Kali ini saya harus mencoba menulis dalam bahasa Indonesia, karena saya mengharapkan “mereka” membaca. Dan “mereka”, saya yakin, tidak bisa bahasa Inggris. Dan kalaupun membaca dalam bahasa Indonesia, semoga mereka tidak salah interpretasi. Soalnya, membaca itu juga adalah suatu yang harus dibiasakan dan dilatih, bukan semata-mata bisa membaca alias tidak buta huruf.Tulisan saya ini mengenai tiga hal, dan keduanya menyangkut salah interpretasi dari kegiatan kami yang menyangkut film “Romeo – Juliet”, dan terkait pula dengan kejadian pemukulan terhadap sutradara dan beberapa anggota tim R-J di Bandung Sabtu lalu. Inilah tiga hal yang sekarang sering disebut-sebut oleh banyak emails ke kami :

1. “R-J adalah tentang konflik dan kebencian”. Bukan! Begini bung, di setiap kisah atau karya seni itu harus ada kontras. Lukisan itu tidak bisa hanya satu warna.Untuk menonjolkan satu warna, harus ada warna yang kurang menonjol, atau “dikorbankan”. Musik itu tidak bisa hanya satu melodi. Nah, di satu cerita itu juga harus ada kontras. R-J itu ingin mengisahkan sebuah kisah cinta. Jadi elemen kontrasnya, yaitu kebencian, ya terpaksa harus ada! Tapi fokusnya tetap saja ke cinta. Tapi kalau anda memang sudah penuh dengan kebencian dan sampah-sampah lain di dalam diri anda, ya pastilah anda hanya lihat hal-hal tersebut saja. Yang paling penting, yaitu cinta 2 sejoli itu, malah nggak kelihatan. Cinta itu ada, bung. Cinta itu eksis, dan kalau dicari pasti dapat (wong nggak dicari aja dapet kok !) .
Jadi, R-J itu bukannya mau menyebarkan kebencian, tapi justru kebalikannya. Ya tentu saja harus diperlihatkan sisi konfliktif dari dua grup itu, kalau tidak, bagaimana penonton mau mengerti ?

2. “Film R-J Andibachtiar Yusuf itu plagiat !” Nah, betul sekali ! Anda memang sangat intelek ! Memang itu plagiat, nyontek abis. Cerita itu sudah ditulis oleh pujangga terbesar dunia, William Shakespeare di abad 16 (silahkan google saja kalau tidak percaya). Dan setelah itu buuuuaaanyak sekali yang mengambil cerita itu dan diadaptasi seenaknya. Soalnya, kisah ini sangat penuh dengan metafora, dan sangat mencerminkan kehidupan siapapun. Mungkin itu adalah kisah cinta yang paling lengkap yang pernah ditulis.
Nah, yang nyontek itu bukan hanya penulis, sutradara film atau teater setelah Shakespeare. Bahkan komponis pun banyak yang nyontek! Coba google saja nama-nama Hector Berlioz, Tschaikovsky atau Prokofiev (aduh, 2 nama terakhir itu kok susah bener ya. Belum lagi nama penulis aslinya, Shakespeare), mereka pernah bikin karya yang sama persis judulnya. Tapi, soal contek-menyontek di dalam dunia seni itu adalah satu hal yang kalau dibicarakan nggak akan habis dalam 7 hari 7 malam dengan minum kopi satu gentong. Jadi … gimana kalau saya pribadi mengakui saja .. ya kalau anda bilang ini nyontek, ya terserah deh bung!

3. “Andibachtiar Yusuf itu digebukin untuk promosi”. Nah, kalau ini salah besar, bung. Kami semua yang terlibat di produksi ini memang berharap bahwa film ini ditonton oleh orang banyak, dan kami mengadakan promosi masing-masing. Cuma saja kami tidak segitu “putus asa” (desperate, dalam bhs Inggris) sampai sang sutradara rela digebuki supaya filmnya ditonton. Ini kecelakaan, bung! O ya, kalau saya ke Jakarta, jangan digebukin juga ya?

Nah, untuk anda semua yang doyan ngritik, kami sangat berterimakasih atas segala masukan anda. Tapi, jangan harap bahwa karena anda doyan ngritik dan doyan nggebukin sutradara film, kami anggap anda tuh “macho” loh ! Nggak keren deh ! Buat saya pribadi, lebih keren bisa bikin film lah! O ya, saya punya jawaban untuk para kritikus saya “O, jadi anda bisa bikin yang lebih bagus ya? Wow, salut, bung! Tapi kok nggak bikin?”

Kami hanya minta satu hal : tonton dulu filmnya, bung ! Baru boleh ngritik atau nggebukin sutradara …

* Ananda Sukarlan. Penulis Musik untuk “Romeo-Juliet”