anda pernah nonton  Twilight, Film yang diadaptasi dari novel, “Twilight” disambut hangat oleh para pecinta film maupun mereka yang telah membaca bukunya di Amerika ataupun di Jakarta. Untuk itu, telah dipastikan sekuel keduanya akan dirilis tidak kurang dari setahun.

Kisah cinta vampire, yang diangkat dari novel karangan Stephenie Meyer, mencetak kesuksesan di America. Karenanya, saat ini pra produksi sekuelnya, “New Moon” tengah digodok.

Asal tahu saja, film yang dibintangi Kristen Stewart dan Robert Pattinson, sudah meraup 98 juta poundsterling sejak dirilis 21 November lalu. Konon, sutradara Chris Weitz akan mengambil alih penggarapan sekuelnya.
[ad#ijo]
Sebagai bocoran nih, New Moon direncanakan rilis pada 2010 mendatang tapi kini dimajukan menjadi 20 November 2009.dan hebatnya michael ballack ikut ambil bagian dalam film tersebut.

===
[ad#link_unit]
Karpet merah itu menjelma seolah-olah jadi lapangan hijau bagi Eric Cantona. Dia menjadi bintang paling benderang pada Festival Film Cannes, setara dengan pasangan Brad Pitt-Angelina Jolie. Le Roi –Sang Raja—telah kembali.
Melintas di Croisette, kota dengan jalanan utama menghadap pantai, Eric Cantona diserbu massa. Mereka meminta mantan bintang sepak bola Prancis itu berfoto bersama sambil meneriakkan Le Roi –Sang Raja. Saat konperensi pers berakhir, wartawan bahkan tak malu-malu untuk meminta tanda tangan Cantona.
Cantona kembali ke lapangan hijau? Bukan. Dia datang ke Cannes, kota yang sedang sibuk menggelar festival film di Prancis. Cantona ikut bermain dalam film garapan Ken Loach bertajuk Looking for Eric.
“Orang-orang bilang pengalaman Cannes sangat istimewa. Tapi, buat saya, entahlah,” ujar Cantona dingin di depan hotel yang menghadapi ke bibir laut.
Bagi sebagian orang film, penghormatan terhadap Cantona, cukup aneh. Apalagi bagi kebanyakan orang-orang Amerika yang datang ke Cannes. Tak banyak yang kenal siapa Cantona di sana.
Film garapan Loach, sebuah karya sutradara yang terkenal karena realisme sosialnya, harusnya bisa mengenalkan Cantona kepada penikmat film. Ya, Cantona sebagai atlet maupun ikon. Seorang filosofis sepak bola yang terkenal karena keunikan dan gol-golnya yang mengejutkan.
Looking for Eric memainkan reputasinya terhadap efek komik. Cantona adalah idola dari karakter sentral, Eric Bishop (dimainkan aktor Inggris, Steve Evets), seorang petugas pos dari Manchester yang keluar dari depresi lewat membayangkan perbincangan dengan pahlawannya itu. Cantona tampil di kamar tidur Eric untuk memberikan motivasi.
Jadi, apakah Cantona mengirim reputasinya sebagai bintang sepak bola? “Karakter itu adalah bagian dari diri saya sendiri. Sangat dekat dengan siapa saya. Kita hidup di dunia citra. Saya hanya mencoba menjadi diri saya sendiri, yang juga sebuah citra,” tuturnya.
Sebuah jawaban yang secara samar memuaskan dari lelaki yang menjadi idola Manchester United pada dekade 1990-an. Dia berjasa membawa klubnya empat kali memenangkan Liga Primer dalam lima musim. Tapi, dia juga mendapat reputasi karena temperamen yang tinggi. Dia pernah menjalani sanksi skorsing sembilan bulan setelah mendaratkan tendangan kungfu kepada penonton lawan.
Cantona pun menggambarkan dirinya lewat ungkapan filosofis. “Ketika burung camar mengikuti kapal pemukat, itu karena mereka berpikir sarden akan dibuang ke laut,” ujarnya. Dia lalu pergi.
Para wartawan membicarakan tiada henti arti kata-kata Cantona. Mantan pemain Leeds United itu mengatakan kata-katanya itu tiada berarti. “Mereka mencoba menganalisa, menemukan makna kata-kata ini. Tapi, saya kira, maknanya ada pada situasinya,” jelasnya.
Saat menjalani sanksi skorsing sembilan bulan, Cantona yang penggemar jazz, menghabiskan waktu belajar bermain terompet. Dia pun tampil memainkan versi La Marseille dalam film tersebut.
Cantona gantung sepatu pada 1997 di puncak kejayaannya. Dia mundur karena tak lagi punya ambisi. Dia kemudian konsentrasi pada akting dan produksi film. Awalnya, dialah yang mendekati Loach, sutradara Kes, It’s a Free World, dan pemenang Palem Emas 2006 The Wind That Shakes the Barley, dengan sebuah ide cerita. Film itu sendiri tak pernah dibuat. Tapi, Cantona menemukan spirit Loach yang juga penggemar sepak bola itu.
“Saya menyukai film-filmnya. Kadang-kadang, begitu real. Kita pikir, itu dokumenter. Banyak humanitas dan solidaritasnya,” kata Cantona, kini 42 tahun.
Keduanya sama-sama berbagi ambisi untuk merayakan kesatuan itu. Loach seorang sosialis yang menyatakan filmnya ini sebagai sebuah potret kelompok pendukung Manchester United, menunjukkan mereka adalah yang terbaik jika bekerja sama.
Cantona, meski memiliki reputasi beragam, juga memaknai nilai kerja bersama. Dalam film ini, dia ditanya untuk menyebut puncak kariernya. Jawaban mengejutkan meluncur dari mulut Cantona. Puncak kariernya bukanlah gol-gol yang dia ciptakan, tapi umpan-umpannya kepada pemain lain.
Dia mengaku sangat bahagia jika Looking for Eric memenangkan hadiah utama saat Festival Film Cannes ditutup, Minggu (24/5) ini. Tapi, hal utama yang dia nikmati adalah pengalaman membentuk tim yang bekerja sama.
“Saat kami bersama-sama di atas karpet merah, Anda bisa merasakan energi di antara kami. Seluruh anggota tim ada di sana. Begitu kuat. Seolah-olah sedang berada di sebuah turnamen, sebelum kita masuk ke lapangan menjelang pertandingan besar. Saya merasakan energi ini,” kata Cantona.
Energi yang tak bisa dia dapatkan di tim nasional Prancis karena berkali-kali dia berselisih pandang dengan pelatih tim nasional. Energi yang kemudian didapatnya di karpet merah Festival Film Cannes, bukan di lapangan hijau. [I4]
[ad#kumpulblogger]