Goal.com Indonesia mencoba merangkum gabungan pemain-pemain yang memiliki sisi gelap dari sudut pandang alkoholisme di luar permainan mereka di lapangan.

Secara umum, alkoholisme ini cenderung merusak potensi pemain jika kecanduan saat masih aktif sebagai pemain, dan kehidupannya juga mungkin rusak jika hal ini terjadi setelah pensiun dari lapangan hijau.

Semoga contoh dari anggota tim dengan formasi 4-3-3 ini, termasuk contoh bagaimana mereka bangkit dari dunia kegelapan itu, dapat membuat banyak pihak sadar akan bahaya terpengaruh jebakan alkohol yang terlalu banyak.
[ad#ijo]

Kiper:

Peter Shilton

Kegemilangan kiper peraih 125 penampilan terbanyak untuk timnas Inggris ini diatas lapangan dinodai dengan kesalahannya pada 1980. Shilton tertangkap basah mengemudi dengan keadaan mabuk dan sedang bersama seorang wanita bernama Tina. Ketika suami Tina, Colin, datang menjemput, sang suami menyatakan pakaian keduanya tak beraturan. Shilton pun langsung tancap gas, tetapi malangnya, ia menabrak lampu jalan dan kemudian didenda £350 serta dilarang mengemudi selama 15 bulan.

Bek:
Paul McGrath

“Paul punya masalah serupa dengan George Best, (tetapi) ia tak diragukan lagi adalah atlet sepakbola paling alami yang sanggup anda bayangkan,” begitulah ungkapan Sir Alex Ferguson tentang anak asuhnya kepada asistennya saat itu Brian Kidd. McGrath meraih dua Piala FA, dua Piala Liga, bahkan menjadi Pemain Terbaik versi PFA 1993. Tetapi, kecanduannya kepada alkohol membuat karirnya berantakan, bahkan sempat mencoba bunuh diri empat kali. Yang pertama, saat Sir Alex memutuskan untuk menjualnya ke Aston Villa pada 1989.

Tony Adams (Kapten)
Kecanduan Adams pada alkohol dimulai pada pertengahan 1980, dimana ia sering terlibat perkelahian di kelab malam, bahkan sempat ditahan di penjara selama dua bulan. Namun, kedatangan Arsene Wenger sebagai manajer Arsenal pada Oktober 2006 menyelamatkan karirnya. Wenger menetapkan diet ketat dan juga sikap disiplin dalam gaya hidup pemain, dan akhirnya Adams sukses menjadi satu-satunya pemain dalam sejarah sepakbola Inggris yang meraih gelar sebagai kapten di tiga dasawarsa yang berbeda, dan Adams pun layak menjadi kapten dalam tim ‘pemabuk’ ini sebagai panutan karena berhasil keluar dari ketergantungan alkohol.

John Terry
Meski kini sudah bertobat, John Terry pernah bergabung dengan the Chelsea Four, bersama dengan Jody Morris, Frank Lampard, dan Eidur Gudjohnsen. Grup ini mengejek turis asal AS di Heathrow Airport, tak lama setelah serangan teroris 11 September 2001 ke New York dan Pentagon. Pengangkatannya sebagai kapten Chelsea dan kemudian timnas Inggris menjadi motivasinya untuk bertobat, dan bahkan kini menjadi panutan bagi pemain lainnya.

Ashley Cole

Kejadian nyata tentang kegandrungan Cole terhadap alkohol belum lama ini terjadi, tepatnya pada Maret 2009. Cole ditangkap pada dini hari akibat menolak permintaan polisi untuk tenang saat bertengkar dengan seorang fotografer karena bek Chelsea itu dibawah pengaruh alkohol. Akhirnya, polisi mendenda Cole £80, tetapi Chelsea justru yang menghukumnya lebih keras dengan dua pekan gaji, atau £160,000.

Tengah:
Paul Gascoigne

‘Gazza’ sempat dianggap sebagai salah satu pemain paling berbakat dalam karirnya, namun ia terlalu banyak terlibat dalam insiden di luar lapangan dan juga sejumlah cedera yang membuatnya gagal memaksimalkan potensi yang sebenarnya. Hal ini lebih jelas terlihat setelah karirnya usai, bahkan Gazza mengaku hampir meninggal saat menjalani rehabilitasi pada 2008, karena jantungnya sempat berhenti berdetak tiga kali. Kini, Gazza tampak mulai sembuh dari ketergantungan dan menjadi salah satu komentator di BBC. Gazza menyesal gagal bergabung dengan Manchester United, dan Sir Alex Ferguson juga mengaku menyesal batal mengontrak salah satu penghibur di dunia sepakbola itu.

