Sejak menggantikan Frank Rijkaard sebagai pelatih Barcelona, Pep Guardiola jarang tidur. Ia dikenal obsesif, mempersiapkan segalanya sendirian, dan sangat rinci.

Waktu tidur Guardiola menjadi sangat sedikit ketika dirinya mulai mempersiapkan Barcelona menghadapi Manchester United (MU) di final Liga Champions 2009 di Roma, Rabu (27/5). Kepada pers Spanyol, Guardiola mengaku dalam sepekan terakhir dirinya kerap terbangun di malam hari, dan tak bisa tidur lagi.[ad#ijo]

“Saya hanya memikirkan satu hal; Barcelona akan menghadapi tim terbaik di dunia bernama Manchester United (MU),” ujar Guardiola.

“MU telah memenangkan banyak final, mendominasi pertandingan. Ketika menyerang, mereka mengerahkan kemampuan, saat bertahan mereka tak banyak kebobolan,” lanjutnya.

MU, masih menurut Guardiola, memiliki aerial player terhebat; Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, dan Cristiano Ronaldo. Lebih dari itu, MU kuat di semua posisi, dengan semua pemain bernaluri menyerang.

Sejak La Blaugrana memastikan diri meraih dua gelar domestik; Primera Liga Spanyol dan Copa Del Rey, Guardiola melepas perhatiannya kepada semua sisa laga domestik. Ia tidak peduli ketika Barca dikalahkan Mallorca dan terakhir dipecundangi Osasuna di Camp Nou.

Di Manchester, Sir Alex Ferguson relatif lebih santai. Ia masih terlibat dalam penyusunan skuad yang bertandang ke Hull City dalam laga terakhir, dan menikmati kemenangan.

Fergie hanya dibuat sedikit pening ketika Rio Ferdinand ditarik keluar dalam pertandingan itu, akibat cedera. Rafael Da Silva dan West Brom juga mendapat hantaman pemain belakang Hull, yang membuat keduanya harus menjalani pemeriksaan kesehatan.
[ad#link_unit]
Keduanya memiliki pendekatan berbeda menghadapi laga ini. Sir Alex, dengan segenap pengalamannya, tahu bagaimana mengatasi tekanan menjelang laga. Guardiola, dengan statusnya sebagai debutan di final Liga Champions, masih harus banyak belajar menghadapi situasi seperti ini.

Namun keduanya memiliki kesamaan; saling menghormati, dan mengakui keungggulan masing-masing. Ini terlihat dengan tidak adanya mind game yang dilancarkan Sir Alex.
Di sisi lain, Guardiola dikenal santun dengan siapa pun.

Di luar persiapan keduanya, banyak pengamat berupaya memprediksi jalan pertandingan final impian ini. KS Leong, kolumnis Goal.com, menulis kesempatan Barca meraih gelar ini akan sangat ditentukan kemampuan Guardiola mengatasi kehilangan Eric Abidal, Rafael Marquez, dan Daniel Alves, di lini belakang, kembalinya Lionel Messi ke performa terbaik, serta memanfaatkan kelemahan sebelah kiri pertahanan MU yang kemungkinan ditempati John O’Shea.

Guardiola akan dipaksa memainkan kapten Carles Puyol di sisi kanan pertahanan, dan Silvinho di sebelah kiri. Sedangkan jantung pertahanan ditempati Gerard Pique dan Yaya Toure.

Lionel Messi, yang tidak bermain dalam performa terbaik sejak mencetak dua gol ke gawang Bayern Munich, diharapkan bisa bekerja lebih keras. Ia tidak akan lagi mendapat sokongan Daniel Alves, dan relatif sendirian menghadapi kawasan Patric Evra.

Leong yakin Guardiola banyak belajar dari laga menghadapi Chelsea. Dalam laga di Stamford Bridge itu, Guardiola kalah secara strategis karena timnya tidak memperoleh banyak peluang selama 85 menit. Kepemimpinan wasit yang buruk, dan keberuntungan, yang membuat Barca bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1 dan lolos ke final.

Mitch Phillips, kolumnis Reuters, memperkirakan final ini akan menjadi mimpi buruk bagi Barcelona. Ia memperkirakan Sir Alex Ferguson akan bermain lebih bertahan, membiarkan dirinya diserang, dan mencetak gol lewat serangan balik.

Fergie diyakini akan menggunakan cara yang sama seperti ketika mengalahkan Barcelona 1-0 di semifinal musim lalu. Ia yakin sebuah tim besar dibangun dari lini belakang. Kemenangan besar diperoleh dengan lebih dulu mentralisir serangan lawan.

Cara bermain Barcelona, menurut Fergie, adalah menguasai bola selama mungkin. Menurut Fergie, yang bisa dilakukan MU saat Barca memegang bola adalah dengan menarik seluruh pemain ke belakang dan bertahan dengan konsentrasi penuh.

Fergie juga akan menginstruksikan Ronaldo bermain seperti ketika menghadapi Arsenal dan Porto, yaitu dengan memanfaatkan setiap kesempatan melepas tembakan jarak jauh. Ia yakin Ronaldo akan kesulitan menggiring bola terlalu lama, karena akan mendapat kawalan Gerard Pique.

Di lini tengah, Fergie tahu Barcelona memiliki dua gelandang terbaik; Andres Iniesta dan Xavi Hernandez. Keduanya kreatif, dan memiliki kemampuan dribbling aduhai. Sedangkan MU memiliki gelandang pekerja keras, dengan kemampuan bertarung penuh konsentrasi selama 120 menit.

Guardiola tidak akan direpotkan dengan pilihan sistem. Ia yakin trio striker paling rakus di Primera Liga; Messi, Henry, dan Eto’o, akan tetap menjadi starter. Namun persoalan serius akan muncul jika Henry tidak optimal, karena tampil kali pertama pasca cedera.

Sedangkan Ferguson memiliki dua opsi; memberikan kesempatan Park Ji-sung sebagai starter dengan bermain 4-4-2, atau sebaliknya; membiarkan pemain asal Korsel itu kali kedua meratapi nasibnya demi menurunkan trio striker; Berbatov, Rooney, dan Ronaldo dengan sistem 4-3-3. Fergie akan menggunakan nalurinya untuk menentukan pilihan ini.

Di luar perkiraan strategi yang akan dimainkan kedua pelatih, masih banyak hal yang akan mempengaruhi hasil akhir laga para gladiator ini. Salah satunya, dan mungkin paling dikhawatirkan, adalah kepemimpinan wasit.

Musim lalu, di semifinal leg pertama, Busacca memberi hadiah penalti kepada MU ketika laga memasuki menit ketiga. Critiano Ronaldo gagal memanfaatkannya menjadi gol. Busacca memimpin laga Porto-MU di perempat final leg kedua di Stadio Dragao, yang dimenangkan Setan Merah dengan 1-0.
[ad#kumpulblogger]

Perkiraan Pemain:

Barcelona: Victor Valdez, Carles Puyol, Gerard Pique, Yaya Toure, Sylvinho, Andres Iniesta, Xavi, Sergio Busquets, Lionel Messi, Thierry Henry, Samuel Eto’o.

Manchester United: Edwin van der Sar, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, John O’Shea, Patrice Evra, Michael Carrick, Anderson, Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo, Dimitar Berbatov, Wayne Rooney.