jpeg-image-65926

dibuat ketika menjelang pertandingan persis Solo VS  PSIM

di dedikasikan buat orang orang yang masih menghargai adanya cinta dan kemanusiaan. persetan dengan fanatisme. “mencintai dan mendukung adalah hal yang berbeda dengan fanatisme…mencintai dan mendukung adalah bentuk ketulusan dari hati untuk sesuatu yang kita cintai…” ujar salah seorang rekan. Ini bukan hanya wacana Akan tetapi ini adalah bentuk usaha.

Teringat Tahun 2000 an kala masa jaya pasoepati. Tour maut keSurabaya yang di beri tajuk From Solo With Love masih melegenda sampai sekarang. Belum ada kedigdayaan yang bisa menandingi masa jaya pasoepati kala itu. Pasoepati kini mulai ditelan oleh kegagalan regenerasi. Kehilangan sosok Mayor dan sekarang kehilangan sang dirigen maryadi gondrong. Memang merah dimanahan blm habis. Setidaknya masih bisa disebut kalau pasoepati termasuk jajaran suporter teratas yang ada di Indonesia. Tapi jika merunut masa lalau. Nama besar pasoepati saat ini sudah mulai tenggelam oleh para generasi generasi yang dilahirkan oleh pasoepati sendiri. Slemania misalnya. Lebih terlihat apik saat ini. Padahal notabene sejarah slemania setidaknya pasoepati ikut hadir untuk mendeklarasikan pendiriannya. Selain slemania ada juga Paser bumi yang mungkin lebih bisa memerahkan stadion sultan agungnya.
Pasoepati Means Love.
Pasoepati adalah cinta. Pasoepati adalah jiwa bagi kami semua. Tapi apa artinya jiwa kalau itu tanpa cinta. Tour Surabaya karena memang cinta yang membawanya. Cinta publik solo terhadap kehausan tontonan yang hampir 2 tahun mereka tidak mempunyai klub. Tahun 1998 Arseto Solo dibubarkan. Padahal Arseto sudah sangat dicintai bukan hanya oleh para warga solo tapi juga oleh para pemain nya. Wajar saja jika Edward Tjong, Ricky Yakobi, Eddy Harto, Inyong Lolombulan, Nasrul Koto, Rocky Putiray begitu sedih karena cinta mereka hilang. Pada pertandingan perpisahan terjadi sebuah ledakan atas reaksi cinta publik solo, pertandingan perpisahan antara Arseto dengan Pelita jaya dihentikan di paruh kedua. Penonton membludak hingga ketengah lapangan hingga situasi tidak bisa dikendalikan. Demikian juga yang terjadi diluar stadion bahkan di sepanjang jalan Slamet Riyadi.

Tahun 2000 Pelita Jaya memilih solo sebagai tambatan cintanya. Publik yang merasa haus akan tontonan pun menyambut gembira kepindahan klub dari Jakarta tersebut. Lahirlah Sebuah kelompok suporter dengan nama pasaoepati untuk mendukung Pelita Jaya. Ditahun pertamanya Pasoepati bukan hanya menjadi perbincangan warga solo tapi juga seluruh pecinta bola nasional. Kedekatan dengan salah satu media olahraga nasional membuat Pasoepati begitu disegani kala itu. Akan tetapi bulan madu dengan Pelita tidak berlangsung lama. 11 juni 2001 adalah pertandingan terakhir pelita di stadion manahan. Setali tiga uang dengan pertandingan terakhir Arseto, terjadi kerusuhan yang membuat pertandingan dihentikan.

Bukan hanya kerusuhan semata tapi jalinan hubungan suporter solo dan semarang yang selama ini akur akur aja. Permusuhan itu memang dilatar belakangi dengan terkurungnya suporter semarang sampai pagi di stadion Manahan. 1000 an orang terpaksa harus bertahan didalam stadion karena diluar di cegat oleh massa pasoepati. Hampir 4 musim terjadi penolakan demi penolakan. Solo tidak boleh menonton di semarang dan demikian juga sebaliknya.

Adalah tahun 2006 ketika partai terakhir divisi 1 saat persis melawan mojokerto putra, perwakilan semarang baik panser biru maupun snex bersama para pandega pasoepati memutarkan sebuah spanduk damai yang intinya menghilangkan dendam yang pernah ada, mengobati luka yang sempat tergores. ini tidak serta merta pasoepati menerima dengan baik, akan tetapi masih ada lemparan dari timur terutama. akan tetapi usaha tulus kalau diniati dengan baik hasilnya akan memuaskan. dan dalam waktu yang hampir bersamaan manajemen PSIS memindah home base selama 8 besar di solo dan melakukan berbagai macam kegiatan untuk menarik simpati publik solo, entah ini ada korelasinya nya tidak dengan usaha damai para suporternya. akan tetapi ini adalah sebuah langkah yang patut kita tiru, bukti keseriusan damai solo semarang bisa kita lihat sekarang.Dan mungkin dengan cinta lah semua nya itu bisa berakhir. Kebesaran hati hati publik solo dan niat yang tulus dari publik semarang membuat semuanya berakhir indah.

JOGJA APA KABAR

Lalu bagaimana dengan Brajamusti? Masihkah luka mandala krida kembali diungkit ditahun ini. Peristiwa memerahnya mandala krida yang berbuntut hancurnya mobil mobil yang ber Plat AD dan juga kerusuhan ketika PSIM bertanding di di Manahan. Luka solo jogja belum terobati sampai sekarang. Dan seperti ada keengganan untuk memulai pengobatan itu. Lalu ketika 7 oktober nanti ketika Persis melawan PSIM masih tidak bolehkah rekan rekan brajamusti menjejakkan kaki di Solo. Ataupun kalau misalnya rekan rekan brajamusti kesolo harus disambut dengan lemparan demi lemparan??? Ayo siapa yang ingin memulai untuk mengobati dendam ini. Wacana perdamaian memang selalu bergulir tapi tidak pernah ada tindakan yang riil. Kembalikan kesakralan nama pasoepati yang dahulu, atraktif, kreatif dan anti anarki. Jadikan solo sebagai kota yang selalu ramah kepada para tamunya. Sampai kapan permusuhan ini akan dipelihara?. 7 Oktober adalah pembuktian kedewasaan rekan rekan semuanya. Easy to be nice guy. Follow me Follow Pasoepati. 06/sep tember / 2008