Diego Maradona
Meskipun Maradona lebih dikenal dengan ketergantungan terhadap kokain, Maradona juga punya masalah dengan alkohol. Setelah pensiun, berat badan Maradona bertambah drastis dan ia sempat dirawat di rumah sakit di Buenos Aires karena hepatitis dan dampak dari penyalahgunaan alkohol. Tetapi kini, pemilik gol ‘Tangan Tuhan’ itu berhasil mengatasi ketergantungannya itu dan menjadi pelatih timnas Argentina.

Rully Nere
Selain pesepakbola internasional, Indonesia juga memiliki pemainnya sendiri. Rully Nere memiliki reputasi yang kurang baik sebagai pecandu alkohol, meski prestasinya di lapangan hijau, terutama saat membela timnas Indonesia pada 1977 – 1989 membuatnya dijuluki ‘Jean Tigana’ dari Indonesia.

Depan:
George Best
Banyak pihak menyandingkannya dengan Diego Maradona dan Pele. Tetapi, kecepatan, keseimbangan, keahliannya menggunakan kedua kakinya, dan ketajamannya mencetak gol dirusak dengan gaya hidupnya di luar lapangan. Pemilik nomor keramat 7 di Manchester United ini menderita kecanduan akan alkohol, bahkan nyawanya melayang pada 2005 pada usia 59 karena kerusakan pada ginjalnya, antara lain sebagai dampak negatif dari alkoholisme itu. Yang menarik, manajer Manchester United pada 1970 Wilf McGuinness tak habis pikir saat Best berpeluang membawa kemenangan bagi United di semi-final Piala FA, namun Best justru terjatuh di depan gawang.

Gerd Muller
Salah satu pencetak gol terulung sepanjang sejarah sepakbola ini juga ternyata mempunyai sisi lain. Hanya Ali Daei dan Pele yang mencetak gol lebih banyak di ajang internasional, dan sebelum dilampaui oleh Ronaldo pada Piala Dunia 2006, striker Jerman ini menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia dengan 14 gol. Tetapi, setelah karirnya berakhir pada 1982, Muller terjerembab ke jurang alkoholisme dan akhirnya sadar dan masuk pusat rehabilitasi. Setelah itu, Bayern Munich memberikannya pekerjaan di tim kedua Bayern sebagai asisten pelatih.

Garrincha
Salah satu penggiring bola terbaik dunia ini memiliki kehidupan pasca karirnya di sepakbola sungguh berlawanan dengan saat masih aktif sebagai pemain. Bahkan banyak menganggap pemilik nama asli Manuel Francisco dos Santos ini punya kemampuan setara dengan Pele. Kehidupan pribadinya setelah pensiun sangat buruk, alkohol menguasainya dan sempat menikah beberapa kali sebelum akhirnya meninggal pada 19 Januari 1983 dalam usia 49 tahun karena masalah pada hatinya. Puluhan ribu fans, rekan, dan mantan pemain hadir pada pemakaman pemain yang juga dipanggil Alegria do Povo, atau (sumber) kegembiraan untuk banyak orang.

Selain nama-nama diatas, ada beberapa pemain lain yang sebenarnya masuk daftar, termasuk Jermain Pennant. Mantan bintang muda Arsenal ini sering tertangkap mengemudi dalam keadaan mabuk, hingga akhirnya sempat masuk penjara pada 1 Maret. Tetapi, karena profesinya sebagai pemain, Pennant dibebaskan secara bersyarat setelah 30 hari dan harus memakai peralatan elektronik khusus setiap saat, termasuk saat tampil di lapangan.

Jika diamati dengan seksama, banyak diantara pemain yang berada dalam daftar ini berasal dari dataran Inggris. Kebiasaan mereka menenggak bir selama bersosialisasi tampaknya menjadi tradisi yang sulit untuk dihapuskan, dan jika tidak terkontrol, terbukti dapat berpengaruh sangat buruk dalam kehidupan siapapun. Say No To Drugs and Alcohol![ad#kumpulblogger]