Akhirnya kami Komunitas Joglosemar Jabodetabek(Supporter PSIS, Persis, Slemania& Persiba) berkesempatan juga menonton film yang sedang ramai dibahas akhir-akhir ini.Tema film ini menarik perhatian publik karena mengisahkan perseteruan antar kelompok supporter sepakbola terbesar dari Jakarta dan Bandung yaitu Jakmania dan Viking.

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

Minggu 26 April’09 bertempat di Planet Hollywood Jakarta kami menyaksikan Film tersebut. Sudah lama Joglosemar tidak bertemu, tentunya pertemuan di Planet Hollywood tersebut menggembirakan kami. Dan yang lebih membanggakan lagi adalah Sutradara Film tersebut yakni Andi Bachtiar Yusuf hadir langsung pada acara Minggu siang tadi.Cukup membanggakan juga seorang Andy Bachtiar Yusuf berkempatan hadir di acara yang kami kemas secara sederhana, Bahkan “Ucup”(Panggilan akrab Andy Bachtiar Yusuf) terlihat tetap bersemangat walaupun dia baru saja pulang dari Syuting “Apa Kabar Indonesia” pagi di TV One.

“Fanatisme telah hidup dalam diri para suporter berlandaskan berbagai motif, baik yang rasional maupun yang di luar nalar. Mereka bahkan rela mati demi klub kesayangannya,” kata sutradara dan penulis naskah film “Romeo Juliet”, Andibachtiar Yusuf pada kami di Halaman Depan Planet Hollywood. Ucup, demikian ia biasa dipanggil mengungkapkan meski sepak bola identik dengan laki-laki, namun faktanya ribuan suporter fanatik adalah juga kaum perempuan. Ia juga menemui banyak cerita cinta di kalangan suporter yang berakhir sedih karena menjalin percintaan dengan suporter klub lawan dimana dalam sudut pandang para suporter, jatuh cinta atau bahkan merajut tali kasih dengan suporter klub “musuh” merupakan hal yang “haram”.

“Dari situ saya terinspirasi untuk membikin film `Romeo Juliet`, mengangkat kisah cinta dan fanatisme di antara para suporter Jakmania dan Viking Bandung,” katanya. Kita semua tentunya sekali lagi harus angkat 2 jempol buat Andi Bachtiar Yusuf atau yang biasa disapa Ucup.Setelah sukses membuat beberapa film documenter salah satunya yang pernah wara-wiri dibeberapa festival film dokumenter baik didalam maupun luar negeri adalah “Trilogy The Jakmania”, serta kisah “The Conductor”.

Namun berbeda kali ini,Ucup bukanlah membuat sebuah film documenter melainkan sebuah film yang berjudul Romeo dan Juliet. Film ini mengambil latar belakang perseteruan diantara dua kelompok supporter sepak bola di Indonesia yaitu The Jakmania sebagai pendukung fanatik kesebelasan Persija Jakarta dengan pendukung kesebelasan Persib Bandung yang diwakili oleh kelompok suporternya yaitu,Viking. Film Romeo dan Juliet mengekspose sepakbola dari berbagai aspek. Permusuhan kedua kubu pendukung sepakbola antara Viking (PERSIB) dan Jak Mania (PERSIJA) di abadikan dengan apik dalam film ini.

Adalah Ranggamone Larico (Edo Borne) yang memulai kisah. Dia adalah pendukung sejati Jak Mania. Suatu hari terjadi bentrokan dengan para pendukung PERSIB, Viking, sesaat setelah PERSIB dan The Jack bertemu di sebuah acara Kuis yang mengambil gambar di Jakarta. Kendaraan yang di kendarai Desy Kasih Purnamasari (Sissy prescilia), dimana Desy adalah Lady Viker –pendukung wanita PERSIB dari Viking- di cegat Jak Mania. Dalam bentrokan tersebut, terjadilah kisah klasik itu, cinta pada pandangan pertama antara Rangga dan Desy. “Gila..dalem keadaan chaos aja wajahnya masih cantik” Ungkap Rangga, sehari setelah kejadian itu. Rangga pun nekad berangkat ke Bandung. Bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali. Hanya untuk menemui Desy. Di kalangan Jak Mania sendiri, terjadi kesalah pahaman yang membuat Rangga di cap sebagai pengkhianat.

Dalam beberapa kesempatan, Rangga dan Desy masih berpisah karena belum mendapat restu. Setelah mengetahui pernikahan adiknya dengan Jak Mania, Parman mencemooh Desy dan mengatakan sudah banyak korban dari keluarga akibat bentrok dengan Jak Mania. “Lihat Kang Soleh. Itu gara-gara ulah Jak Mania” imbuhnya, sambil melirik Soleh Solihun (Epi Kusnandar) yang tuli.

Parman kemudian teringat dengan sosok Vita, anggota Jak Angels – pendukung wanita PERSIJA dari Jak Mania- yang pernah dicintainya. “Saya tinggalkan Vita, demi PERSIB. Tapi sekarang lihat.” Katanya. Ending film ini adalah kematian Rangga saat diketahui sebagai JAK MANIA di Bandung, sesaat sebelum laga PERSIB vs PERSIJA. Ia tewas babak belur di hajar pendukung VIKING. Saat sekarat, Desy yang berada di stadion berlari sambil berteriak “ Eta salaki aing…eta salaki aing (Itu suami saya…itu suami saya)”. Rangga pun tewas di dalam pelukan Desy, di bawah kerumunan massa.

Pesan di film ini adalah ucapan Desy saat itu “Kalian puas ? Ingin tetap berkelahi (bermusuhan) sampai kapan? Sampai Kiamat?”. Maknanya mungkin, sampai harus ada lagi nyawa melayang?

Di mata penulis sendiri, Sepanjang film yang saya ingat terutama adalah bahwa saya dan teman-teman di sekeliling saya selalu tertawa keras dengan isi film ini. Bukan karena tertawa menjelekan tapi ini murni tertawa karena sense of humornya dapat sekali, pas, alamiah dan lucu. Kalo sudah begitu kenapa ketawanya harus ditahan yah? Penggunaan istilah konyol khas Betawi juga khas Sunda ternyata sangat-sangat mengocok perut. Secara keseluruhan film ini lumayan. Hanya teknisnya masih agak kacau. Penggunakan teknik ‘handled cammera’(maaf jika penggunaan istilah ini salah) terasa kasar sekali. Namun itu terbayar dengan acting bagus para pemainnya. Saya lantas berpikir yang sekonvensional mungkin, ‘kenapa yah gak sekalian saja Sissy Pricilla ikutan mati juga seperti kisah asli Shakespearenya? Sayang juga bahwa ternyata ada banyak kisah tragis ala Romeo and Juliet ada dalam lingkup persepakbolaan kita.

SUPPORTER INDONESIA CINTA DAMAI

ditulis oleh Helmi Rembol PCSC