Oleh Agung Harsya
Terima kasih untuk kemajuan teknologi informasi. Berkat internet, manusia dapat saling terhubung dan memantau perkembangan informasi terkini meski terpisah jarak ribuan kilometer. Kini, Anda seakan-akan tidak perlu tinggal di Manchester untuk mengintai perkembangan terbaru Cristiano Ronaldo, misalnya. Cukup duduk di depan layar komputer dan semua informasi CR7 tersaji lengkap dalam jagad maya.

Begitu juga dengan aksi anak ajaib — wonderkid — di Eropa. Ilyas Zaidan, misalnya. Bocah berusia enam tahun yang mulai menjajaki karir di akademi PSV Eindhoven ini mampu berlagak tak ubahnya seorang Lionel Messi. Lihat saja akun milik Zaidan di YouTube dan Anda dijamin tercengang!
httpv://www.youtube.com/watch?v=YmOnc0o7lIg

Madin Mohammed (Prancis)

Di Prancis, ada Madin Mohammed. Bocah berdarah Aljazair yang juga baru berusia enam tahun. Kecil-kecil, Madin sudah disebut-sebut sebagai Zinedine Zidane masa depan. Media luar negeripun sudah mengakui reputasinya.
httpv://www.youtube.com/watch?v=V0oNNt7d1gY

Kini, mari kembali sejenak ke dunia nyata. Sepakbola Indonesia hanya manis dalam angan belaka. Padahal, pengalaman pribadi saya membuktikan, seberapapun fanatiknya seorang fans sepakbola, tapi soal timnas Indonesia, hatinya akan tergugah. Sayangnya, sepakbola Indonesia terlalu lama berada dalam ketidakpastian, sehingga semangat para fans berubah menjadi anarkisme dan apatisme.

Tidur panjang sepakbola Indonesia juga terjadi pada pengembangan sepakbola usia dini. Jangan pernah bosan pada pendapat yang mengatakan, tidak ada kompetisi reguler sebagai jenjang pembinaan usia dini dalam sepakbola Indonesia. Itu hal yang pertama. Kedua, dan yang terpenting, tidak ada sistem pembinaan yang pasti.

Pernahkah berangan-angan bakat seperti Ilyas Zaidan dan Madin Mohammed lahir di Indonesia? Kalau Anda percaya pada pendapat ini, Anda orang yang meyakini bakat adalah modal dasar pemain sepakbola.

Atau, mungkin saja Tuhan sudah “berbaik hati” menurunkan bakat sebesar Zaidan dan Mohammed [bahkan mungkin setara Diego Maradona atau Pele, siapa tahu?] ke Indonesia, tapi mereka tersia-siakan karena tidak ada jalur pembinaan yang pasti? Jika sepakat, Anda termasuk golongan yang meyakini bahwa sistem lah yang melahirkan pemain-pemain besar dalam sepakbola.

Dua-duanya mungkin benar. Atau juga salah. Meski sebenarnya di bidang lain Indonesia juga memiliki wonderkid. Contohnya, Aston Taminsyah, yang pernah menjadi juara dunia catur saat berusia delapan tahun, 2005 silam. Mungkin anak-anak Indonesia memang bernasib lebih beruntung di cabang olahraga lain kecuali di lapangan hijau.

Tapi, seandainya jika sepakbola usia dini Indonesia berjalan dengan tepat, bisa saja tidak akan ada lagi anak-anak di bawah umur yang lebih sering menghabiskan waktu di jalanan. Tidak ada lagi yang meminta-minta, mengamen, atau bahkan menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Bukankah sebagian besar pemain hebat Brasil dibesarkan dalam lingkungan miskin? Berapa banyak pula lapangan kerja yang akan tersedia seiring terbukanya kesempatan dalam pengembangan sepakbola usia dini nasional.

Sayangnya, sejauh ini harapan tersebut belum terwujud. Mudah-mudahan PSSI mulai berpikir untuk mengembangkan pembinaan pemain muda selain proyek pengiriman pemain untuk berlatih ke luar negeri. Mudah-mudahan fans mulai mengagumi dan dapat pula tercengang pada kemampuan yang dimiliki wonderkid asli Indonesia. (goal.com/id-ID)