Pasukan pemerintah El Salvador memasuki perbatasan Honduras karena sepakbola. Seorang suami menembak mati istrinya karena sepakbola di Bucharest. Seorang pria memuncratkan isi kepalanya dengan sebuah peluru karena sepakbola di Buenos Aires. Ribuan supporter Liverpool membantai tifosi Juventus atas nama sepakbola di Brussels. Di jalan raya Istambul, pendukung Galatasaray memukuli dan menikam mati dua pendukung Leeds United karena sepakbola. Di alun-alun kota Roma, seorang wanita memamerkan buah dada dan kemaluannya karena sepakbola. Sementara itu di Jakarta, seorang pria menceraikan istrinya juga karena sepakbola.

Kaget? Jangan dulu karena misteri sepakbola juga merambah jauh sampai ke Indonesia. Jangan dulu bangga jika sudah merasa menjadi penggila sepakbola. Berkoleksi segala pernik sepakbola, menonton seluruh pertandingan yang disiarkan TV swasta, rajin datang ke acara nonton bareng di kafe-kafe. Apalagi kalau cuma rutin main sepakbola baik di lapangan killer maupun senayan, itu bukan jaminan bahwa Anda adalah seorang maniak sepakbola.

[ad#ijo]Anda boleh saja merasa sudah gila pada sepakbola ketika seluruh nama pemain di liga terkemuka Eropa dan Amerika Latin terhafal di luar kepala. Wallpaper dan screensaver di komputer laptop bergambarkan bintang-bintang dunia, atau mungkin Anda selalu membawa sepatu bola kemana-mana..

Tapi, pernahkah Anda kabur dari meeting, mengundurkan diri dari kantor atau memutuskan pacar Anda karena sepakbola. Kalau komentar Anda adalah “Hanya gara-gara sepakbola kok bisa jadi kayak begitu?” terhadap contoh soal diatas, maka Anda belum layak dikatakan sebagai seorang penggila sepakbola

“Sepakbola adalah hidup, jadi supporter itu juga pilihan hidup,” ujar Heru Joko seorang pendukung fanatik klub Persib Bandung. Ia tentu saja tidak mencoba untuk meniru Bill Shankly yang menganggap “Sepakbola adalah lebih dari sekedar hidup!” Baginya menjadi pendukung sebuah tim sepakbola berarti juga menyerahkan diri, jiwa dan raga pada kebesaran tim itu.
“Saya dan teman-teman mah kecil, Persib yang besar…tanpa Persib kami bukan apa-apa,” ujar pria berkacamata yang mengaku hanya mengenal satu warna dalam hidupnya, Biru. Warna khas Persib Bandung.

“Kalau Persib menang, Bandung berubah jadi Europe!” jelas Ayi Beutik, pentolan supporter Persib Bandung lainnya. Lelaki berusia 38 tahun ini mengaku meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang staf ahli pemetaan untuk menjadi pendukung Persib Bandung. “Hampir seluruh belahan Indonesia pernah saya datangi, tapi setiap mendengar Persib main, rasanya hati ini maunya pulang aja mendukung Persib,” jelas Beutik yang mengenakan kaos kaki sepakbola warna biru di hari pernikahannya.

Totalitas pria bernama asli Suparman ini semakin dibuktikan dengan pemberian nama Jayalah Persibku pada putra pertamanya. “Nama itu sebetulnya doa buat Persib, waktu itu khan Persib nyaris degradasi, rasanya mau nangis ngeliat kondisi Persib saat itu,” di saat Jayalah Persibku lahir, Persib memang tengah berada di zona degradasi Liga Indonesia.

Beutik pun tidak main-main pada nama putranya. Buatnya, putranya yang biasa ia panggil Jaya boleh memilih apapun yang ia mau “Mau jadi artis, mau jadi Presiden, mau jadi penjahat, pokoknya terserah, yang penting dia harus dukung Persib!!!” tegas pria ini tentang putra pertamanya yang sudah mampu melafalkan “Wasit Goblog!!!” di usianya yang ke 8 bulan.
Irlan adalah contoh lain kegilaan pada sepakbola nasional. Aktifis Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengaku telah menyerahkan hidupnya di jalan agama. “Tapi seperti rasul, jalan agama bukan berarti harus melupakan dunia. Artinya gue gak mungkin meninggalkan Persija,” tukas pria berusia 30 tahun yang mengaku hanya mempunya tiga hal penting dalam hidupnya “PKS, Persija dan Manchester United!!!”

Pria keturunan Arab ini adalah salah satu contoh supporter fanatik dari klub Persija Jakarta. Kehidupan sehari-harinya dijalani sebagai seorang pegawai di restoran waralaba asing. Ia pun dikenal sebagai seorang da’i sekaligus kader dari PKS yang dikenal sebagai partai islam berbasiskan pengajian-pengajian. Tapi jika sudah turun di stadion, Irlan bagai berubah total. “Kalau tim kita main, gak ada supporter lawan boleh rese’!” tegasnya.

