Di suatu Minggu sore, areal parkir kolam renang kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno dipenuhi mobil berbagai jenis. Lewat pintu bagasi ataupun sliding door yang terbuka, terlihat beragam die-cast dengan aneka bentuk dan merek. Ada Hot Wheels buatan Amerika, Tomica dari Jepang, dan Matchbox dari Inggris.

Pada hari Minggu kedua dan keempat setiap bulan, lokasi parkir ini menjadi ajang perburuan mobil mainan dari logam itu oleh para penggemarnya. Sepelemparan batu dari situ, belasan Mercedes berjajar rapi, mejeng seperti di ruang pamer. Mobil buatan Jerman dengan nomor polisi dua atau tiga angka itu tidak hendak dijual. Para pemiliknya sekadar berkumpul di sana, sekaligus “memamerkan” kendaraan mereka yang kinclong.[ad#ijo]

Selain sebagai tempat berolah raga, kawasan Gelora Bung Karno oleh berbagai kelompok masyarakat sering dimanfaatkan sebagai ajang temu. Seperti yang disebut dalam buku Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno, Presiden Soekarno juga menginginkan kompleks olahraga yang dibangun untuk Asian Games IV (AG-IV) 1962 ini juga hendaknya dijadikan sebagai paru-paru kota dan ruang terbuka tempat warga berkumpul.

Negara penyelenggara AG-IV ditentukan sehari sebelum pembukaan Asian Games III di Tokyo, Mei 1958. Asian Games Federation (AGF) memilih Indonesia. Maka, rencana rinci persiapan pesta olahraga bangsa-bangsa se-Asia itu pun disusun. Lokasi kompleks olahraga pun dipilih. Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet, sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.

Presiden Soekarno “mengomandokan” agar persiapan pesta olahraga yang akan menjadi kebanggaan dan meningkatkan harga diri bangsa Indonesia ini dilakukan serentak. Luas kompleks olahraga yang akan dibangun sekitar 300 hektar. Ia “menelan” empat kampung: Senayan, Petunduan, Kebun Kelapa, serta Bendungan Hilir. Pada 19 Mei 1959, dimulailah pembebasan tanah dan pembongkaran bangunan. Warga yang tergusur mencapai 60.000 orang. Mereka dipindahkan ke Tebet, sebagian lagi ke kawasan Slipi dan Ciledug.

Pembangunan enam sarana olahraga dan empat tempat akomodasi untuk atlet dimulai ketika Bung Karno menancapkan tiang pancang pertama, 8 Februari 1960. Kemudian, satu demi satu sarana olahraga itu pun terwujud. Istana Olah Raga (Istora) selesai dibangun pada 21 Mei 1961, Stadion Renang, Stadion Madya, dan dan Stadion Tenis (Desember 1961), Gedung Basket (Juni 1962), serta Stadion Utama (21 Juli 1962).

Untuk akomodasi atlet putra, dibangun Wisma Aneka I dan II, serta woman dormitory yang dinamai Wisma Hasta untuk atlet putri. Bagi tamu dari Asian Games Federation (AGF), International Olympic Committee (IOC), dan International Sport Federation (ISF) dibangun pula International Guest House yang kelak dinamai Hotel Asri. Semua sarana akomodasi ini selesai pada Mei 1962.


Sebutan “Gelanggang Olahraga Bung Karno” mulai terdengar ketika Penjabat Presiden RI Ir Djuanda, pada 17 September 1962 mengumumkannya sebagai nama yang akan diberikan pada kompleks olahraga AG-IV itu. Sejak 24 September 1962, pengelolaan kompleks olahraga ini diserahkan kepada Yayasan Gelora Bung Karno (YGBK).

Asian Games IV sendiri punya “buntut” politik. Penolakan atas keikutsertaan Israel dan Taiwan membuat AG-IV itu tidak diakui dunia internasional. Inilah yang mendorong Presiden Soekarno menggelar Game of the New Emerging Forces (Ganefo) di Jakarta, 10-22 November 1963.

Bung Karno yang juga memelopori penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (Conefo) kemudian membangun “kompleks politik” tak jauh dari Gelora (kini menjadi gedung DPR).

Sejak 3 September 1965, manajemen kompleks olahraga Bung Karno digabungkan dengan manajemen kompleks politik persiapan Conefo. Nama YGBK pun berubah menjadi Yayasan Gelora Bung Karno & International Political Venues (YGBK & IPV).

Kesulitan ekonomi yang melanda Indonesia membuat pemerintah ketiadaan dana. Sejak 1 Januari 1966 subsidi bagi YGBK & IPV dihentikan, dan sejak saat itu pula YGBK berubah nama menjadi Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan (YGOS).

YGOS yang mengelola Gelora tanpa subsidi menggandeng mitra usaha untuk membangun sarana olahraga dan non-olahraga. Hasilnya antara lain: Lapangan Golf seluas 20 hektar (1968), Golf Driving Range (1970), Hotel Hilton (di lahan seluas 13 hektar, 1971), dan Balai Sidang Jakarta (1974).

Pada 13 Januari 1984, YGOS bubar setelah keluarnya Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1984 yang mengalihkan tugas pengelolaan ke tangan Badan Pengelola Gelora Senayan (BPGS) yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. BPGS ditugasi mengurus kawasan dan seluruh aset Gelora Senayan secara mandiri.

Pintu bagi kehadiran perkantoran, hotel, dan pusat perbelanjaan yang mengitari Gelora pun kian terbuka. Hampir semua gedung yang berdiri di lahan Gelora Senayan memiliki ikatan kerja sama dengan BPGS dalam bentuk build, operation and transfer (BOT).

Meski GBK kemudian “dikepung” berbagai gedung yang bukan untuk olahraga, fungsinya sebagai ruang terbuka hijau tetap dipertahankan. Melalui kerja sama dengan Pemda DKI Jakarta disusun Rencana Induk Kawasan Gelora Senayan yang menetapkan Koefisien Dasar Bangunan maksimum 20 persen.

Ini berarti 80 persen dari luas kawasan dipertahankan tetap terbuka. Ruang terbuka itu kemudian menjadi 84 persen setelah peningkatan dan penataan Parkir Timur menjadi Taman Parkir, pembangunan gerbang di Plasa Selatan (menghadap ke Jalan Jenderal Sudirman), dan penggantian pagar lingkungan pada pertengahan 2004.

Kini, lahan Gelora Bung Karno terbagi dalam tiga kelompok penggunaan: kompleks olahraga seluas 136,84 hektar, kompleks instansi pemerintah 67,52 hektar, dan kawasan komersial seluas 74,741 hektar. Menurut Hak Pengelolaan Lahan yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional, luas wilayah Gelora Senayan seluruhnya 2.790.835 meter persegi yang juga meliputi kawasan tempat berdirinya Gedung DPR.

Penyelenggaraan Asian Games IV yang mendorong Indonesia membangun kompleks olahraga ini dicampuri persoalan politik. Persoalan politik pula yang “menghapus jejak” Bung Karno dari situ dengan mengubah namanya menjadi Gelora Senayan. Juga semangat politik yang akhirnya “menulis” lagi namanya, ketika pada 17 Januari 2001 Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan sebutan Gelora Bung Karno bagi kompleks olahraga ini. (BE Julianery/ Litbang Kompas) [ad#kumpulblogger]