Marsha Aruan yang berperan sebagai Zahara pun mengaku tidak keberatan dengan peran sebagai anak penjaga kuburan yang sering berhalusinasi mengobrol dengan arwah kuburan serta harus berpenampilan dekil dan berwajah kotor. “Aku sih nggak apa-apa walau wajahku dikotorin. Disitu ceritanya kan aku sering panas-panasan mungkin itu sebabnya wajahku jadi dihitamkan.”
Bekerja dengan anak-anak diakui oleh sang sutradara memiliki tingkat kesulitan tersendiri, karena kadang ketika syuting akan dimulai anak-anak tersebut masih asyik bermain-main. Tapi komitmen dari awal untuk membawa atmosfer sepakbola ke lokasi syuting membuat kru maupun para pemain merasa enjoy. Si imut Marsha bahkan berkata sangat menyukai adegan saat ramai-ramai berteriak dan nyanyi bareng di Gelora Bung Karno.
Menurut sutradara yang baru selesai menimba ilmu di Korea Selatan ini, isu sportifitas dan semangatlah yang ingin ia angkat lewat film Garuda di Dadaku “Jadi walaupun awalnya semua saling bertentangan tapi akhirnya sportif kan?”
Ifa juga mengakui kalau ia sangat menggemari lagu Garuda di Dadaku yang menurutnya sangat optimistik. Bahkan dengan sengaja ia datang ke Senayan hanya untuk mendengarkan lagu tersebut dinyanyikan oleh para supporter sepakbola nasional. Tidak hanya Ifa, ketiga bintang cilik ini juga sangat menyukai lagu tersebut, dengan fasih dan tanpa diminta mereka menyanyikan lagu Garuda di Dadaku saat menutup perbincangan dengan kami.

… Garuda di Dadaku, Garuda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang…. [ad#kumpulblogger]