Sepakbola dan politik merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan keberadaanya di Indonesia, dua hal yang saling kait berkait dan membentuk kompleksitas dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Selalu ada benang merah di antara keduanya dan dunia sepakbola sendiri lebih sering menjadi alat politik, praktik kekuasaan dalam ranah elit sekaligus ajang pelampiasan frustrasi di ranah sosial. Tak ada ruang berkelit untuk membedakan keduanya. Idealisme hanya dibuat untuk basa-basi sekaligus ajang jual beli mimpi. Siapa yang tak terlelap dengan mimpi indah manakala kenyataan tak pernah berdamai dengan keinginan. Setidaknya ada tiga unsur yang melingkupi persepakbolaan Indonesia sekaligus merupakan permasalahan pokok yang dihadapi, pertama yaitu penguasa yang meliputi penguasa sebenarnya yang selalu berkoinsidensi dengan sepakbola dan pengurus sepakbola termasuk pengurus PSSI dan tim manajemen klub, kedua, suporter fanatis di Indonesia yang melebihi massa parpol, serta ketiga, kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Pengurus PSSI dan Kekuasaan

Dalam hal otoritas tertinggi sepakbola nasional, representasi [ad#ijo]penguasa tampaknya terlalu fasih untuk diperankan oleh PSSI. Unsur-unsur PSSI sendiri lebih sering identik dengan kekuasaan oligarki yang terdiri ketua umum berikut komisi eksekutif dan perangkat pelengkapnya seperti Badan Tim Nasional dan Badan Liga Indonesia yang bertanggung jawab atas dua hajatan besar persepakbolaan Indonesia, yakni aktivitas sepakbola Indonesia di kancah Internasional dan panggung kompetisi domestik. Ada banyak kuasa dan tanggung jawab di tangan mereka mengenai persepakbolaan Indonesia. Sehingga pada saat keterpurukan yang berkepanjangan berikut warna kelam persepakbolaan Indonesia seperti saat ini, unsur-unsur PSSI ini terlanjur dianggap aktor utama dan hujatan hanyalah satu kata yang sangat kerap ditujukan kepada mereka. Lihat semua di forum-forum diskusi sepakbola, mailis-mailis olahraga dan tak ketinggalan obrolan di kedai kopi, kata-kata hujatan seolah tak pernah mengering di mulut mereka jika ditanya soal PSSI. Takkan ada asap memang jika tidak pernah ada api. Banyak keputusan-keputusan janggal yang tak bosan-bosan dibikin para pengurus olahraga terpopuler di negeri ini. Program-program sepakbola bersatu padu bersama aroma politik dan cita rasa berbagai kepentingan. Ketua umum dan personel di tubuh PSSI secara proporsional bukanlah cerminan profesional yang berkecimpung di dunia sepakbola. Sebagian di antara mereka juga menjalankan peran lain di luar sepakbola dan kadang-kadang peran lain itu adalah sebagai pejabat publik dimana tarik ulur kepentingan adalah hal yang sering terjadi. Sehingga bagi kebanyakan pengurus ada kesan bahwa peran lain tersebut yang sering kali bersinggungan politik itu terlalu penting untuk dikesampingkan dan bisa ditebak kegiatan organisasi PSSI hanyalah penunjang remeh temeh karena sepakbola hanyalah sekumpulan orang-orang yang mengejar sebuah bola yang tak berguna. Kasus yang paling gres adalah kasus bulog yang melilit ketua umum PSSI saat ini yang membuatnya terkurung di penjara. Dan apa yang dilakukan sekeluarnya dari rumah tahanan sangatlah mengejutkan persepakbolaan Indonesia dengan cara-cara yang beraroma pekat politis.
[ad#link_unit]
Demo Menuntut Ketua Umum PSSI

Baru-baru ini Nurdin Halid telah memberikan remisi besar-besaran kepada pelaku kriminal di sepakbola. Saya pikir pihak yang mendapat keuntungan atas manuver ini seperti Christian Gonzalez, Kurnia Meiga, dan PSIR pun tak kalah terkejut dan tak pernah terpikir oleh mereka dibanding pemerhati sepakbola sendiri. Christian Gonzalez yang terhukum satu tahun tidak boleh merumput di Liga Nasional atas pemukulan pemain PSMS bisa melanjutkan karirnya di Persib Bandung dengan tenang dan Kurnia Meiga pun bisa kembali memakai sarung tangan kipernya di Arema setelah hukuman satu tahun diputihkan. Sementara PSIR bisa cepat-cepat melupakan aksi brutal pemain-pemainnya yang melakukan penganiayaan wasit pada pertandingan liga tahun lalu karena peristiwa itu dianggap “hanyalah” kejadian biasa setidaknya menurut Nurdin Halid dan PSIR tak perlu mendapat hukuman sama sekali beserta pemain-pemain. Inilah cara populer di mata para pelanggar di sepakbola Indonesia yang dilakukan Nurdin Halid dengan aroma kental pemulihan nama baik dirinya sebagai mantan napi. Mau ditaruh dimana muka komisi disiplin saat itu? Dan apa yang terjadi setelah peristiwa sensasional ini adalah kekerasan di lapangan dengan mudahnya kembali terjadi dan membuat Kapolda Jateng tak tahan untuk tidak bertindak di luar wewenangnya ketika menahan Nova Zaenal dan Mamadou Bertrand yang berkelahi saat pertandingan liga berlangsung serta intervensi pada pertandingan PSIS vs Persijap. Lalu kerusuhan antarsuporter seperti mendapat angin dengan kejadian terbaru adalah amukan suporter Bonek yang berulah beringas di Gresik.