Lalu apa jadinya jika ada yang rese’? Tentu saja Irlan akan berdiri paling depan menghantam lawan, jika perlu sampai terkapar kelojotan. Jika Anda ingat peristiwa pelemparan terhadap bus sebuah tim lawan di pengkolan Pasar Jum’at, pria inilah yang berdiri paling depan dengan batu terbesar. Tentu saja pria ini—dengan bentuk fisiknya yang khas—cukup populer baik di kalangan aparat, preman stadion maupun kelompok supporter lawan.

“Sepakbola selalu memberikan harapan, maka dari itu kami mencintai sepakbola karena kami mencintai harapan,” ujar Ferry Indrasjarief pentolan kelompok supporter Persija. Jalan hidup pria yang akan berusia 39 tahun ini sangat jelas, jika ‘Dangdut is the music of my country’ maka baginya ‘Persija is the music of my heart!’ Apapun yang dilakukan, klub kesayangannya tersebut selalu mendapat tempat paling utama.

Ia terhitung orang yang cukup gila di kantornya. Bayangkan saja, jika sebuah pertandingan tandang di Tangerang akan dimulai pada pukul 15.30 maka ia sudah keluar dari kantor pada pukul 10.00. Bahkan jika pertandingan kandang yang akan dilakoni, paling lambat pukul 14.30 ia sudah melarikan diri dari kantornya, padahal di kantor tersebut ia cuma seorang pegawai bukan komisaris.

“Kalau harus milih antara kerja atau Persija, gue akan pilih Persija,” tegas pria yang enggan mengaku lahir di Bandung ini. Baginya, hidup selalu akan menemukan jalannya, dan baginya Persija adalah salah satu jalan itu. Bagaimana dengan pacar? Pria yang masih betah melajang ini (itu pun menurutnya karena kesibukannya mendukung Persija-red) menyatakan agak ragu, walau tanpa didesak ia menegaskan “Masak sih gue gak bisa ajak cewek gue ke stadion nonton Persija?”

Mungkin lucu melihat kenyataan betapa fanatiknya banyak orang Indonesia pada sepakbola nasional. Fanatisme luar biasa yang bahkan sampai rela mengorbankan jiwa dan raga “Bagimu Persib jiwa raga kami!!!” adalah semboyan partisan pendukung Persib. Bagi mereka, fanatisme pada Persib adalah harga mati “Siapapun yang menghadang laju Persib harus dibasmi, supporter lawan yang menghadang juga harus dihalau,” ujar Beutik. Ucapan tersebut pun mendapat amin yang positif dari banyak kelompok supporter lain.

Anda tidak usah heran jika melihat pendukung sebuah tim berkelahi dengan pendukung tim lawannya. Bagi mereka sepakbola bukan cuma olahraga, sepakbola adalah soal harga diri yang harus dijaga, rasa cinta pada tanah kelahiran yang musti dijunjung atau sikap patriotisme yang harus dibusungkan ketika menghadapi lawan.

Jangan sinis dan menganggap gila dulu pada orang-orang ini. Jika Anda lebih sering menyaksikan AC Milan, Real Madrid atau Manchester United tanpa pernah menyaksikan tim dari negeri sendiri (atau bahkan tim nasional Indonesia). Anda bisa saja merasa lucu melihat fenomena ini. Tanpa prestasi internasional, tanpa permainan yang memikat atau tanpa daya tarik seorang David Beckham, tapi kok mau-maunya fanatik pada sebuah tim.

Jika pun Anda punya cukup nyali untuk menyatakan langsung pada mereka bahwa kegilaan mereka pada sepakbola nasional bersifat ganjil, jangan pula melakukannya. Anda bisa saja malah dibilang aneh, karena di Eropa, Amerika Latin atau negara manapun dimana sepakbola berada, kegilaan dan fanatisme memiliki banyak sekali kesamaan.

Lebih baik Anda tanyakan pada Robbie Williams kenapa mereka bisa begitu mencintai klub Port Vale yang entah tahun berapa terakhir kali bisa berlaga di Divisi Utama. Atau Noel dan Liam Gallagher yang sangat mencintai Manchester City yang jelas saja kalah mentereng dibanding dengan tetangganya Manchester United. Jawabannya hanya ada di dalam hati, tak peduli tim kesayangan tak mampu berprestasi internasional, fanatisme dan kecintaan pada klub takkan pernah lekang.

“Persija sampai gue mati,” ujar Ferry. Atau tetap mempertaruhkan sejumlah uang pada Persib walau lawan yang akan dihadapi adalah AC Milan di musim panas 1994.

Andi Bahtiar Yusuf = Artikel ini dimuat di BOLAVAGANZA edisi Maret 2009
[ad#oke]