Babak delapan besar divisi utama Liga Indonesia 2008/09 memang sudah berakhir. Empat tim pun memastikan diri bakal bertarung untuk memperebutkan tiga tiket promosi ke Superliga, kompetisi kasta tertinggi sepakbola nasional, musim depan.

Sayang, pelaksanaan babak delapan besar yang digelar di Malang dan Samarinda, kembali menguak aib PSSI yang selama ini mengiringi perjalanan otoritas sepakbola nasional. Hal itu menyusul tudingan pengaturan pertandingan untuk meloloskan tim tertentu seperti yang disuarakan Mitra Kukar, salah satu kontestan babak delapan besar di  grup K, Samarinda.
[ad#ijo]
Bahkan, tim asal Tenggarong, Kalimantan Timur ini dengan tegas menyebut nama Andi Darussalam Tabusalla, ketua Badan Liga Indonesia (BLI), berada di balik skenario untuk memupus ambisi mereka menembus babak semi-final. Itu bisa dilihat, dengan kinerja wasit yang memimpin laga terakhir Mitra melawan Persigo Gorontalo.

Di mana, kepemimpinan pengadil lapangan hijau pada laga yang berakhir imbang 2-2 itu sangat memihak kepada Persigo. Yang paling menonjol adalah ketika ia mengakhiri pertandingan di babak kedua, ketika waktu masih menyisahkan lima menit. Itu pun belum termasuk tambahan waktu  yang sudah lazim diberikan dalam setiap laga.

Tudingan pengaturan skor dari Mitra ini pun diperkuat dengan pernyataan kubu Persigo yang mengaku, ada pihak yang bersedia memberikan hadiah sebesar Rp500 juta, asalkan mereka mampu mengalahkan Mitra. Hal ini guna meloloskan Persebaya yang secara bersamaan memainkan laga melawan Persisam Samarinda.

Dugaan terjadinya pengaturan skor di grup K semakin kuat, menyusul hasil imbang tanpa gol dari Persisam kontra Persebaya, yang dianggap memainkan ‘sepakbola gajah’. Maklum, karena tuan rumah yang pada dua laga terakhir tampil trengginas, seolah tidak bernafsu untuk menjebol gawang Persebaya.
[ad#link_unit]
Akibatnya, sebagian besar pendukung setianya yang hadir di stadion mengaku kecewa dan mencibir penampilan timnya. Sebab, mereka sangat yakin jika Persebaya pasti bisa dikalahkan. Itu sekiranya, merujuk pada penampilan di dua laga terakhir. Di mana, mereka berhasil menggilas Mitra Kukar 4-1 dan mencukur Persigo 5-1.

Atas hasil imbang tanpa gol di laga terakhir, membuat Persebaya berhak mendapatkan jatah satu tiket ke babak semi-final divisi utama dari grup K. Sebab, meski memiliki empat poin, sama dengan yang diperoleh Mitra Kukar, tapi mereka masih unggul agregat gol.

Benarkah tudingan yang dilontarkan Mitra Kukar tentang pengaturan skor ini terjadi? Masih sangat prematur memang dan butuh pembuktian untuk bisa menjawabnya. Hanya saja, sangat sulit untuk membuktikan tudingan tersebut. Terlebih, jika kita berharap dari komisi disiplin (Komdis) PSSI, yang sudah pasti akan melindungi kepentingan para petinggi otoritas sepakbola nasional.

Dengan begitu, apakah tudingan kembalinya PSSI memainkan ‘lagu lama’ ini akan kita abaikan begitu saja? Tentu jawabannya tidak. Karena itulah, para pelaku sepakbola nasional dituntut untuk segera melakukan perubahan. Terutama, dalam hal menentukan pucuk pimpinan organisasinya.

Bagaimana pun, pembenahan dan perubahan yang ingin dilakukan, tidak akan terlaksana dengan baik sekiranya pimpinan tertinggi di PSSI, tidak ada itikad untuk melakukan perubahan itu secara sungguh-sungguh. Meski, di tengah upaya mereka memperbaiki citra dengan menggulirkan kompetisi sepakbola profesional bertajuk Superliga.[ad#kumpulblogger]