berbagai tulisan tentang suporter indonesia akan di terbitkan berkala dalam rangka menuju 9 tahun Hari suporter.

9-tahun-suporter
Sebagai bagian dari suatu kelompok supporter, kita tentunya sering mendengar slogan “Marilah hidup damai, lupakan dendam!!”. Himbauan ini kadang terkesan sepele dan kadang dalam prakteknya sangat sulit dilakukan.

Pertikaian antar kelompok supporter di Liga Indonesia sudah sering dicarikan solusi perdamaiannya, tapi pelaksanaan di lapangan sering sangat sulit. Karena kadang kesepakatan damai antara dua kelompok suporter yang berseteru hanya di pahami level pengurus saja, sedangkan dalam prakteknya sosialisasi di level grass root lah yang paling sulit dan butuh perjuangan keras. Sebenarnya jika suporter sebagai individu menginginkannya, meski sulit coba ikuti saja resep ini:
[ad#camp][ad#ijo]

Hilangkan pikiran negatif tentang kelompok supporter lain. Kelompok supporter tidak salah terhadap kita! Hal semacam itulah yang harus kita pikirkan. Richard Carlson Ph.D dalam bukunya “Don’t Sweat The Small Stuff” mengatakan bahwa solusi yang paling mudah menghindari pertikaian adalah berpikir bahwa orang lain tidak pernah salah. Pahamilah setiap apa yang tersembunyi di balik perlakuan orang lain kepada kita. Bahkan kita kita bisa mengambil contoh kesabaran orang tua terhadap anaknya yang bandel dan begitu menjengkelkan. Dalam pelaksanaannya di dunia suporter kita hendaknya selalu bisa memandang dari sisi positif dan sabar dalam menghadapi provokasi dari kelompok lain. Berbanggalah bahwa kalian lebih mulia dan beradab dari kelompok yang melakukan provokasi fisik maupun mental.

Ambil inisiatif damai sedini mungkin. Jangan berharap kelompok supporter lain memulainya. Ambil keputusan untuk meminta maaf secepatnya kepada kelompok suporter lain bila kita ada pertikaian, katakan dengan tulus. Bila anda tidak segera mengambil inisiatif damai, maka permasalahan tidak akan ber**. “Tidak ada orang/ kelompok di dunia ini yang merasa bahagia jika disalahkan, meskipun dia tahu diri” ungkapCarlson.

Jika anda merasa kelompok suporter anda tidak bersalah, tak perlu menyalahkan kelompok suporter lain dan berharap kelompok supporter lain yang meminta maaf, apalagi bila persoalannya hanya sepele saja.

Musnahkan rasa dendam. Berhentilah mengobarkan luka hati yang kalian rasakan terhadap kelompok suporter lain. Dengan tak berulang kali menghidupkan kembali situasi itu, kelompok supporter anda akan merasakan kedamaian dan ketenangan hati. Tinggalkan kemarahan dan lupakan dendam. Memaafkan memberi anda kekuatan untuk mengatasi persoalan. Ketika anda meminta maaf dulu, maka anda akan merasakan kebahagiaan. Memaafkan orang berarti melepaskan suatu beban. Dalam buku Forgivenes: A Bold Choice for a Peaceful heart , Robin Casarjin mengatakan “Begitu anda memaafkan orang, maka secara emosi anda tidak akan terbelenggu oleh orang yang menyakiti anda”.

Jangan gengsi. Meminta maaf mungkin bukan pekerjaan ringan. Orang-orang yang masih diliputi perasaan-perasaan sombong, merasa lebih baik, atau gengsi, tidak akan mau jika harus meminta maaf lebih dulu. Apalagi meminta maaf kepada orang/ kelompok suporter yang selama ini dianggap lebih rendah darinya. Buang jauh-jauh perasaan itu, ketika anda mempunyai posisi yang lebih baik darinya. Anda dalam posisi yang lebih unggul dari yang pernah mencederai anda atau berbuat culas pada anda bila anda meminta maaf dulu.

Perbaiki Batin. Benahi pikiran kembali pikiran dan batin anda. Ini cara yang paling aman untuk menghindari kesalahan dan meringankan dalam memberi maaf. Dengan perbaikan batin dimana-mana dan memudahkan maaf pada kelompok suporter lain maka hidup anda akan lebih indah! Trust your dream for peace not your fear…

Friendships without frontiers, Football without violence.

Regards,

Panji Kartiko, SH
– Dubes Pasoepati Jakarta 2000-2003
– Anggota pengurus ASSI
– Dewan Penasehat Pasoepati Jakarta 2004- Sekarang
– Warga Suporter Merah Putih
[ad#twitter]