Persatuan Sepak Bola Indonesia Kota Depok (Persikad) akan dijual seharga Rp 10 miliar. Tim kesayangan kota dengan ikon buah belimbing itu dijual karena kesulitan keuangan.

Hal itu disampaikan Manajer Persikad Adi Gunaya di Balaikota Depok, Kamis (7/5/2009). Menurut Adi, keputusan menjual Tim Pendekar Cisadane itu sudah melalui pembicaraan dengan Yuyun Wirasaputra sebagai pembina Persikad dan pengurus Persikad. “Kami sudah membicarakannya dengan Ketua Pembina Persikad Pak Yuyun Wirasaputra. Win win solutionnya adalah menjual Persikad,” katanya.

Adi mengatakan, siapa saja yang mau membeli Persikad sebesar Rp 10 miliar maka Persikad akan diberikan kepada pembeli tersebut.Dana tersebut diperuntukkan untuk pengembangan Persikad ke depan dan membayar gaji pemain Persikad selama delapan bulan sebesar Rp 3 miliar.

Gaji para pemain Persikad itu bervariatif. Untuk gaji pemain asing yakni Onana dan Boumsong asal Kamerun digaji Rp 300 juta per musim. Sedangkan gaji pemain lokal antara Rp 30 juta-Rp 50 juta. Sementara ini kedua pemain asing itu dipulangkan karena ketidakjelasan keuangan Persikad. Mereka akan pulang pada 13 Mei 2009. “Kalau kurang dari Rp 10 miliar tidak dikasih. Selama ini membayar gaji pemain dari patungan kantong pribadi pengurus dan bantuan dari pecinta Persikad,” paparnya.

Jika tidak ada yang mau beli Persikad, lanjut Adi, maka pengurus Persikad akan mendirikan CV atau yayasan yang berbadan hukum. Tujuannya dibentuk badan hukum tersebut untuk mencari dana. Dana tersebut dipakai untuk meningkatkan kualitas Persikad.

Lebih lanjut Adi menjelaskan, Pemkot Depok dapat membantu keuangan Persikad. Caranya dengan menetapkan alokasi anggaran olahraga dengan nilai yang signifikan. Kemudian dana tersebut dimasukan ke dalam pos untuk pembinaan sepak bola. “Memang UU sudah melarang, tapi kan bisa disiasati. Coba lihat Bupati Bogor Rachmat Yasin begitu peduli dengan Persikabo. Seharusnya Pemkot Depok bisa seperti itu,” tandasnya. (msy)

selain persikad, Persis Solo juga terbersit wacana untuk di jual, namun itu ditentang oleh kelompok suporternya, “berani bubarkan persis = harga mati” demikian di salah satu bentangan spanduk nya. Selain itu PSIS sudah membubarkan tim seniornya dan hanya mengandalakan tim U-21 nya, ini adalah bukti juga kalau banyak klub indonesia gulung tikar.