berbagai tulisan tentang suporter indonesia akan di terbitkan berkala dalam rangka menuju 9 tahun Hari suporter.

Memori Kuis Siapa Berani

9-tahun-suporter
Kalau Anda suka menonton tayangan infotainment di televisi, tolong beritahu saya : siapa selebritis yang statusnya sebagai orang tua tunggal, single parent, saat ini ? Sosok yang bisa saya ingat saat ini baru satu : Alya Rohali.

Wanita semampai dan cantik ini pernah saya minta tanda tangannya, 12 Maret 2002. Di studio Indosiar, Jakarta Barat, usai kami mengikuti kuis “Siapa Berani ?” yang ia pandu. Alya Rohali dan juga Helmy Yahya saya minta untuk membubuhkan tanda tangannya di kaos kontingen saya yang ada slogan dan sekaligus lirik lagu yang kami bawakan untuk “merayunya” dalam kuis itu
[ad#ijo]
Saat itu saya merasakan salah satu momen puncak kiprah saya sebagai suporter sepakbola Indonesia. Kontingen suporter yang mengikuti kuis heboh tersebut adalah Aremania (suporter Arema Malang), Jakmania (Persija Jakarta), Pasoepati (Pelita Solo), Viking (Persib Bandung) dan ASSI (Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia). Saya tergabung dalam kontingen ASSI, organisasi induk suporter sepakbola Indonesia yang sejak dari gagasan sampai saat pendeklarasiannya saya ikut membidaninya.

Kami berlatih tanggal 11 Maret 2002, di gedung sekolah Harapan Ibu, Ciputat, Jakarta Selatan. Di sekolah tempat penyanyi cilik bersuara malaikat, Sherina dan Sulis Hadad Alwi bersekolah, yang menjadi tuan rumah adalah Eko Haryanto. Selain sebagai suporter Persebaya, pengurus ASSI, ia juga guru sekolah Harapan Ibu tersebut.

Sigit Nugroho, Ketua ASSI, memimpin kontingen berlatih. Dari Viking (suporter Persib tetapi tinggal di Jakarta) tampil Agus Rahmat, Eri Hendrian, Tantry, Margaretha “Nonny” Malaihollo dan Maureen “Audry” Malaihollo. Juga Erwin Fitriansyah, suporter Surabaya. The MaczMan (suporter PSM) diwakili Andre “Daeng” Pangeran dan dua temannya. Slemania Jabotabek diwakili dua orang. Dari suporter Persikota, tampil dua wakil. Pasoepati (Solo) diwakili Ryan Adhianto, Taufik Ismail (kini telah meninggal), Andi Setyawan dan Bambang Haryanto.

Aktor utama pada sesi latihan itu adalah Eko “Bonek” Haryanto. Ia pula yang telah memilihkan lagu bersemangat, mudah diingat, liriknya pun heroik untuk mengiringi aksi panggung kontingen ASSI. “Lagu ini lagu demonya mahasiswa saat tumbangnya Soeharto”, tutur Eko. Lagu tersebut langsung kita setujui.

Kemudian nakal saya kumat. Saya melakukan modifikasi liriknya sehingga ending lagu kontingen ASSI tersebut punya daya ledak kejutan humornya. Ketika gladi resik, floor director kuis itu tersenyum simpul. Lirik lengkapnya akhirnya berbunyi :

Wahai suporter sepakbola kita
Di mana pun kini kau berada
Yuk bersatu seia sekata
Untuk ASSI, kita jaya

Maju ASSI terus maju
Ajaklah dia, dia, dia
Tuk bergabung beradu kreasi
Di arena Siapa Berani

Helmy, Alya Rohali
Memberi peluang rejeki
Kalah menang kita tak peduli
Bawa pulang Alya Rohali !
Bawa pulang Alya Rohali !

Helmy Yahya tinggal di sini !

Saat itu Alya belum bercerai. Kini statusnya sebagai single parent, mungkin menunjukkan bahwa dirinya tidaklah sendirian. Saya punya adik perempuan, masih muda, juga berstatus sama. Sedang kalau Anda pernah membaca novelnya Nick Hornby, About A Boy, akan Anda temui tokoh pria bernama Will yang pernah menyatakan bahwa para ibu tunggal, wanita cantik, atraktif, belum punya pasangan, jumlah mereka ribuan di London, adalah ciptaan terbaik yang pernah ia ketahui !

Novel ini menceritakan lika-liku pria lajang, Will, yang menyusup masuk dalam organisasi para orangtua tunggal, SPAT : Single Parent – Alone Together. Ia berpura-pura sebagai ayah seorang anak dan berstatus cerai. Lalu terlibat hubungan asmara dengan ibu tunggal yang punya kecenderungan melakukan bunuh diri dan terbelit hubungan persahabatan yang unik dengan anak lelakinya.

Anak lelaki umur 12 tahun ini, bernama Marcus, juga antik. Kalau anak seumurnya suka penyanyi MC Hammer, Snoop Doggy Dog atau Paul Weller, ia justru menyukai Mozart (“yang paling saya sukai adalah Symphony No. 40 in G Major, sementara A Musical Joke, belum saya temukan di mana lucunya”), juga penyanyi tahun 60-an, generasi pesta musik Woodstock, Joni Mitchell. Marcus suka menyenandungkan lagu Joni Mitchell yang terkenal, “Big Yellow Taxi“ :

Late last night I heard the screen door slam
And a big yellow taxi carried off my old man
Don’t it always seem to go
That you don’t know what you’ve got till it’s gone
They paved paradise and they put up a parking lot
(Shoo-bop-bop-bop-bopbop)

Marcus juga menyukai penyanyi reggae berambut gimbal dari Jamaica, Bob Marley. Saking kuper-nya, saat diajukan nama penyanyi kelompok Nirvana, Kurt Cobain, justru ia menyebutnya bahwa Cobain adalah pemain sepakbola dari klub Manchester United.

Kisah Will dan Marcus telah difilmkan dengan bintang Hugh Grant. Novel ini kemudian mengingatkan saya bahwa pengarangnya, Nick Hornby, memiliki ucapan yang persis menggambarkan perasaan saya terhadap sepakbola. Katanya :

“Saya jatuh cinta kepada sepakbola seperti halnya ketika jatuh cinta kepada seorang wanita. Semuanya berlangsung secara tiba-tiba, tanpa pikiran kritis, juga tidak berpikir mengenai kesakitan yang bakal diakibatkannya “

Dari ucapan inilah tulisan ini saya mulai. Berisi pelangi beragam kisah seorang epistoholik yang menyukai sepakbola !
oleh bambang haryanto[ad#kumpulblogger]