Ifa Isfansyah :

Anda berawal dari filmmaker indiependent, adakah perbedaan yang paling mendasar antara membuat film pendek dengan film indie?

“Sangat beda ya karena saya harus bekerja sebulan penuh dengan kondisi fisik yang cukup berat dan harus mengatur dramatika selama 90 menit. Film panjang bukan sebuah film pendek yang dipanjangkan, tapi ini memang konsep berbeda yang harus dikerjakan dengan cara yang berbeda pula. Sebenarnya kalau bicara masalah perbedaan banyak sekali ya, misalnya saya harus bekerja dengan jumlah orang yang lebih besar, lebih professional, dimana saya tidak bisa seegois saat saya mengerjakan film pendek yang bisa semau saya, karena disini saya punya produser dan skenario yang harus saya jaga alurnya.”
Banyakkah perombakan yang terjadi saat di lapangan?

“Nggak banyak kalaupun ada hanya sesuatu yang sifatnya aku respon dilapangan. Misalnya tentang blocking dan lokasi, kalau skripnya sudah diatur sedemikian rupa. Jadi saya hanya mengatur apa yang terjadi di lapangan saja.”

[ad#ijo]
Alasannya menampilkan sumber konflik yang berasal dari sang kakek?

“Kakek itu adalah simbol dari orang tua, dalam hal ini banyak sekali Usman-Usman yang ada di Indonesia. Bagaimana orangtua itu walaupun terserahlah anaknya mau jadi apa tapi pasti punya fokus-fokus tertentu. Jadi sebenarnya ingin menyentil atau bahkan lebih bagus lagi jika bisa menampar para orang tua yang masih punya pemikiran seperti Kakek Usman ini.”


Apakah Anda sebenarnya memang pecinta sepakbola?

“Saya memang penggemar sepakbola dan saya mengerti sekali semua istilah-istilah dan informasi tentang bola yang ada di film ini.”


Kenapa pas di ending anda seakan menahan informasi tentang Bayu yang juga lolos seleksi U-13 Timnas?

“Bayu adalah karakter utamanya yang diikuti penonton dari awal cerita, jadi saya tidak menutupi tapi hanya menahan informasi bahwa semuanya lolos dan tujuannya menahan emosi penonton untuk beberapa detik saja.”


Apa proyek film anda selanjutnya?

“Pokoknya saya bisa bilang ini bukanlah satu-satunya film anak-anak saya yang saya kerjakan. Suatu saat saya akan membuat film anak-anak lagi, karena saya belum puas membuat film tema ini.”

Emir Mahira :

Sebenarnya kamu suka dengan sepakbola juga nggak sih?

“Aku memang suka bola dari kelas 4 SD dan aku memang bergabung dengan sekolah sepakbola Arsenal sudah hampir 2 tahun ini.”
Tapi aslinya kamu memang penggemar klub Liverpool?

“Nggak, aku suka Barcelona.”

Saat bermain bola kamu sering bermain di posisi apa?

“Aku seringnya jadi Midfield (pemain tengah), jadi striker juga pernah tapi lebih sering jadi Midfield karena asyik kerjanya ngoper bola dan mengatur strategi.”
Pemain bola favorit kamu?

“Bojan krkic, Samuel Eto, Leonel Messy, kalau di Indonesia, Bambang Pamungkas.”
Sekolah kamu terganggu nggak selama syuting?

“Sekolah banyak banget bolosnya tapi nggak sampai sebulan karena kan ada yang masuk setengah hari gitu. Alhamdulilah nilai rapotnya malah lebih bagus karena biasanya materi sekolah diantar ke lokasi syuting jadi sambil syuting tetap belajar.”
Ada nggak kemiripan antara kamu dengan karakter Bayu?

“Iya aku mirip, pertama suka main bola, terus suka bohongin teman, bukan bohongin sih tapi temennya saja yang percaya kalau dibohongi.”

Aldo Tansani :

Kamu nggak jenuh duduk di kursi roda terus selama sebulan?

“Jenuh sih, gimana ya namanya disuruh duduk di kursi roda selama sebulan tapi karena krunya asyik-asyik, ya aku enjoy-enjoy saja, hehehe.”
Pernah lupa nggak kalau kamu lagi akting memakai kursi roda?

“Pernah, jadi waktu itu ada semut menggigit kaki aku akhirnya aku bangun dan langsung om Ifa teriak, cut.”
Apa sih kesulitannya dalam memerankan sosok Hery?

“Nggak ada, tapi mungkin karena aku pegel duduk melulu, disekolah jadinya kebanyakan berdiri terus dan diomelin guru deh.”

Marsha Aruan :

Kamu kesulitan nggak sih memerankan sosok Zahara yang dekil dan mukanya harus dihitam-hitamkan seperti itu?

“Nggak ya, disitu kan aku jadi anak penjaga kuburan dan mungkin karena suka panas-panasan jadinya hitam.”
Menurut kamu Zahara itu orangnya gimana?

“Misterius dan pendiam, pada dasarnya sih baik hati makanya dia mau bantuin Bayu dan Heri dan dia juga punya bakat seni yang tinggi.”
Karakter Zahara agak berbeda dengan anak-anak lainnya, susah nggak sih Marsha memerankannya?

“Susah, apalagi saat pertama kali ketemu Bayu dan Heri karena selama hidupnya cuma berdua dengan bapaknya. Jadi agak bingung dan ekspresinya kan harus aneh, dan suara serta intonasinya harus datar gitu. Agak susah, untungnya setelah dikasih tahu Om Ifa akhirnya aku bisa juga.”

[ad#kumpulblogger]