Kalau remisi besar-besaran ini belum cukup untuk memulihkan nama, promosi Indonesia sebagai tuan rumah piala dunia 2022 adalah mimpi yang terlalu menggiurkan bagi para pecinta sepakbola. Kedua ini adalah cara paling mudah dan cepat untuk mempopulerkan diri setidaknya untuk para pemain yang tersandung kasus dan pecinta sepakbola yang mudah terlena mimpi, daripada harus membenahi persepakbolaan Indonesia yang tentu saja terlalu sulit dan terlalu lama prosesnya. Penjaminan kompetisi yang bermutu, pembenihan pemain muda yang potensial dan pematangan pemain timnas adalah tugas yang terlalu sulit bagi pengurus saat ini dan lebih mudah menghamburkan uang untuk promosi piala dunia 2022 dan cara pragmatis remisi. Dengan cara ini, setidaknya wapres Jusuf Kalla sudah terjebak dengan tipuan ini. Seperti pernah diberitakan, Wapres JK pernah melontarkan dukungan atas promosi Indonesia sebagai tuan rumah PD 2022 dan menjkanjikan upaya mendatangkan Guus Hiddink sebagai pelatih timnas.

Kejanggalan lain seperti ikut berkejaran saling mendahului, seperti kebijakan yang terus menerus dipertahankan seperti banyaknya pemain asing yang merumput di Indonesia adalah satu hal dimana indikasi ini sering kali mengemuka pada sebuah pertanyaan : benarkah ada hubungan mesra antara agen pemain asing di Indonesia dengan para pengurus PSSI sehingga ada deal-deal tertentu guna mempertahankan kebijakan atas pemain asing? Seperti diketahui beberapa tahun sebelumnya, ada kerjasama yang berbentuk bantuan keuangan dari salah satu agen pemain asing di Indonesia yang berkait dengan pelatihan Timnas U-23 di Argentina sebagai persiapan SEA Games beberapa tahun lalu. Hal ini seperti membenarkan terdapat hubungan antara agen pemain asing dengan para pengurus. Persoalan-persoalan lain seperti menegaskan kejanggalan-kejanggalan yang menabur di tubuh organisasi otoritas sepakbola tertinggi tersebut, antara lain persoalan dengan FIFA yang tak kunjung beres terkait statuta dan beberapa poin peraturan, kasus yang membelit PSSI atas penipuan cek kosong yang diserahkan kepada Hotel tempat menginap tim peserta turnamen piala kemerdekaan tahun lalu, jebloknya prestasi timnas, pelaksanaan kompetisi yang tak terprogram berikut manajemen yang buruk yang membuat kabur sponsor besar (Bank Mandiri mundur dari sponsor utama karena tidak ada laporan keuangan dari PSSI) . Dan barang kali sudah terlalu biasa jika cara pragmatis untuk menutupi borok-borok ini tentu saja dengan menabur mimpi-mimpi, yakni mempromosikan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia edisi 2022.

Suporter dan Kondisi Masyarakat Indonesia

Dari sisi suporter, sudah barang lazim fanatisme suporter klub sepakbola Indonesia seperti menjadi gejala sosial yang berujung pada kondisi sosio-ekonomi masyarakat Indonesia saat ini yang erat berkait dengan kefrustrasian dan keterpurukan. Hitam putih dunia suporter Indonesia selalu berkelindan dan bertumpang tindih dengan hiruk pikuk kompleksitas bangsa Indonesia dalam segala hal yang mencakup politik, budaya, pendidikan dan ekonomi. Sepakbola Indonesia memang terlanjur identik dengan keterbelakangan, keterpurukan dan dijejali kaum pinggiran, sebuah simbolisasi kaum yang paling frustrasi dalam hierarki sosiologis di Indonesia. Pilihan sebagai pesepakbola lebih sering didasari atas minimnya kesempatan di bidang lain yang lebih menjanjikan. Ketika dunia pendidikan tidak cukup bersahabat dengan dirinya atas kondisi ketakberpihakan dan ketakberdayaan biaya, maka sepakbola adalah pilihan yang sangat menjanjikan untuk melihat hari di depan kalau tidak mau terus menerus berdekatan dengan ketakberpihakan. Sayangnya dunia sepakbola yang menjadi harapan tidak banyak memberikan kesempatan dalam mencapai tujuan ini.

