Berita tentang kerusuhan di lingkup Sepakbola Indonesia kini seakan dianggap hal yang biasa bagi masyarakat. Berbagai macam alasan selalu dikemukakan untuk melindungi aksi tak terpuji mereka. Mulai dari tudingan kepemimpinan wasit yang dianggap tidak becus, sepak terjang lobi illegal para petinggi Klub hingga aksi anarkisme supporter dengan label fanatisme buta.

Memang sangat sulit kalau kita mencoba untuk mengurai ujung pangkal dari permasalahan ruwetnya Sepakbola Indonesia. Permasalahan di berbagai bidang secara kasat mata bisa dilihat yaitu : Pertama, dengan tidak aktifnya para wasit untuk menambah skill tentang peraturan sehingga acap kali terlihat salah mengambil keputusan-keputusan krusial.
[ad#ijo]
Kedua, tidak profesionalnya para petinggi klub dalam menghamburkan uang rakyat dengan cap “APBD” yang hanya dibumbui dengan mengejar kemenangan dengan cara apapun baik legal maupun illegal, sehingga tidak heran akan sering timbul “penalty misterius” dan terror dengan mengatasnamakan pendukung tidak resmi.

Ketiga, kurangnya sosialisasi tentang peraturan sepakbola di kalangan para penonton & supporter, mengakibatkan mudahnya mereka men”jugde” wasit dengan hujatan kata-kata kotor atau bahkan tindakan penganiaayan ke petugas pertandingan. Dengan sebutan khas “sumbu pendek” yang dibebankan pada pundak para supporter, kini mereka sangat reaktif untuk terpancing emosinya sehingga dapat menyulut peristiwa kerusuhan di berbagai daerah.

Keempat, kurang tegasnya dan tidak konsistennya penegakan peraturan sepakbola oleh Lembaga Tertinggi Sepakbola Indonesia (PSSI) terhadap para pelaku pelanggaran, disebabkan karena mudahnya ampunan diperoleh dari Pimpinan Tertinggi PSSI sehingga terkesan tidak independennya lembaga-lembaga peradilan di PSSI.

Untuk mengatasi permasalahan hal tersebut diatas, secara bijak kita bisa mengambil istilah ” Gajah dipelupuk mata tak kelihatan., semut di seberang lautan kelihatan”. Ya! Kesalahan yang ada di pundak masing-masing pihak seolah dianggap biasa tetapi kesalahan kecil yang dilakukan pihak lain malah dibesar-besarkan. Cuma satu yang perlu dilakukan oleh semua pihak yang berkecimpung di Dunia Persepakbolaan Indonesia, yaitu Internal Review untuk memperbaiki diri sendiri pada masing-masing pihak Wasit, PSSI, Klub & Suporter dan hilangkan budaya “culture of blame” dengan membuang-buang energi untuk mencari-cari kesalahan pihak lain .

Segeralah berbenah kalau tak ingin Musnah…

Regards

Panji Kartiko SH
http://www.maspanji.blogdrive.com[ad#kumpulblogger%5D