Anda masih ingat tanggal 12 Juli adalah hari Suporter Nasional ? Kalau Anda lupa atau tidak hirau, saya maklum. Tetapi kalau Anda pernah duduk di bangku SD atau SMP, tanggal 12 Juli itu mungkin lebih Anda kenal sebagai Hari Koperasi.

Betul begitu ? Lalu Anda ingat Bung Hatta, yang semasa muda juga pemain sepakbola, sebagai Bapak Koperasi kita ?

Kalau Anda tak bisa mengingat semuanya, saya bercuriga bahwa mungkin dalam bersekolah Anda itu langsung lahir dan[ad#ijo] langsung pula meloncat ke SMA, atau perguruan tinggi di luar negeri. Atau mungkin, bahkan begitu Anda lahir, dan ketika bersekolah maka untuk tingkat SD saja Anda pun tidaklah tamat. Di kalimat terakhir ini, jelas saya yang ngawur. Orang yang bisa akses Internet kok tak lulus SD ? Ngawur, kan ?

Kembali ke Hari Suporter Nasional, yang tanggal 12 Juli 2008, sudah sewindu umurnya. Sudah delapan tahun. Untuk sekedar merevitalisasi gagasan yang pernah kita sepakati bersama saat ide hari suporter nasional itu diluncurkan, Mayor Haristanto, saya dan beberapa teman dari Pasoepati Solo dan sekitarnya, mau bikin aksi. Aksi itu (foto)berupa happening art. Dengan melakukan aksi topo mbisu. Bersemedi dengan tidak mengeluarkan kata-kata.

Photobucket

Dengan hening itu, di tengah keriuhan perempatan Gladag Solo, mungkin ada gunanya dibanding aksi teriak-teriak. Toh teriak-teriak dari warga komunitas sepakbola Indonesia yang masih memiliki akal sehat selama ini, terkait kebobrokan dan wabah korupsi yang membelit sepakbola Indonesia, seolah menabrak tembok, bukan ?

Kami toh mencoba berteriak, tetapi dengan bahasa yang lain. Memakai bahasa keheningan. Melakukan sebuah inner journey, perjalanan ke dalam diri kita, untuk meneliti kembali komitmen kami dan kita sebagai suporter sepakbola, sebagai bagian dari komunitas sepakbola Indonesia.

Kami akan membentangkan poster. Antara lain berbunyi, “Suporter Indonesia = Useful Idiots ?” sampai “Suporter Indonesia, Suporter Myopia.” Katakanlah itu gugatan kami, kepada diri kami sendiri. Karena kami selama ini menderita myopia, cadok, rabun dekat. Kita hanya mampu melihat hal-hal yang dekat, misalnya fanatisme terhadap klub berdasarkan primodialisme yang berlebihan, bahkan rela dibela dengan nyawa.

Lalu merasa dengan kecadokan semacam itu kita merasa cukup. Merasa sehat. Merasa dunia sepakbola kita sudah beres-beres saja. Kita tidak menyadari terancam hanya menjadi useful idiot, orang-orang yang bagai kerbau dicocok hidung, karena tidak berani memiliki fikiran atau pendirian yang mandiri. Konflik-konflik antarsuporter itu mungkin sengaja “dipelihara,” seperti halnya pelbagai konflik di tanah air, sehingga dapat memberikan keuntungan kepada sekelompok aktor intelektual tertentu.

Misalnya, konflik antarsuporter itu dapat “dibisniskan” dalam bentuk ajang pertemuan antarsuporter, membuat deklarasi ini dan itu, dan ketika waktu berjalan semua hal itu mudah terlupakan. Ingat, bangsa kita adalah bangsa yang pelupa. Lalu ketika muncul konflik antarsuporter lagi, terlebih lagi dengan munculnya korban jiwa, maka siklus bisnis itu berjalan kembali. Kecadokan kita yang dipelihara untuk meraih keuntungan.

Ritus dari siklus-siklus semacam sudah membuat kita kebal, sehingga mungkin sudah kita tidurkan apa itu yang namanya hati nurani. Akibatnya kemudian, kita menjadi tak hirau dengan apa yang terjadi di Senayan. Di kantor PSSI selama ini.

Gerontokrasi di PSSI. Persoalan sepakbola kita sudah terlalu besar untuk bisa kita cerna. Berdasar pemikiran itu sering membuat kita, para supporter berpendapat bahwa kita serahkan saja setotalnya, bahasa Jawanya pasrah bongkokan, kepada mereka-mereka yang kita anggap memiliki keahlian dan komitmen. Tetapi ketika korupsi juga meruyak ke sana, bahkan merasuk kepada pimpinan puncaknya, apa lagi yang bisa kita harap dari mereka ?

Mari kita mencoba mendengar pandangan orang lain. Ia bukan dari kelompok suporter, juga bukan orang dalam sepakbola. Azrul Ananda, bos muda Jawa Pos Group ketika memperingati 59 tahun harian Jawa Pos (Jawa Pos,1-2/7/2008) juga ikut menyentil kondisi persepakbolaan kita. Ia membandingkan saat bertemu dengan orang-orang koran, yang ia sebut sebagai orang-orang yang sudah tua, dengan acara lainnya ketika ia bertemu dengan orang-orang teras sepakbola kita.

“Orang-orang yang mengurusi sepakbola itu masih sama dengan orang-orang yang saya baca di koran waktu masih SD dulu. Hanya satu atau dua yang usianya tidak jauh dari saya. yang lebih muda dari saya hanya pemain,” tulisnya dalam artikel berjudul Newspaper is Dead (Jawa Pos, 1/7/08).

Saya berpikir, lanjut Azrul Ananda, apa karena ini ya sepakbola Indonesia tidak maju-maju ? Ilmu yang sama diputar-putar sampai habis. Orang yang satu pindah ke tempat lain, memutar-mutar ilmu yang sama sampai habis.

Padahal, lingkungan sudah berubah. Ada beberapa tingkatan generasi baru yang lebih tahu tentang ilmu-ilmu baru. Mereka hanya belum mendapat kesempatan untuk menjajal ilmu-ilmu baru itu, lalu mengetahui kelemahan dan kesalahannya, karena orang-orang lama terus memaksakan ilmu-ilmu lama.

Delapan tahun lalu, di kantor Tabloid Bola, saya mencetuskan hari suporter nasional. Rekan-rekan lain, baik dari Pasoepati, Aremania, The Jakmania dan Viking, menyetujuinya. Terima kasih. Mudah-mudahan delapan tahun kemudian para sahabat saya itu masih juga menyetujui gagasan saya yang tertulis ini : mari kita hentikan status kita yang nyaris hanya ibarat sebagai kerbau yang dicocok hidung dalam konstelasi persepakbolaan nasional. Kita harus bangkit. Bersuara. Beraksi. Dengan dimulai dari perjalanan ke dalam diri sendiri, mengasah ketajaman hati nurani, pikir dan dan pena kita, demi masa depan yang lebih cerah dari sepakbola Indonesia kita tercinta. Saya yakin, dalam melangkah ke depan saya tidak akan berjalan sendirian.

Wonogiri, 11 Juli 2008
Bambang haryanto
[ad#twitter]