Dalam sisi lain, menjadi suporter fanatik adalah cara untuk melepaskan diri dari persoalan sehari-hari dan pelarian dari rasa frustrasi berkepanjangan sebagai bangsa selain sebagai cara-cara untuk aktualisasi identitas dan kebutuhan terhadap pencitraan. Satu hal lagi, ajang suporter juga menjadi salah satu wadah lanjutan dari konflik kehidupan sehari-hari yang terkait pelik dengan keterdesakan demografis dan ekonomi sehingga apa yang terjadi dalam lingkungan suporter sepakbola selalu persis dengan apa yang terjadi di kehidupan bangsa Indonesia. Keterdesakan demografis dan ekonomi yang saya maksud adalah penduduk Indonesia yang terus tumbuh dimana hal ini menyebabkan kondisi saling sikut dan saling kompetisi untuk bertahan sekedar survive sementara hal ini tidak berbarengan dengan kesempatan ekonomi. Pada titik limit kompetisi, aksi tipu-menipu, kriminalitas, penjarahan, tawuran, intoleransi menjadi warna sehari-hari dan dapat diperankan secara persis di dunia suporter sepakbola. Suka tidak suka, fenomena Bonek adalah satu contoh. Berbagai kerusuhan antarsuporter yang selama ini sering terjadi menegaskan potret buram atas latarbelakang sekaligus gejala sosial yang memangku kehidupan bangsa Indonesia secara umum. Kerusuhan dan keributan seolah sudah menjadi paket yang disiapkan dari rumah dan akan diperankan dalam menonton sepakbola nantinya.

Politik Raja-Raja Kecil di Daerah

Dalam dunia politik sebenarnya, sepakbola tidak luput dari pandangan para pemeran panggung politik dengan menjadikannya sebagai salah satu ceruk untuk kepentingan politik pragmatis mereka. Seperti dalam skala daerah, sepakbola sering kali dijadikan alat-alat kekuasaan sekaligus alat kampanye untuk menjaring massa yang dimiliki sepakbola. Fanatisme pendukung suatu klub daerah sering kali di luar akal dan hal ini memudahkan bagi para politisi untuk memobilisasi dan mengendalikan para suporter klub tersebut. Janji memperhatikan klub sepakbola daerah dengan mempertaruhkan APBD yang tak seberapa sudah jadi berita yang luar biasa bagi penggemar sepakbola daerah. Tak soal program-program merakyat sedikit tersendat akibat pembiayaan APBD atas klub sepakbola asalkan masih bisa menyaksikan klub kesayangan bertanding biarpun perut tetap keroncongan, demikian kira-kira pikiran yang mengristal di banyak benak suporter fanatis sepakbola. Kalau sudah begini para pengurus klub yang kebanyakan juga pejabat daerah ini tentu saja selalu bersorak-sorai karena dua hal, yaitu massa pendukung yang fanatis dan kelonggaran pemakaian alokasi anggaran sepakbola karena terdapat jaminan keberlangsungan sebuah klub yang terikat dengan suporter yang fanatis. Lihat saja banyak klub-klub Indonesia berplat merah menyatakan keengganannya membuat laporan atas pemakaian keuangan kepada DPR selaku pengawas. Tentu saja sikap negatif ini menandakan indikasi ketidakberesan yang dilakukan manajemen dan jika ada ancaman tidak menguncurkan dana ABPD karena kasus ini, selalu saja mendapat pertentangan dari kelompok suporter dengan alasan keberlangsungan klub yang dipertaruhkan. Dalam skala nasional, jangan tanya jika dunia sepakbola bercampur aduk dengan tersangka korupsi, trik-trik kotor atas pencapaian kekuasaan, pencitraan maupun carut-marut. Bahwa para pemangku kebijakan sepakbola di Indonesia tidak pernah lepas dari kepentingan dan motivasi politik yang melatarinya. Pelaksanaan hajatan sepakbola nasional hanya berjalan seadanya beserta coreng-moreng yang menyertainya. Sepakbola hanya dipenuhi mimpi-mimpi yang mulai menumpah dan utopia yang tak kunjung terwujud.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari kondisi demikian untuk kemajuan sepakbola Indonesia? Kenyataan bahwa sepakbola merupakan cabang olahraga yang paling digemari bangsa Indonesia tidak berakibat dampak positif apapun bagi bangsa dan negara, tetapi justru menjadi pelengkap lara dan penambah sakit hati masyarakat Indonesia kepada penguasa. Sepakbola hanya menjadi lahan baru bagi dunia politik yang runyam dan serakah. (san)
[ad#kumpulblogger]