Pemain: Emir Mahira (Bayu), Aldo Tansani (Heri), Marsha Aruan (Zahra), Ikranagara (Kakek Usman), Maudy Koesnadi (Wahyuni), Ari Sihasale (Pak Johan), Ramzi (Bang Duloh)
Sutradara: Ifa Isfansyah
Skenario: Salman Aristo
Produksi: SBO Films & Mizan Productions

Bayu yang masih kelas 6 SD tinggal bersama ibu dan kakeknya, Pak Usman. Bayu punya cita-cita menjadi pemain sepakbola dan masuk tim nasional. Dia memang punya bakat yang diwariskan dari almarhum ayahnya.

Tapi kakeknya dulu melarang ayah Bayu buat jadi pesepakbola karena dianggap tidak punya masa depan yang cerah. Karena itu Pak Usman melarang Bayu bermain bola apalagi menjadi pesepakbola. Bayu harus ikut bermacam-macam kursus mulai dari kursus matematika, drum sampai melukis.
[ad#ijo]
Bayu melakukan itu semua dengan terpaksa dan Cuma untuk menyenengkan hati kakeknya. Tapi hobinya yang paling utama tetap sepakbola dan Bayu mesti sembunyi-sembunyi untuk bisa bermain bola. Bayu punya sahabat dan teman satu sekolah, Heri, yang duduk di kursi roda. Heri yang juga pernah bermain bola tahu betul kalau sahabatnya itu punya bakat besar.
[ad#link_unit]

Heri selalu memberi semangat pada Bayu untuk jadi pemain bola yang hebat. Heri lalu mendapat informasi kalau ada seleksi masuk timnas U-13. Tim i nantinya akan mewakili Indonesia di arena internasional. Cara buat bisa masuk timnas adalah lewat seleksi yang diadakan di beberapa sekolah sepakbola. Salah satunya adalah lewat Sekolah Sepakbola (SSB) Arsenal. Kebetulan, SSB itu juga memberi beasiswa untuk anak-anak yang punya bakat besar dan lolos seleksi.

Bakat Bayu tanpa sengaja dilihat oleh Pak Johan, salah seorang pelatih di SSB Arsenal. Berkat dorongan Heri, Bayu pun ikut seleksi mesti tanpa sepengetahuan kakeknya. Ia berhasil lolos dan mendapat beasiswa. Bayu berencana memberi tahu kakeknya kalau sudah terpilih masuk timnas.

Untuk mempersiapkan diri ikut seleksi, Bayu dibantu Heri dan sopirnya, Bang Duloh, untuk mencari lapangan rumput untuk berlatih. Karena kesulitan mencari lapangan, Bayu pun belatih di sekitar kuburan yang dijaga oleh anak perempuan sebayanya, Zahra. Singkatnya, Bayu pun siap mengikuti seleksi.

Tapi Pak Usman akhirnya tahu kalau Bayu selama ini sudah membohonginya. Begitu tahu cucunya berbohong, Pak Usman mendadak sakit dan pingsan. Setelah kakeknya dirawat ke rumah sakit, Bayu merasa menyesal.

Ia marah pada teman-temannya dan melupakan mimpinya menjadi pemain bola. Bayu membuang semua barang-barang yang berhubungan dengansepakbola. Padahal, dia sudah terpilih untuk mengikuti seleksi masuk timnas. Akankah Bayu melupakan mimpi dan cita-citanya menjadi pemain bola?

Garuda Di Dadaku

Di Indonesia memang tidak banyak film yang mengangkat sepakbola sebagai tema utama. Padahal sepakbola adalah olahraga terpopuler di negeri ini. Jangankan sepakbola, tema olahraga pun tidak begitu banyak diangkat ke layar lebar. Tapi belakangan ini ada beberapa film yang berhubungan dengan sepakbola.

Setelah Gara-Gara Bola dan Romeo Juliet, sekarang ada Garuda Di Dadaku (GDD). Cerita tentang seorang anak yang ingin menjadi pemain bola dan memperkuat timnas jadi tema yang fresh dan menyejukkan. Di tengah serbuan tema cinta-cintaan, komedi dewasa dan horor, GDD jadi semacam embun penyejuk. Dan kebetulan juga berkaitan dengan sepakbola.

Film ini seakan mengingatkan banyak anak-anak Indonesia yang punya bakat jadi pesepakbola hebat. Bisa dibilang kita punya tim yunior yang cukup menjanjikan. Salah satu alasan penulis skenario GDD membuat film ini adalah kekagumannya pada tim U-12 Indonesia yang mampu melibas Belanda dan Jerman di sebuah turnamen internasional.

Sayangnya pencapaian seperti itu hanya sebatas tingkat yunior. Kalau sudah meningkat ke tingkat yang lebih senior, prestasi timnas justru semakin melempem. Tapi seburuk apapun prestasi tim senior kita, tetap saja banyak yang ingin menjadi pemain nasional. Mereka bangga bisa mengenakan kostum dengan lambang burung garuda di dada mereka.

Hal itu bisa direfleksikan melalui tokoh Bayu di film ini. Dibandingkan dengan Romeo Juliet (RJ), film ini memang menebarkan semangat yang beda. Wajar saja karena RJ lebih menyoroti perilaku suporter bola Indonesia yang belum kunjung dewasa. Bahkan film tersebut dilarang diputar di Bandung, Jawa Barat. Kalau GDD memang lebih punya spirit positif dan inspiratif.

Banyak pelajarang yang bisa diambil, bukan hanya tentang sepakbola tapi juga hubungan antara anak dengan orangtua, persahabatan dan juga nasionalisme. Dengan alur cerita yang ringan tapi bernas, menghibur dan lugas, GDD layak jadi tontonan keluarga. Kalaupun ada yang mengganjal, adalah adegan pingsannya kakek Usman di belakang gawang yang agak didramatisir.

Garuda Di DadakuSelain itu adegan latihan sepakbola di tempat pemakaman bisa mengundang perdebatan. Secara ide mungkin termasuk kreatif dan penuh sindiran karena semakin terbatasnya lahan bermain sepakbola di Jakarta. Tapi bagi yang kurang setuju mungkin bisa punya pendapat lain. Tapi pada intinya, dalam konteks sepakbola, kita diajak untuk tetap optimis.

Kita masih punya banyak calon pemain hebat yang suatu saat akan mengharumkan nama Indonesia di arena internasional. Entah kapan, tapi seperti halnya Bayu dan teman-temannya, kita harus tetap optimis. Kita tetap optimis dan punya sejumput harapan kalau masih banyak pesepakbola kita yang bangga saat mengenakan kostum timnas.
[ad#kumpulblogger]